Hits: 29
Rifki Partogi Situmorang
Pijar, Medan. Jurusan Ilmu Komunikasi kerap dipandang sebagai “primadona” di berbagai universitas karena cakupan ilmunya yang luas, mulai dari jurnalistik, public relations, hingga periklanan. Namun, fleksibilitas ini bak pisau bermata dua. Di satu sisi menawarkan kebebasan mengeksplorasi minat, di sisi lain memicu keresahan mengenai arah karier yang dianggap kurang spesifik dibandingkan jurusan teknik atau sains.
Stigma mengenai masa depan lulusan komunikasi kembali mencuat setelah pernyataan publik dari berbagai tokoh, termasuk Hotman Paris Hutapea, yang menyinggung efisiensi pemilihan jurusan kuliah. Hal ini memicu diskusi hangat di kalangan akademisi mengenai relevansi gelar sarjana komunikasi di tengah pasar kerja yang kini didominasi oleh teknologi dan data.
Raymond Silalahi, alumni Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU), menilai bahwa kurikulum yang luas justru merupakan aset berharga. Meski sempat merasa kurang percaya diri karena tidak memiliki spesialisasi tajam saat pertama kali melamar kerja, ia menyadari bahwa wawasan yang luas membantunya beradaptasi dengan cepat di berbagai bidang. Ia menekankan bahwa portofolio praktis dan pengembangan diri kini jauh lebih menentukan.
“Ilmu Komunikasi tetap relevan, apalagi kemampuan komunikasi akan selalu dibutuhkan di dunia kerja,” ujar Raymond.
Senada dengan Raymond, Muhammad Nafis Athallah, mahasiswa Ilmu Komunikasi USU, merasa cakupan ilmu yang luas memudahkannya melihat peta industri. Namun, menanggapi label jurusan yang dianggap kurang jelas, Nafis mengakui bahwa Ilmu Komunikasi bersifat terapan sehingga membuat batas pembeda dengan sarjana lain menjadi tipis. Hal ini dapat terlihat terutama ketika posisi komunikasi kini banyak diisi oleh lulusan non-linear.
“Akui saja, karena kita ilmu terapan yang sangat tergantung dengan kejelasan industri dan pasar,” ungkap Nafis.
Secara global, tren pasar kerja tahun 2026 menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi tingkat lanjut seperti strategic messaging dan manajemen krisis tetap menjadi salah satu soft skill yang paling sulit digantikan oleh AI. Hal ini membuktikan bahwa meskipun teknis bisa dipelajari secara otodidak, landasan teoretis mengenai perilaku manusia dan etika informasi yang diajarkan di bangku kuliah tetap memiliki tempat tersendiri.
Perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan industri membuat lulusan Ilmu Komunikasi menghadapi tantangan baru dalam menyesuaikan kemampuan yang dimiliki dengan bidang profesi yang terus berkembang. Kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa persaingan kerja tidak lagi hanya ditentukan oleh latar belakang jurusan, tetapi turut dipengaruhi oleh keterampilan dan pengalaman yang dimiliki.
(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

