Hits: 3

Aura Qathrunnada Gultom

Tiga bulan purnama telah berlalu semenjak Alis meninggalkan kota kecil yang biasa ia panggil rumah. Hari demi hari ia lewati dengan rasa hampa. Berlembar-lembar kertas ia coret untuk menuliskan surat kepada keluarga di kampung halamannya. Tidak terhitung berapa tetes air mata yang telah jatuh sejak hari pertama ia pindah ke kota besar, Jakarta.

‘19 Maret 1964’, tanggal yang tertera di pojok kanan kertas yang sedang ia tulis, surat yang ia tujukan kepada Ibunya.

“Assalamuaikum, Ibu. Bagaimana kabarnya? Alis di sini baik, pekerjaanku lancar. Paman dan Bibi sedang pergi ke luar kota, mungkin akan kembali minggu depan. Si bungsu bagaimana? Apakah masih suka mengeluh? Semoga semua yang ada di sana sehat selalu,” Alis tuliskan di kertas itu.

Alis melipat surat itu dan memasukkannya ke amplop. Lalu, ia mengayuh sepedanya dan bergegas ke kantor pos.

Selepas dari kantor pos, Alis berniat untuk langsung kembali ke rumah. Namun, ia membelokkan sepedanya dan melanjutkan perjalannya ke kanal. Entah apa yang terlintas di pikirannya hingga ia memutuskan untuk tidak langsung pulang.

Alis menyenderkan sepedanya di bawah pohon yang rimbun, lalu ia berjalan menuju kedai kopi dan memesan secangkir kopi hangat. Alis meminum kopi tersebut sambil menghadap kanal dan melihat pemandangan kota di sekitarnya.

“Indah, ragam. Namun hampa,” embannya dalam hati.

Kerinduannya akan rumah tidak dapat terbendung, ribuan kata yang ingin ia curahkan, tetapi ia tidak ingin keluarganya merasa khawatir. Alis mencoba kuat dan menahan rasa itu.

Setelah seruputan terakhir dari kopi yang Alis pesan, ia berjalan menuju kasir untuk membayar dan membeli kudapan untuk ia bawa pulang.

Alis memasukkan kudapan ke tasnya sambil jalan membalikkan badannya dan tidak sengaja menabrak seorang lelaki yang sedang berjalan belok ke kanan. Tentunya Alis menyalahkan ruangan yang cukup sempit itu dalam hatinya.

“Mohon maaf, Mbak. Saya tidak sengaja,” ucap lelaki itu.

“Tidak apa-apa, saya juga tadi jalannya tidak lihat-lihat, maaf,” sahut Alis.

Mereka berdua melanjutkan langkahnya. Namun, di langkah kedua lelaki itu memanggil.

“Sebentar, Mbak,” panggilnya.

“Ya?” jawab Alis.

“Sepertinya saya pernah lihat Mbak sebelumnya, apa mungkin Mbak tinggal di daerah keagungan?”

“Oh, tidak, Mas. Saya kebetulan kerja di sana, saya tinggal di Jalan Krukut, tapi masih dekat,” jawab Alis sambil tersenyum.

“Di toko busana ya? Saya kebetulan kerja di seberang toko itu, di samping kedai,” sahut lelaki itu.

“Samping kedai? Oh, di percetakan ya?” sambung Alis.

“Iya, kamu baru ya di sana? Beberapa saya lihat ada karyawan baru di situ.”

“Iya.”

“Oh, kalau begitu saya duluan dulu ya, Mbak.”

“Iya, Mas. Mas namanya siapa?” tanya Alis.

“Saya Indra, Mbak namanya siapa?”

“Alisa, biasa dipanggil Alis,” jawab Alis.

“Sampai jumpa, Alis,” ucap Indra sambil tersenyum. Di menit ini, Alis berjalan keluar sambil tersenyum mengingat kembali interaksi sejenak yang sejenak itu.

Keesokan harinya, Alis berangkat ke toko tempat ia bekerja. Setelah jam kerjanya berakhir, ia keluar dari pintu toko itu dan melihat Indra di seberang jalan dan percetakan yang ada di seberang pula ke arah kirinya.

Mereka berdua tersenyum dan saling menyapa. Indra berjalan ke arah Alis sambil bertanya kabarnya. Alis mengingat senyuman yang sama saat mereka bertemu di kedai kopi, senyuman yang indah dan ramah.

Setelah menyapa, Alis dan Indra berjalan bersama setelah mengetahui arah pulang mereka ke arah yang sama. Sambil berjalan, mereka berkenalan dan bercerita tentang satu sama lain. Tidak jarang pula candaan terucap hingga keduanya tertawa.

Sampai di persimpangan jalan, dan di saat mereka menuju ke arah yang berbeda, Indra berucap

“Senang bertemu denganmu Alis, mungkin besok selesai kerja, kita bisa pulang bersama lagi.”

“Senang bertemu denganmu juga, Indra. Boleh, mungkin sekitar pukul empat,” sahut Alis.

“Baik, sampai jumpa besok, Alis.”

“Sampai jumpa.”

Leave a comment