Hits: 19

Desy Setiawati

Malam itu terasa begitu sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang menemani pikiranku yang terus berputar. Aku duduk di depan meja belajar, menatap ponsel yang tergeletak diam di samping buku-buku yang belum sempat kubuka. Rasanya berat. Sulit sekali ketika merasa bersalah, tapi tidak tahu bagaimana cara meminta maaf.

Jemariku bergerak pelan, membuka kolom pesan yang sudah lama tak kusentuh. Ada satu nama yang kutatap cukup lama sebelum akhirnya kutulis pesan dengan ragu.
“Malam, apa Galang sudah tidur?” ketikku.

Pesan itu kukirim dengan tangan gemetar. Ia adalah seseorang yang sudah kugantung perasaannya hampir setahun. Aku yang dulu sering membiarkan pesannya tanpa balasan, yang pura-pura sibuk ketika dirinya datang menanyakan kabarku. Kini, malam yang sepi ini justru membuatku berani mengetik sesuatu yang sudah lama ingin kusampaikan.

Tak sampai satu menit, ponselku bergetar.

“Oh, malam Tia. Tumben chat malam begini,” balasnya cepat.

Aku terdiam, dadaku berdebar kencang. Aku tak menyangka, ia masih mau membalas pesanku.
“Engga, kok. Aku cuma mau nanya kabar Galang. Kupikir kamu engga bakal balas chat aku,” balasku ragu.

“Galang baik-baik aja. Kamu sendiri gimana, Tia?” jawabnya singkat.

Aku tersenyum kecil, tetapi rasanya perutku seperti dipelintir. Malam Februari ini terasa dingin, tetapi bukan udara yang membuatku menggigil. Ini tentang keberanian untuk menurunkan ego yang selama ini terlalu tinggi. Aku menarik napas dalam, lalu mulai mengetik lagi.

“Sebenarnya aku cuma mau minta maaf, Galang. Aku sadar selama ini banyak salah. Aku nyesel udah bikin kamu kecewa.”

Pesan itu kukirim, lalu kulempar ponsel ke kasur. Aku menatap langit-langit kamar, menunggu dengan cemas. Beberapa detik terasa seperti satu jam. Lalu, suara notifikasi terdengar. Aku buru-buru mengambil ponsel dan membaca pesannya.

“Engga apa-apa, Tia. Dari dulu juga aku udah maafin.”

Mataku panas. Ada perasaan lega yang pelan-pelan menyelinap di dada. Kata-katanya sederhana, tetapi dalam. Ia memaafkanku, meski dengan cara yang membuatku sadar: maaf bukan berarti semuanya kembali sama. Aku hanya bisa terdiam, menatap pesan itu lama sekali.

“Jadi… kita bisa memperbaiki hubungan ini?” ketikku lagi, ragu-ragu. “Aku janji, Galang. Aku akan berubah dan engga ngulangin kesalahan yang sama.”

Balasan datang beberapa saat kemudian.
“Iya, Tia. Galang juga mau hubungan kita baik lagi.”

Malam itu menjadi malam yang paling berarti bagiku. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar lega setelah sekian lama menahan perasaan bersalah.

DRRINGGG.

Ponselku berdering tepat pukul lima pagi. Itu telepon dari Galang. Dulu, ia selalu menelepon untuk membangunkanku agar tidak kesiangan berangkat sekolah. Aku tersenyum kecil. Sudah lama sekali aku tak mendengar suaranya di pagi hari.

“Halo,” ucapku pelan.
“Oh, bagus. Tia udah bangun. Jangan lupa salat, mandi, sarapan, terus berangkat sekolah, ya,” katanya dari telepon.
“Hehe, iya. Baik, Pak Galang,” jawabku sambil tertawa kecil.

Suara tawanya menyusul. Hangat, akrab, dan membuatku merasa seperti dulu lagi. Kami memang beda sekolah, tetapi sejak malam itu, hubungan kami membaik. Kami mulai sering bercerita, belajar bareng di kafe, dan kadang main rubik bersama tiap akhir pekan.

Meski hanya bertemu seminggu sekali, rasanya cukup. Hubungan kami tak lagi penuh gengsi, tetapi saling memahami. Aku belajar bahwa hubungan yang baik bukan tentang seberapa sering bertemu, tetapi seberapa tulus dua orang saling menjaga.

Malam itu, aku akhirnya belajar meminta maaf, bukan hanya pada Galang, tetapi juga pada diriku sendiri.

Leave a comment