Hits: 31
Indra Rana Zafira Silaban
“Mas Aji, paket saya kapan sampai ya?”
“Mas, surat saya sudah sampai?”
Dari salah satu sudut Kota Jakarta, kalimat-kalimat tersebut seolah sudah menjadi sapaan hangat yang tidak asing lagi bagi seorang pria muda berkulit coklat dengan senyuman manis di wajahnya. Dengan motor kesayangannya bernama “Si Cucur”, pria tersebut menempuh perjalanan mengelilingi kota untuk menjalankan tugasnya sebagai Pak Pos. Pemuda tersebut bernama Aji atau biasa akrab disapa dengan sebutan “Mas Aji”.
Bagi Aji, bekerja sebagai Pak Pos selama kurang lebih tiga tahun, tentunya memberikan kesan tersendiri baginya. Namun, selama tiga tahun bekerja, di antara tumpukan surat dan paket yang ia kirim, ada satu hal unik terjadi pada dirinya, yaitu memiliki pelanggan yang luar biasa setia. Kesetiaan pelanggan tersebut mampu membuatnya terkadang kebingungan.
“Mas Aji, halo! Hari ini aku mau kirim surat lagi,” ujar seseorang menyapa indra pendengaran Aji yang sedang melintasi rumahnya.
Aji yang dipanggil pun menghentikan “Si Cucur” di halaman rumah yang penuh dengan bunga-bunga melati tersebut dan turun untuk membalas sapaan seseorang tadi.
“Mas Aji, Iyan mau kirim lima surat hari ini, boleh?” ucap seseorang tersebut dengan mata penuh binar menatap Aji.
Senyuman terpatri di wajahnya sambil menyamakan tingginya dengan seseorang yang sejak tadi memanggil namanya.
“Boleh Iyan. Sini suratnya. Kali ini mau dikirim ke mana?” tanyanya pada seseorang yang dipanggil Iyan tersebut sambil melihat-lihat lima surat itu.
“Tempat yang sama ya, Mas,” ucapnya sambil menggoyangkan tangan Aji dengan binar harap dan memohon.
Mendengar ucapan tersebut, Aji memberikan tatapan yang sulit diartikan, tetapi hanya beberapa detik sebelum ia membalas dengan anggukan dan senyuman ramah.
“Oke, Iyan. Ada lagi yang mau kamu kirim?” pertanyaannya dibalas gelengan dan ucapan terima kasih dari seseorang yang dipanggil Iyan tersebut.
Rumah dengan pekarangan penuh melati tersebut menjadi tempat terakhir yang ia datangi untuk tugas hari itu. Aji kembali ke kantor pos tempat ia bekerja dan berjalan menuju bilik penyimpanannya yang penuh dengan surat-surat milik Iyan.
Aji berpikir keras hingga kerutan melintang di dahinya. Sebenarnya sudah sejak lama Aji penasaran dengan cerita di balik surat-surat misterius tersebut, tetapi ia ragu untuk mencari tahu lebih lanjut.
Bagi Aji, nama Iyan sudah tidak asing lagi. Iyan dengan nama asli Rian, merupakan seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang tinggal berdua dengan neneknya di sudut kota tempat Aji menjalankan pekerjaannya. Selama satu tahun terakhir, ia telah ditetapkan sebagai pelanggan layanan pos yang setia dengan tumpukan suratnya dengan sampul corak berwarna.
Hingga pada suatu minggu di hari Sabtu, ia memutuskan untuk mampir berkunjung ke rumah Iyan menemui neneknya. Aji berpikir mungkin tidak ada salahnya ia bertanya kepada nenek yang mungkin mengetahui alasan di balik surat-surat yang tidak pernah sampai tersebut.
Kedatangannya tersebut mendapat sapaan hangat dari sang nenek dan raut wajah terkejut tapi bahagia dari Iyan.
“Mas, kok tumben ke sini? Ini kan bukan hari Kamis, jadi Iyan belum tulis surat-suratnya,” ucap Iyan dengan nada heran dan wajah sedikit redup.
Nenek yang baru saja datang dari dapur sembari membawa minum untuk Aji, membalas ucapan cucunya, “Iyan, biarin Masnya minum dulu ya. Jangan langsung kamu tanya-tanya. Lagi pula Mas Aji ke sini tidak hanya untuk surat, bisa saja ada keperluan lain.”
Aji yang mendengar hal tersebut dan melihat raut wajah Iyan yang sedikit murung, mencoba memberinya pengertian.
“Iyan, Mas ke sini ada perlu sama nenek. Jadi, ga apa-apa kok kalau Iyan belum tulis suratnya. Jadwalnya setiap hari Kamis, kan?” ucapannya tersebut dibalas anggukan ringan oleh Iyan yang kemudian berlalu ke kamarnya untuk membiarkan nenek dan Aji berbicara.
