Hits: 75
Lovia Keisha / Mhd Aditya Akbar / Alya Farisah Nasution/ Najmi Jogina Putri / Anggun Natasya Sinambela / Juan Antonio Aritonang / Aldo Putra Jaya Laia / Gracce Leoni Br Tarigan / Rahmi Ramadhani Simatupang / Chelsea Sari Sofyan / Syifa Fadya Febriani / Jovita Almina Barus / Bayatul Muna / Erikjon Sinamo /Tessalonika Christmas / Tiara Eka Putri / Chyntia Chantika / Ronni Manurung / Haura Fahimah Az Zahrah
Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) bertema kesetaraan gender di SMAS Al-Manar Medan. Kegiatan ini berfokus pada pemahaman stereotip gender yang memengaruhi pilihan jurusan kuliah. Proyek ini melibatkan 19 mahasiswa dengan dukungan dosen fasilitator dan mentor, serta dilaksanakan langsung di sekolah melalui sesi materi dan aktivitas partisipatif pada Rabu (29/10/2025).
Sebelum kegiatan dilaksanakan, mahasiswa USU lebih dulu menyusun proposal, melakukan pengecekan kebutuhan sekolah, dan membagi tugas di dalam kelompok. Setelah itu, mereka berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk menyepakati bentuk kegiatan dan waktu pelaksanaannya. Seluruh proses ini menjadi cara bagi mahasiswa untuk menerapkan teori tentang kesetaraan gender dalam keadaan yang nyata.
SMAS Al-Manar Medan dipilih karena keberagaman siswa yang dianggap relevan untuk mengkaji pembentukan dan dampak stereotip gender di lingkungan sekolah. Dalam kegiatan inti, mahasiswa memaparkan materi mengenai stereotip gender, serta mengajak siswa mendiskusikan dampaknya terhadap pilihan pendidikan. Siswa kemudian mengikuti kuis interaktif sebagai metode untuk memperkuat pemahaman mereka mengenai isu yang dibahas.
Salah satu kegiatan yang mendapatkan respons positif adalah pembuatan majalah dinding menggunakan sticky note. Siswa diminta untuk menuliskan pesan yang menekankan pentingnya memilih jurusan berdasarkan minat dan kemampuan pribadi, bukan berdasarkan batasan gender. Aktivitas ini menjadi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan pandangan, sekaligus merefleksikan potensi diri mereka.
Proyek ini didampingi oleh Salliyanti, selaku dosen fasilitator, serta Oktavia Rezeki Anggreni Silaen sebagai mentor. Dosen menilai kegiatan tersebut sebagai implementasi pembelajaran berbasis proyek, yang memungkinkan mahasiswa menerapkan teori dalam konteks nyata, serta mengembangkan empati, kemampuan bekerja sama, dan keterampilan pemecahan masalah.
Berdasarkan survei lapangan, sebagian siswa masih mengaitkan jurusan tertentu dengan jenis kelamin. Namun, banyak siswa yang menempatkan minat dan kemampuannya sebagai faktor utama dalam menentukan arah studi. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan sekolah, guru, dan keluarga tetap diperlukan untuk membantu siswa mengambil keputusan yang bebas dari bias gender.
Salah satu guru SMAS Al-Manar memberikan tanggapan mengenai kegiatan tersebut.
“Jujur saja, banyak anak di sini sebenarnya sudah tahu apa yang mereka suka, cuma mereka takut salah pilih karena masih ragu-ragu. Setelah kegiatan ini, saya lihat mereka lebih terbuka untuk ngomong soal jurusan yang benar-benar mereka mau. Saya senang karena mereka mulai percaya diri buat ambil keputusan sendiri,” ucapnya.
Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran siswa terhadap bias gender dalam dunia pendidikan, serta mendorong terciptanya lingkungan belajar yang lebih setara dan tanpa pengecualian.

