Hits: 6
Malikul Saleh Azhari
Pijar, Medan. Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia setiap tanggal 31 Mei kembali menjadi momen refleksi bagi semua orang. Ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) sejak tahun 1987, peringatan ini awalnya dilakukan untuk menarik perhatian soal bahaya dan dampak mematikan dari tembakau. Namun, seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, gaya hidup dalam mengonsumsi nikotin telah banyak berubah, termasuk di kawasan pendidikan seperti universitas.
Saat ini, masalah tembakau bukan lagi soal penyakit akibat rokok biasa, tetapi sudah menyatu erat dengan pergaulan anak muda. Kampanye anti-rokok yang selama ini berjalan kini menghadapi tantangan baru, yaitu makin banyaknya pengguna rokok elektrik atau vape. Produk ini sering dianggap lebih aman dan punya banyak pilihan rasa, sehingga akhirnya dinormalisasi dan menjadi tren biasa dalam pertemanan sehari-hari mahasiswa.
Perubahan kebiasaan ini menjadi perhatian serius di dunia kesehatan. Anggapan bahwa vape lebih aman dari rokok konvensional secara tegas dibantah oleh Dokter Spesialis Paru, Erlina Burhan, dalam salah satu sesi gelar wicara di CNN Indonesia. Beliau meluruskan miskonsepsi tersebut dan memaparkan ancaman nyata dari kandungan vape bagi tubuh.
“Saya ingin meluruskan sedikit bahwa anggapan vaping atau vape itu tidak bahaya, [sebenarnya benda] itu tetap bahaya. Vape tetap ada nikotin, masih ada nikotin yang merupakan addictive agent yang bikin kita kecanduan. Kemudian juga ada zat-zat kimia yang terkandung di dalamnya, meskipun tidak sebanyak rokok konvensional, tetapi tetap ada. Bahkan mengandung logam berat yang aerosolnya jika dihisap dapat mencederai dan menimbulkan gangguan pada saluran pernapasan,” ujarnya.
Kenyataannya, di lingkungan kampus pun terdapat beberapa mahasiswa yang sejalan dengan kekhawatiran tersebut, khususnya bagi mahasiswa yang menjadi perokok pasif di ruang komunal. Rani, seorang mahasiswi non-perokok asal Fakultas Kesehatan Masyarakat, menceritakan keluhannya saat berkumpul bersama teman-temannya.
“Jujur, tantangannya sekarang jauh lebih susah, sih. Dulu kalau ada yang merokok biasa, kita gampang menegur atau pergi karena baunya menyengat. Sekarang, banyak yang santai saja nge-vape di jalan atau tempat nongkrong karena merasa asapnya wangi buah. Padahal bagi kami yang non-perokok, kepulan uap itu tetap bikin sesak dan mengganggu banget,” keluhnya.
Melihat kondisi ini, menurutnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia harus dimaknai dengan cara baru. Kampanye edukasi yang ada perlu disesuaikan dengan bahasa dan gaya anak muda sekarang, agar mereka sadar bahwa paparan nikotin, maupun dalam bentuk rokok biasa ataupun vape yang kekinian, tetaplah ancaman nyata bagi kesehatan bersama.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