“Jadi, udah berapa banyak surat dari Iyan yang buat kamu bingung, Ji?”
Pertanyaan tersebut membuat Aji terkejut karena tidak menyangka bahwa nenek langsung bertanya tepat pada tujuannya datang ke rumah itu.
“Cukup banyak, nek.” Ucapannya tersebut dibalas anggukan oleh nenek sambil memusatkan seluruh perhatiannya ke Aji.
“Aji, maaf ya kalau cucu saya merepotkan kamu satu tahun terakhir ini. Saya sudah mencoba memberinya pengertian, tetapi tidak bisa. Saya tahu kamu mau bertanya apa,” helaan nafas terdengar berat dari wanita berumur tersebut.
“Sejak satu tahun, Iyan tinggal dengan saya dan bundanya. Bundanya sangat bekerja keras untuk bisa memenuhi kebutuhan Iyan. Namun, Desember tahun lalu bunda Iyan mengalami kecelakaan yang menewaskannya. Waktu itu, dia tidak mengerti bahwa bundanya telah tiada,” jelas nenek mencoba mengingat keadaan pilu yang merubah hidup cucunya tersebut.
“Nek, kenapa bunda tidur ditutup kain putih? Kok diam aja dari tadi Iyan panggil?”
“Nek, kata Bu Dewi, Bunda udah pergi selamanya. Bunda pergi ke mana ya nek?”
Kisah pilu tersebut membuat Aji tanpa sadar meneteskan air matanya. Melihat hal tersebut, nenek hanya bisa tersenyum sendu dan mengambil salah satu surat Iyan yang dibawa oleh Aji.
“Hingga kini, Iyan masih menganggap bahwa Bunda belum pulang karena pergi ke Desa Kenari, desa khayalan yang selalu diceritakan Bundanya sebelum Iyan tidur. Iyan berpikir dengan mengirimkan surat-surat tersebut, bundanya akan pulang dan hal ini rutin dilakukan pada hari Kamis karena bundanya pergi di hari itu.”
Hening sejenak di antara keduanya sebelum nenek melanjutkan kembali pembicaraannya.
“Aji, baca saja surat-surat tersebut kalau kamu penasaran, tidak apa. Saya meminta maaf sekali sama kamu yang sudah repot menuruti permintaan Iyan.”
“Tidak apa-apa, Nek. Aji turut berduka cita atas kejadian tersebut, Nek.” Nenek tersenyum mendengar ucapannya.
“Terima kasih, Aji. Semoga kamu sukses selalu ya,” ucap nenek dengan penuh harapan.
Setelah pertemuan tersebut, tidak ada Aji yang selalu menerima surat dari Iyan di setiap hari Kamis lagi. Bahkan, Iyan sudah menunggu seharian untuk melihat Aji melewati rumahnya seperti biasa, tetapi hasilnya nihil. Penantian tanpa kehadiran tersebut berlangsung selama tiga bulan sampai di bulan Desember.
Saat Desember tiba tepatnya di hari Kamis, Aji hadir kembali sebagai Pak Pos dan melaksanakan rutinitasnya. Namun, ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Ketika ia melewati rumah Iyan, tidak ada sapaan hangat dari bocah laki-laki dengan surat bersampul corak di tangannya untuk diberikan padanya.
Melihat hal tersebut, Aji mencoba bertanya pada tetangga sebelah rumah Iyan.
“Bu, permisi. Iyan dan nenek ke mana ya? Lagi pergi, kah? Rumahnya kosong sekali.”
Bu Dewi, tetangga Iyan memberikan senyum teduh kepada Aji sebelum menjawab.
“Nenek sudah meninggal satu bulan yang lalu, Ji. Sehari setelah nenek meninggal, Iyan dibawa oleh paman dan bibinya untuk tinggal bersama mereka. Dia selalu nungguin kamu. Ini surat-surat yang dititipkan sama saya untuk diberikan ke kamu sebelum dia pergi.”
Mendengar itu, Aji tidak kuasa menahan rasa terkejut dan segera mengambil surat-surat tersebut lalu pergi setelah mengucapkan terima kasih kepada Bu Dewi.
Aji kembali ke kantor pos dan bergegas mengeluarkan surat-surat milik Iyan di bilik penyimpanannya. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mencoba membuka dan membaca surat-surat tersebut satu persatu. Dari puluhan surat yang ia baca, ada satu surat yang meruntuhkan pertahanan air matanya yang sejak tadi ia tahan.
Kamis, 20 November
Bunda! Apa kabar? Bunda kapan pulangnya? Bulan depan Iyan ulang tahun, Iyan mau Bunda di sini terus kita tiup lilin banyak-banyak. Nanti nenek beli kue coklat, nenek udah janji!
Bunda, jangan lama-lama di Desa Kenarinya. Kenapa bunda ga ajak Iyan sih ke sana? Iyan kan juga mau lihat-lihat buah kenari sama Bunda.
