Hits: 14
Jennifer Francesca
Pijar, Medan. Aroma daging panggang menyeruak dari balik etalase kaca, potongan daging penuh rempah yang berputar di besi vertikal perlahan berubah kecokelatan. Di balik itu, sang penjual dengan telaten menyayat daging tipis-tipis, kemudian menggulungnya dengan roti dan sayuran segar. Sekilas, orang mungkin menyebutnya kebab. Padahal, ia adalah Shawarma.
Kebab dan Shawarma, dua hidangan asal Timur Tengah ini sering disalahpahami satu sama lain. Keduanya memang tampak serupa, sama-sama daging yang digulung dan disajikan dengan sayuran serta saus. Namun, apakah kamu tahu bahwa kebab dan Shawarma itu tidak sama?
Melansir dari britannica.com, olahan Shawarma adalah hidangan cepat saji berbahan utama daging yang berasal dari Turki. Nama Shawarma diambil melalui pelafalan bahasa Arab dari kata Turki, “çevirme” yang berarti memutar atau diputar. Nama ini merujuk pada teknik pemanggangan daging Shawarma yang berputar perlahan pada poros besi panjang secara vertikal.
Daging yang digunakan untuk hidangan Shawarma umumnya adalah daging domba, kambing, kalkun, atau daging kerbau. Dikutip dari tasteatlas.com, rahasia kelezatan daging Shawarma adalah pada proses marinasi yang dilakukan selama setidaknya satu sampai dua hari. Bahan marinasi biasanya berbasis yogurt atau cuka, dilengkapi rempah dan penyedap seperti kayu manis, cengkeh, kapulaga, biji pala, lada hitam, paprika, bawang putih, jahe, lemon, daun salam, hingga irisan jeruk.
Setelah matang, daging dipotong tipis-tipis dari lapisan paling luar. Bisa disajikan begitu saja, atau bisa juga digulung dalam roti pipih seperti pita atau lavash. Untuk menambah cita rasa dan memperkaya teksturnya, berbagai jenis sayuran segar seperti tomat, selada, dan timun juga ditambahkan ke dalam gulungan Shawarma. Bahkan, terkadang Shawarma disajikan di atas piring dengan nasi atau kentang goreng di sisinya.
Saus dan bumbu pada Shawarma lebih kompleks dan variatif jika dibandingkan dengan kebab. Bukan hanya saus mayones atau saus tomat saja, olahan Shawarma juga disajikan dengan berbagai saus olahan yang kaya akan rempah, seperti tahini, saus pasta biji wijen yang memberikan rasa gurih dan sedikit asam, serta hummus, pasta kacang Arab yang segar dan menambahkan aroma kacang.
Di Indonesia, kudapan ini sudah cukup populer dan digemari oleh banyak orang. Namun, penyajiannya cenderung berbeda dari negeri asalnya. Dikutip dari tempo.com, penyajian Shawarma di Indonesia telah melalui banyak modifikasi, seperti dagingnya yang menggunakan ayam untuk menyesuaikan dengan selera orang Indonesia.
Beberapa rempah khas yang sulit ditemukan seperti mastika (ekskresi damar), karawiah (jintan Persia), mahleb (rempah aromatik dari biji ceri), dan sahlab (tepung dari umbi anggrek) juga biasanya diganti dengan rempah lokal yang tersedia di Indonesia.

(Sumber Foto: doordash.com)
Tentunya, hidangan Shawarma kini juga mudah dijumpai di kota yang terkenal sebagai kota kuliner ini. Di Medan, hidangan ini tersedia mulai dari gerobak dorong hingga restoran khusus masakan Timur Tengah. Cukup merogoh kocek sebesar Rp20.000–Rp30.000, kamu sudah bisa menikmati sepotong Shawarma yang gurih dan penuh rempah. Jadi, bagaimana, tertarik untuk mencicipi Shawarma?
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

