Hits: 7

Fatiha Fayza

Rumah itu masih berdiri di ujung gang, cat dindingnya mulai mengelupas, memperlihatkan lapisan lama yang pernah lebih cerah. Pagar besinya berderit setiap kali disentuh angin. Halamannya dipenuhi daun kering yang tidak pernah benar-benar habis, meski hampir setiap pagi disapu.

Di dalamnya, seorang pria sedang menjalani kegiatan sehari-harinya. Namanya Arman, dia adalah ayah sekaligus kepala keluarga, setidaknya dulu.

Ia bangun sebelum matahari benar-benar naik. Langkahnya pelan, menyeduh teh dan duduk di meja makan seperti pagi-pagi sebelumnya.

Tangannya hanya memegang cangkir itu, merasakan hangat yang perlahan berkurang. Seperti ada sesuatu yang ingin ia pertahankan, tapi tidak pernah berhasil.

“Lila, tehmu nanti dingin,” ucapnya pelan.

Ia menunggu.

Tidak ada yang menjawab.

Di sisi lain meja, satu kursi lagi sering ia lirik.

Kosong, tapi tidak terasa asing.

Dulu, pagi tidak pernah sesunyi ini.

Selalu ada suara langkah kecil yang berlari di lantai, diikuti tawa yang terlalu keras untuk ukuran rumah sekecil itu.

“Yah, ayo bangun!”

Arman sering berpura-pura kesal karena selimutnya yang ditarik paksa. Tapi senyumnya selalu muncul lebih dulu.

Ia mengangkat anaknya, membawanya ke dapur.

Dan di sana, Lila sudah menunggu dengan rambutnya belum sepenuhnya rapi. Ada sisa lelah di wajahnya, tetapiselalu ada cara ia tersenyum yang membuat rumah itu terasa utuh.

Mereka selalu sarapan dengan menu yang sederhana di meja makan dan dipenuhi percakapan kecil, membuat suasana terasa hangat.

“Kemarin waktu main bola di lapangan sama Bima, aku jatuh tapi nggak nangis. Aku hebat kan, Yah?”

Anaknya selalu punya cerita. Tentang teman, permainan, tentang hal-hal yang mungkin akan dilupakan keesokan harinya, kecuali oleh Arman.

Suatu hari di cuaca yang mendung, suasana rumah tak sehangat biasanya.

“Kamu mau sampai kapan begini, Man?!” suara Lila pecah. “Anak kita butuh makan, butuh sekolah, bukan janji!”

Arman hanya diam.

“Aku capek. Aku nggak bisa terus begini,” lanjut Lila. “Aku pergi. Aku bawa anak kita.”

Arman tidak mengejar. Bukan karena tidak ingin, tapi karena ia tidak tahu bagaimana caranya menahan sesuatu yang sudah memutuskan pergi.

Sejak itu dia tetap tinggal, menunggu rumah yang tak pernah kembali.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan.

Sampai suatu sore.

Langit berwarna jingga, cahaya masuk lewat jendela dan berhenti di lantai ruang tamu.

Untuk sesaat, rumah itu terlihat hangat lagi.

Lalu terdengar suara.

Tok.

Arman menoleh.

Tok. Tok.

Ia berdiri.

Ada sesuatu yang terasa berbeda, bukan sekadar suara. Lebih seperti… ingatan yang tiba-tiba menjadi nyata.

Ia berjalan ke pintu. Tangannya berhenti sejenak di gagang.

Lalu dibuka.

Di sana berdiri Lila, wajahnya terlihat menua dan di matanya menyimpan banyak hal. Di sampingnya ada seorang anak laki-laki yang lebih tinggi dari yang Arman ingat. Arman menatapnya cukup lama sebelum menyadari bahwa ia mengenal wajah itu.

“Ayah… ” suaranya bergetar, menahan air mata agar tidak jatuh.

Anak itu melangkah mendekat.

“Ayah, aku rindu.”

Dada Arman terasa penuh. Ia ingin menjawab, mengatakan bahwa ia juga rindu, bahwa ia menunggu setiap hari untuk ini.

Namun, tubuhnya terasa ringan.

Suaranya tidak keluar.

Dan perlahan, semuanya memudar.

25 November 2000

Hujan turun deras sore itu.

Di tikungan jalan tak jauh dari rumah tersebut, sebuah mobil kehilangan kendali.

Seorang laki-laki ditemukan di pinggir jalan.

Namanya Arman.

Leave a comment