Hits: 31
Siti Farrah Aini
Pintu ruangan itu sudah terbuka lebar. Sebuah pertanda bahwa kegiatan di dalamnya telah usai. Semua orang keluar satu per satu dengan wajah yang berbeda-beda. Ada yang ceria karena saatnya pulang, ada yang lesu karena lelah, dan ada yang semakin lusuh karena ada target yang harus dicapai dua minggu ke depan.
Ruangan perlahan sepi, menyisakan satu perempuan yang dikenal oleh hampir seluruh staf perusahaan penerbitan buku di Jakarta itu.
Padanan kemeja, celana bahan jeans, sneakers putih, dan yang paling mencolok: rambut kepang satu, resmi menjadi ciri khas Jeje, seorang staf marketing yang tepatnya staf media sosial perusahaan. Ia terkenal dengan sifat yang ceria, gaya yang tomboi, dan terbuka ke semua orang. Namun, tidak ada Jeje yang ceriwis sore ini, melainkan Jeje yang lesu dan sedang meletakkan kepala di atas meja.
Sebenarnya, Jeje bukanlah satu-satunya orang di ruangan itu. Tepat di depan pintu, ia sudah ditunggu oleh seorang laki-laki yang sudah seperti “perangko dan surat” dengannya.
“Dhit, aku tahu kamu udah di depan pintu, tetapi sebentar lagi, ya. Kepalaku enggak kuat mikirin semua target dua minggu ke depan,” ujar Jeje masih dengan kepala di atas meja.
“Aku mau makan soto di Menteng. Oh, enggak mau ikut, ya? Oke, aku tinggal.”
“Dhit! Aku ikut!”
Jeje punya kelemahan, yaitu makanan. Apalagi, Soto Betawi di Menteng.
“Gimana? Kepalanya sudah sanggup buat mikir?” tanya Ardhito dengan alis naik turun.
“Udah! Kapan aku ngomong kepalaku udah limit untuk mikir?” sahut Jeje dengan melahap puas Soto Betawi.
“Giliran makan soto baru semangat. Mana udah dua mangkok,” ujar Ardhito lagi dan mendapat cengiran dari Jeje, “iya iya, habisin, gih.”
Jika Jeje adalah orang yang dikenal oleh hampir semua orang karena sifatnya, Ardhito dikenal karena hasil tangannya yang memukau. Sebagai desainer grafis perusahaan, Ardhito menghabiskan banyak waktu di dalam ruangan. Keluar untuk ke pantry, ruangan yang lain, atau pulang. Jikalau lembur, ia bahkan tidak terlihat beranjak seinci pun dari ruangannya. Tak banyak yang tahu sosok Ardhito, selain lewat hasil desainnya yang selalu memanjakan mata.
“Aku harus cari inspirasi konten yang beda dari yang udah pernah dibuat. Syukur, sih, buku-buku kita pada cetak ulang karena penjualan naik. Cuma aku jadi mutar otak buat mikirin ide kontennya. Kalau udah mau akhir bulan, bukan cuma kantong yang buntu, pikiran juga buntu,” adu Jeje.
Ardhito menggangguk-angguk paham. “Nanti aku bantu kamu cari idenya, ya. Kamu udah ada kepikiran?”
“Udah! Jadi, idenya itu…”
Jeje terus mengoceh tanpa jeda untuk menjelaskan ide brilian yang terpikirkan selama perjalanan. Ardhito tersenyum kecil. Ia sudah tahu kalau Jeje selalu memiliki ide sebuntu apa pun. Hanya saja, butuh sedikit dorongan agar perempuan berambut kepang satu itu memiliki motivasi lagi. Misalnya, Soto Betawi dan sedikit kalimat penenang.
Jeje tampak puas memberi tahu ide yang sudah rampung di kepalanya.
“Nanti temani aku cek lokasi untuk shoot konten, ya?”
Ardhito mengangguk mengiyakan. Ia masih menikmati Soto Betawi yang selalu lezat itu.
“Aku mau tanya, Dhit. Kamu merasa aku orangnya cerewet banget, enggak? Atau aku orangnya terlalu aktif? Terlalu tomboi?” tanya Jeje tiba-tiba.
Ardhito mengernyitkan dahinya, “kenapa topik kamu tiba-tiba berubah?”
Jeje meletakkan sendoknya perlahan. “Enggak, sih. Aku kepikiran ucapan Mas Angga waktu rapat. Dia sempat bercanda soal Bu Anggi yang notice aku minggu lalu dari konten. Katanya, Bu Anggi notice karena aku… orangnya enggak bisa diam dan kelihatan tomboi di konten-konten. Aku kepikiran, aja.”
“Kamu bangga di-notice Bu Anggi, enggak? Kapan lagi dikenal sama pimpinan perusahaan sampai dikasih hadiah? Berarti konten kamu memang bagus. Kamu harus bangga sama diri sendiri, Je. Mas Angga, kan, suka bercanda. Anggap saja itu pujian karena kamu punya ciri khas. Dia pasti juga senang karena timnya sampai dihargai oleh pimpinan perusahaan.”
Jeje terdiam sejenak. Kemudian, ia memandang Ardhito lekat-lekat.
“Dhit, kamu suka sama aku, ya?”
Ardhito sontak tersedak. Ia memukul-mukul dadanya hingga batuknya usai. Jeje menjadi panik, lebih panik karena semua mata sedang tertuju pada mereka.
“Duh, santai, Dhit. Aku bercanda. Habisnya, kamu sering bikin semangat aku balik lagi. Jadi, aku kira… hehe,” ujar Jeje menyodorkan mineralnya yang masih penuh.
