Hits: 46

M. Malikul Saleh Azhari

Pijar, Medan. Kawasan Pintu 1 sampai Pintu 4 Universitas Sumatera Utara (USU) berubah menjadi pusat penjualan takjil musiman seiring memasuki bulan Ramadan tahun ini. Fenomena ini tidak hanya memperbanyak pilihan menu berbuka bagi mahasiswa, tetapi juga memicu persaingan omzet dan kepadatan lalu lintas di area tersebut.

Berdasarkan pantauan di lapangan, para pedagang mulai menggelar lapak mereka sejak pukul 16.00 WIB. Pilihan menu yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari aneka gorengan, makanan, hingga minuman segar yang menjadi incaran mahasiswa menjelang waktu berbuka.

Menariknya, lonjakan pedagang ini tidak hanya datang dari warga sekitar, tetapi juga didominasi oleh mahasiswa yang memanfaatkan momen Ramadhan untuk mencari dana usaha (danus). Banyak dari mereka membuka lapak musiman untuk membiayai kegiatan organisasi maupun kepanitiaan kampus. Kehadiran pedagang dari kalangan mahasiswa ini menambah deretan kompetisi bagi pedagang tetap, mengingat menu yang ditawarkan cenderung serupa dengan harga yang ramah di kantong mahasiswa.

Kondisi ini pun mulai dirasakan dampaknya oleh para pedagang yang sudah lama menetap di kawasan tersebut. Salah seorang pedagang sop buah, Yudi, mengaku bahwa bertambahnya jumlah penjual musiman secara otomatis membagi pendapatan yang biasa ia terima.

“Kalau hari biasa pelanggannya cuma ke sini, sekarang karena pilihannya banyak dan yang jualan sop buah juga ada di mana-mana, pendapatannya jadi nggak menentu. Apalagi mahasiswa yang jualan itu biasanya bawa rombongan teman-temannya sendiri buat beli,” ungkapnya.

Selain persoalan omzet, membludaknya jumlah pedagang ini juga menciptakan kerumunan yang memakan hampir separuh badan jalan. Kondisi lalu lintas yang semakin semrawut di titik-titik padat seperti Pintu 4 akhirnya memicu munculnya sistem pengelolaan lapak secara swadaya. Di sinilah peran koordinator lapangan atau pengelola area menjadi krusial untuk menata posisi pedagang agar tidak menutupi akses jalan utama.

Dalam praktiknya, pengelolaan ini dibarengi dengan penarikan uang kontribusi harian. Berdasarkan informasi dari para pedagang, mereka diwajibkan menyetor uang sebesar Rp10.000 kepada pihak pengelola setiap sorenya. Arif, salah seorang koordinator area menyebutkan bahwa uang tersebut merupakan bentuk biaya koordinasi.

“Ini untuk jaminan tempat supaya mereka tidak berebut tempat berjualan, sekaligus biaya kebersihan dan bantuan pengaturan parkir agar kawasan tetap kondusif,” jelasnya.

Meskipun kawasan tersebut menjadi sangat padat hingga menjelang waktu berbuka, kesadaran akan kebersihan lingkungan tampak tetap terjaga. Para pedagang, baik musiman maupun pedagang tetap, secara mandiri mengumpulkan dan membersihkan sampah di area lapak mereka masing-masing sebelum meninggalkan lokasi.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment