Tiga bulan purnama telah berlalu semenjak Alis meninggalkan kota kecil yang biasa ia panggil rumah. Hari demi hari ia lewati dengan rasa hampa. Berlembar-lembar kertas ia coret untuk menuliskan surat kepada keluarga di kampung halamannya. Tidak terhitung berapa tetes air mata yang telah jatuh sejak hari pertama ia pindah ke kota besar, Jakarta.
Rumah itu masih berdiri di ujung gang, cat dindingnya mulai mengelupas, memperlihatkan lapisan lama yang pernah lebih cerah. Pagar besinya berderit setiap kali disentuh angin. Halamannya dipenuhi daun kering yang tidak pernah benar-benar habis, meski hampir setiap pagi disapu.
“Mas Aji, paket saya kapan sampai ya?”
“Mas, surat saya sudah sampai?”
Dari salah satu sudut Kota Jakarta, kalimat-kalimat tersebut seolah sudah menjadi sapaan hangat yang tidak asing lagi bagi seorang pria muda berkulit coklat dengan senyuman manis di wajahnya.
Hits: 29Zoraya Balqis Kriing! Alarmku berdering lebih nyaring pagi ini. Setidaknya, alat ini menjadi alat tempur untuk melawan si Nomor…
Hits: 16Desy Setiawati Malam itu terasa begitu sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang menemani pikiranku yang terus berputar. Aku…
“Kael! Kael! Bangun atau Bibi Seren akan datang dengan seember airnya!” teriak perempuan kecil dengan rambut kepang dua khas miliknya itu, sembari menggoyang-goyangkan tubuh sang empunya nama.
Pintu ruangan itu sudah terbuka lebar. Sebuah pertanda bahwa kegiatan di dalamnya telah usai. Semua orang keluar satu per satu dengan wajah yang berbeda-beda. Ada yang ceria karena saatnya pulang, ada yang lesu karena lelah, dan ada yang semakin lusuh karena ada target yang harus dicapai dua minggu ke depan.
Thalassa. Nama yang diwariskan kepadaku dari mendiang ibuku yang kerap dijuluki “Sang Pelaut Giat”. Mulanya, aku sangat menyukai nama tersebut. Hingga tiba saatnya, aku menginjak bangku SMA dan teman-temanku terus memanggil “Talas” ketika aku menyusuri lorong kelas. Toh, ga salah juga.
Sejak kecil, cita-cita Hartono sudah jelas: ia ingin masuk ke dunia hukum. Baginya, ‘keberanian itu ada di pikiran, sedangkan keadilan ada di hati’.
Dikenal sebagai siswa paling rajin dan disiplin di sekolah, Lisa, si anak SMA yang baru duduk di kelas 11 terpaksa harus menjadi “target empuk” para pembuli. Semua bermula dari insiden kelas minggu lalu.