Bunda, bulan depan Iyan udah enam tahun. Nenek bilang, nanti waktu ulang tahun kami mau ke makam Bunda untuk rayain di sana bareng-bareng. Kenapa ke kuburan, bun? Kan bunda masih kerja dan pergi sebentar ke Desa Kenari karena Bunda bilang kalau Bunda pulangnya lama itu artinya Bunda ke Desa Kenari untuk panen buah kenari untuk Iyan. Bunda udah selesai ambilnya? Kalau udah, cepat pulang ya Bunda. Iyan mau cium Bunda banyak-banyak hehe.
Iyan sayang Bunda
~Iyan
Sejak itu, Aji diselimuti rasa bersalah dan mencoba untuk mencari informasi tentang keberadaan Iyan, tetapi tidak ada satu pun informasi yang ia dapatkan. Hingga dua belas tahun berlalu, tidak ada lagi surat dengan sampul bercorak khas yang ia terima setiap hari Kamis.
Namun, pada suatu hari, saat ia sedang sibuk mengurus paket-paketnya, ia dikejutkan dengan seseorang yang ingin bertemu dengannya dan semakin terkejut pula melihat siapa yang menemuinya.
“Mas Aji! Lama ga jumpa! Apa kabar, Mas? Masih ingat sama Iyan, kan?”
Iyan, anak laki-laki kecil yang dulunya selalu memberi surat di hari Kamis untuk Aji kirimkan kini berdiri di depannya dengan tubuh yang semakin tinggi dan perawakan khas remaja.
“Iyan, kamu ke mana aja? Maafin Mas Aji ya waktu itu hilang tiga bulan dan ga bisa terima surat-surat kamu. Waktu itu, Mas balik ke kampung untuk ngurusin suatu hal,” ucap Aji dengan sesal.
“Ah, ga apa loh, Mas. Iyan paham kok. Lagi pula kerjaan Mas kan juga banyak dan kalau dipikir-pikir dulu Iyan banyak repotin Mas ya? Maaf dan makasih banyak ya Mas udah mau nurutin anak lima tahun itu.”
Aji yang mendengar tersebut membalas dengan pelukan untuk Iyan. Ia rindu sekali dengan anak laki-laki yang penuh surat-surat di hari Kamis tersebut. Pelukan tersebut terasa hangat hingga tiba-tiba Iyan kembali berbicara yang membuat Aji sedikit terkejut.
“Hari ini kan hari Kamis ya, Mas. Iyan ga mau kirim surat-surat lagi, tapi mau ajak Mas ke suatu tempat. Mas, lagi sibuk?”
“Boleh Iyan tapi bisa tunggu sekitar lima belas menit lagi? Mas masih harus data paket sedikit lagi.” Ucapan Aji tersebut hanya dibalas Iyan dengan anggukan dan mempersilakan si Pak Pos tersebut menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah lima belas menit berlalu dan menempuh perjalanan sekitar 30 menit, kini mereka telah sampai ke tempat yang dimaksud Iyan. Iyan meletakkan rangkaian bunga krisan putih di atas gundukan tanah dengan papan yang bertuliskan satu nama.
Adinda Lasari
15 Desember 2015
“Mas, kenalin ini Bunda. Bunda, kenalin ini Mas Aji, orang yang selalu aku ceritain ke Bunda. Mas Aji yang terima surat-surat aku padahal suratnya ga akan pernah sampai.” Ucapan tersebut diakhiri tawa kecil yang sendu dari Iyan.
“Mas Aji, aku udah berhasil ketemu bunda walaupun hanya bisa meletakkan bunga krisan putih ini di sini. Aku kangen banget sama bunda Mas, tapi aku yakin bunda di sana pasti udah bahagia. Jangan-jangan bunda udah makan buah kenari duluan di sana.” Ucapan-ucapan Iyan tersebut membuat Aji terenyuh dan mengulurkan tangan mengelus bahunya untuk menguatkannya.
“Iya Iyan, Bunda kamu di sana pasti sudah bahagia. Iyan juga harus bahagia juga di sini, ya? Nanti kalau tiba waktunya, Iyan sama Bunda dan juga Nenek pasti akan bertemu kembali.”
Iyan kemudian membalas sembari mengelus papan nama Bundanya.
“Iya, Mas. Iyan akan selalu berusaha untuk terus bahagia di sini.”
Hening sejenak hanya diisi oleh sapuan angin dan gesekan daun di pohon sekitar sebelum akhirnya keheningan tersebut dipecahkan oleh kalimat Iyan.
“Kalau Bunda udah bahagia di sana, itu artinya surat-surat aku udah disampaikan Tuhan ke Bunda kan ya, Mas?”
“Iya, Iyan. Surat-surat kamu pasti udah sampai ke Bunda lewat kiriman Tuhan.”