Ardhito meraih mineral itu dan meneguk hingga setengah botol.
“Kamu yang bercanda, hatiku yang enggak bercanda, Je,” batin Ardhito.
Bukan sebuah fiktif belaka jika dalam pertemanan laki-laki dan perempuan akan ada satu di antaranya yang memendam perasaan. Dalam setahun terakhir, Ardhito bertanya-tanya tentang perasaan yang mengisi hatinya. Terkadang ia menyangkal, tetapi lebih banyak mengakui bahwa Jeje mengambil tempat di hatinya, entah kapan mulanya.
–
Rabu menjadi hari yang menyenangkan bagi Jeje, tetapi tidak untuk Ardhito. Jika Jeje bisa pulang lebih cepat, Ardhito nyaris lembur setiap Rabu. Terkadang, Ardhito harus diingatkan untuk pulang, meski lebih sering menginap di kantor.
Jam kantor menunjukkan pukul lima sore. Jeje bersorak ria dalam hatinya karena dapat langsung kembali untuk beristirahat. Namun, dari pintu ruangannya yang terbuka, terlihat Ardhito yang sedang berpindah ke sana-sini dengan membawa berlembar-lembar kertas. Entah apa yang dilakukannya, tetapi Jeje yakin kalau Ardhito sedang sangat sibuk, seperti setiap hari Rabu sebelumnya.
Jeje tersadar dari penglihatan intensnya kepada Ardhito.
“Apa aku belikan martabak, ya?” pikir Jeje.
Dengan langkah cepat, ia bergegas menuju area parkiran motor. Ia mengurungkan niatnya untuk pulang. Setelah memutar kunci, ia melajukan motornya menuju kedai martabak langganan Ardhito dekat kantor. Sebuah martabak tipis kering coklat keju menjadi favorit Ardhito yang selalu ia ingat.
Perjalanan pergi dan pulangnya cukup menghabiskan waktu 45 menit. Jeje kembali sampai di kantor yang sudah sepi. Hanya beberapa lampu ruangan yang hidup, salah satunya ruang Ardhito.
Ia kemudian mengetuk pintu ruangan Ardhito dengan pelan.
“Dhit, kamu di dalam?”
Ardhito terkesiap melihat kehadiran Jeje dari balik pintu.
“Masuk, Je.”
“Ta-da! Martabak tipker supaya lebih semangat kerja,” ujar Jeje dengan senyum di wajahnya sambil menutup kembali pintu.
“Makasih, Je. Tumben banget,” ujar Ardhito seraya menerima dan membuka kotak martabak yang masih panas itu. Potongan martabak tipis kering tampak menggugah selera.
“Kamu lembur mulu setiap Rabu. Nah, jadi aku beli martabak. Hitung-hitung supaya semangat lembur, hehe…” tanggap Jeje sambil ikut mencomot sepotong martabak.
Ardhito mengangguk-angguk.
“Kamu makan di sofa aja. Aku harus lanjutin kerjaan.”
“Enggak, aku duduk di sini aja. Aku sekalian nemenin kamu kerja. Jadi, enggak seram-seram amat lah, ya, kerja sendiri di ruangan ini sementara ruangan lain udah pada gelap,” jawab Jeje.
Ardhito tak menanggapi. Hadirnya Jeje di hadapannya memang membuatnya semangat dan tak sendirian, tetapi jantungnya berdegup kencang.
“Kamu bisa kerja kalau aku putar lagu, enggak? Kamu mau request lagu?” tawar Jeje sambil merogoh kantongnya untuk mengambil ponsel.
“Bisa, malah aku memang biasanya putar lagu. Tolong putar lagu Kahitna, ya,” tanggap Ardhito.
Jeje terlihat menggulir layarnya di aplikasi pemutar lagu.
“Oke. Kahitna yang judulnya apa?”
“Cantik,” jawab Ardhito
Jeje mengalihkan pandangannya ke Ardhito.
“H-hah?”
“Lagu yang judulnya ‘Cantik’, Je,” ujar Ardhito.
“O-oh, oke, Dhit,” sahut Jeje yang tampak kikuk sembari mengetikkan judul lagu itu.
“Apaan, sih, Je?” batin Jeje. Ia sedikit merutuki dirinya karena salah menangkap maksud Ardhito.
Lagu yang dinyanyikan oleh Kahitna itu mengalun merdu dalam ruangan. Dua manusia yang ada di ruangan itu tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Jeje melipat tangan di atas meja dan menyembunyikan wajahnya di antara lipatan tangannya. Ia masih dilanda rasa malu. Namun, hal itu terjadi cukup lama hingga lagu selesai. Ardhito menyangka Jeje sudah terlelap.
“Je, kamu tidur?”
Tidak ada jawaban.
“Je? Kamu kalau mau tidur di sofa aja, Je.”
Ardhito tidak mendengar jawaban apa pun dari Jeje. Ia tersenyum kecil sambil meneruskan pekerjaannya.
“Tanpa martabak sekali pun, kamu memang selalu buat aku semangat, Je. Jujur, aku kaget waktu dengar ceplosan kamu waktu kita makan soto. Kirain kamu udah tahu, tetapi aku sadar kalau kamu doyan buat bercanda. Nanti ya, Je, aku janji bakal jujur ke kamu. Apa pun jawaban kamu, itu hak kamu,” ujar Ardhito.
Ardhito belum menyadari satu hal. Bahwa Jeje tidak terlelap sama sekali, mendengar semua perkataannya dengan jelas, dan jantungnya ikut berdegup kencang.

