Hits: 11
Siti Farrah Aini
Pijar, Medan. Lembaran demi lembaran dibuka, yang terungkap bisa jadi bukan kebenaran, melainkan setumpuk alibi untuk mengecoh jalannya penyidikan. Seratus halaman pertama, kamu mungkin disajikan dengan asumsi yang terlihat “benar”. Namun, seratus halaman berikutnya, asumsi lain muncul dan terlihat sama benarnya. Begitulah sang penulis selalu menyusun teka-teki dalam setiap bukunya, termasuk buku yang berjudul Kesetiaan Mr. X.
“Ingat, asumsi itu musuh kita. Apa yang terlihat belum tentu seperti yang kita lihat.” – halaman 232.
Kesetiaan Mr. X merupakan novel dalam Seri Detektif Galileo karya Keigo Higashino. Novel berjudul asli Yogisha X no Kenshin ini berhasil menyabet beberapa gelar, seperti sebagai novel terbaik dalam Naoki Prize ke-134 dan fiksi terbaik dalam Honkaku Mystery Award ke-6 pada tahun 2006. Dengan kemenangannya pada penghargaan sastra bergengsi tersebut, Kesetiaan Mr. X menjadi buku yang populer dan digandrungi oleh pecinta novel bergenre misteri.
Jika pada umumnya pelaku kejahatan dalam novel misteri diungkap pada akhir cerita, maka Keigo justru membiarkan pembaca mengetahuinya di awal cerita. Kisah ini memperkenalkan Hanaoka Yasuko, seorang perempuan yang telah bercerai dari suaminya, bernama Shinji Togashi. Yasuko telah berkali-kali pindah alamat karena mantan suaminya itu kerap meminta uang dan bertindak kasar kepadanya. Namun, setelah lima tahun tidak bertemu, Togashi tiba-tiba dapat menemukan Yasuko di tempat kerjanya, yakni sebuah kedai bento.
Pertemuan mereka berakhir dengan tidak baik, dan menjadi lebih buruk ketika Togashi yang entah dari mana mendapatkan alamat Yasuko dan anaknya, Misato. Togashi datang dan mengancam bahwa ia akan terus mengusik kehidupan ibu dan anak itu. Sesaat keadaan menjadi ribut, hingga kekacauan final muncul ketika Yasuko dan Misato membuat Togashi terbujur tidak berdaya dan tewas di lantai apartemen.
Muncullah Tetsuya Ishigami, seorang guru matematika sekaligus tetangga yang diam-diam memerhatikan kehidupan ibu dan anak itu. Ishigami datang dan menawarkan bantuan yang akan membebaskan Yasuko dan Misato dari kemungkinan masalah yang menghampiri mereka pasca kejadian itu. Dari sinilah, sang detektif, Kusanagi dan sang fisikawan jenius dengan julukan Detektif Galileo, bernama Manabu Yukawa, berhadapan dengan lawan yang cerdas dan penuh perhitungan.
Penyidikan menemui kesulitan ketika Kusanagi merasa bahwa semua orang yang diselidikinya terasa memiliki alibi yang kuat. Ia menyadari bahwa penyidikan seakan terpusat pada Yasuko, pemilik alibi yang sulit untuk dipatahkan. Oleh karena itu, ia berdiskusi dengan sahabatnya, Yukawa untuk memecahkan kasus tersebut.
Tiada yang menduga bahwa Yukawa, sang fisikawan jenius akan berhadapan dengan teman kuliah sekaligus rivalnya, yang tidak lain adalah Ishigami. Yukawa menyadari bahwa Ishigami tetaplah matematikawan jenius yang terbiasa dengan angka-angka dan perhitungan, serta cara yang sederhana untuk persoalan rumit.
“Mana yang paling sulit: menciptakan soal yang sulit atau memecahkannya? Hanya ada satu jawaban pasti.” – halaman 139.
Dalam novel-novelnya yang lain, Keigo menggambarkan Yukawa sebagai fisikawan jenius yang mengandalkan deduksi dan bukti fisik, sehingga Kusanagi sering “menyeretnya” untuk ikut dalam kasus yang ia tangani.
Dalam Kesetiaan Mr. X, pembaca diajak untuk mengikuti pemikiran serta asumsi kuat Yukawa yang sedikit demi sedikit menguak kebenaran dari kasus ini. Detail-detail kecil, seperti sepeda curian yang memiliki sidik jari seseorang, rute perjalanan sehari-hari, hingga daftar absen seorang guru menjadi kepingan penting untuk mengungkap kasus.
Novel ini juga banyak menyelipkan logika matematis yang dimiliki oleh Ishigami, sebagai seseorang yang mendalami matematika. Misalnya, ketika cara ia menjawab pertanyaan seorang murid yang menanyakan alasan mempelajari matematika dan membuat soal “kamuflase” dalam ujian siswa, dengan soal materi fungsi yang disamarkan menjadi geometri.
“Soal-soal dariku sama sekali tidak sulit. Aku hanya memanfaatkan lubang kelemahan dalam asumsi mereka.” – halaman 222.
Namun, lebih dari itu, motif kasus ini sebenarnya jauh daripada ragam alibi dan trik yang disajikan. Meski terbukti banyak hal yang telah direncanakan, tetapi logika siapa pun akan kalah oleh motivasi emosional berupa cinta. Ada seseorang yang mencintai dengan tulus, sehingga mengorbankan kebebasan dirinya untuk melindungi orang yang ia cintai. Cinta tersebut tidak hanya soal perasaan jatuh suka kepada seseorang, tetapi juga rasa terima kasih karena telah menyelamatkan hidup yang sebelumnya kelam.
Rasanya tidak cukup untuk melihat satu asumsi dan sudut pandang semata ketika membaca kisah dari buku ini. Ada sebuah kejutan tidak terduga yang disiapkan di akhir cerita. Inilah Kesetiaan Mr. X, kisah penuh dengan trik, alibi, dan “kebingungan”, tetapi ada pengorbanan cinta mendalam yang tak terduga di dalamnya. Apakah kamu tertarik untuk membaca karya penuh misteri Keigo Higashino yang satu ini?
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

