Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) bertema kesetaraan gender di SMAS Al-Manar Medan. Kegiatan ini berfokus pada pemahaman stereotip gender yang memengaruhi pilihan jurusan kuliah.
Rosmalinda merupakan seorang dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Sumatera Utara (USU) yang telah berdedikasi sejak tahun 2008. Sosok akademis ini menyandang gelar S-1 dan S-3 di lingkungan FH USU serta mendapatkan S-2 dari Groningen University, Belanda. Tidak hanya cemerlang secara akademik, beliau juga aktif sebagai pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) terlebih pada kelompok marginal.
Perguruan tinggi merupakan salah satu wadah yang tepat untuk mewujudkan pendidikan kesetaraan gender, misalnya melalui organisasi mahasiswa. Sebagai mahasiswa yang merupakan kaum terpelajar seharusnya berperan sebagai agen perubahan menyuarakan nilai-nilai demokrasi dan kesetaraan hak antarsesama, salah satunya kesetaraan gender. Salah satu pertanyaan penting yang muncul adalah “apakah perempuan kerap menjadi pemimpin di organisasi mahasiswa?”
Dalam rangka mendorong dan mengoptimalkan kesetaraan gender, Himpunan Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik (HUMANISTIK) Universitas Brawijaya (UB) turut mengadakan Public Woman Class 2022 (PWC 2022) dengan tema ”Realizing Sustainable Development by Supporting Gender Equality”
Hingga kini isu mengenai Tuberkolosis masih menyelimuti dunia. Salah satu penyakit pernapasan ini tengah diupayakan untuk diberantas oleh berbagai organisasi kesehatan dan kementerian kesehatan Indonesia. Selain isu kehadirannya yang tak kunjung usai, Tuberkolosis juga mengandung banyak permasalahan tersembunyi yang masih kurang dilirik oleh berbagai pihak khususnya jurnalis.
Aprilia Manganang, seorang mantan atlet voli putri yang namanya sudah melambung tinggi. Sebelum akhirnya sah mengganti nama menjadi Aprilio Perkasa, atlet voli yang kini menjadi prajurit TNI AD ini telah melalui banyak pasang surut di kehidupannya.
Perempuan harus sejajar dengan laki-laki bukan tentang kompetisi, tetapi untuk menghilangkan stereotype terhadap perempuan yang ada di masyarakat karena kita tidak hanya memerangi bias gender, tetapi juga radikalisasi, kekerasan seksual, dan perundungan dalam pendidikan.
Belakangan ini kata toxic banyak dipakai oleh kalangan milenial untuk menjelaskan sesuatu yang menyusahkan dan merugikan orang lain. Mulai dari istilah toxic relationship, toxic positivity, hingga toxic masculinity yang menggambarkan deskripsi sempit tentang ‘kejantanan’.
Awalnya, toxic masculinity ini lahir dari konstruksi sosial masyarakat patriarkis, mengacu pada perilaku dan sikap kasar yang dikaitkan dengan lelaki. Istilah ini muncul pertama kali pada tahun 1990 yang dikemukakan oleh pakar psikologis, Shepherd Bliss.
