Hits: 15

Malikul Saleh Azhari / Claudita Piesesta Tarigan

Pijar, Medan. Kue Balok lahir dari sejarah panjang, melewati masa kolonial, masa-masa kuliner jalanan, hingga saat ini mampu bertahan di tengah gempuran perkembangan teknologi, termasuk cara orang-orang berburu kuliner, lalu mendadak naik daun lagi di berkat media sosial. Tidak semua makanan punya perjalanan sekompleks itu, namun kue persegi padat dari Jawa Barat ini terus berhasil mendapatkan perhatian generasi demi generasi, seolah menolak untuk ditinggalkan.

Mengutip dari liputan6.com, Kue Balok sudah dikenal sejak tahun 1950-an. Masyarakat melakukan adaptasi dari resep kue khas Belanda, dan berhasil melahirkan varian baru yang berbeda dari aslinya. Pada masa itu, banyak orang di Bandung yang menyukai Kue Balok sebagai santapan untuk sarapan pagi. Dari sinilah Kue Balok mulai dikenal, terutama di Bandung yang kemudian menjadi pusat persebarannya.

Di mata warga lokal, Kue Balok bukan sekadar camilan. Teksturnya yang padat membuatnya terasa lebih mengenyangkan dibanding banyak jajanan lain. Bahan bakunya terdiri dari campuran tepung terigu, gula, telur dan vanili. Tetapi, daya tariknya bukan hanya berasal dari bahan itu sendiri, melainkan pada citra rasanya yang enak dan disukai oleh warga lokal. Banyak orang mengingat Kue Balok sebagai teman masa kecil, suguhan sarapan, atau pengganjal lapar.

Perjalanan Kue Balok tidak selalu mulus, modernisasi membuat banyak jajanan masa lampau tersingkir oleh makanan-makanan cepat saji. Ketika jajanan lainnya tinggal menunggu waktu untuk tutup, kue ini justru kembali menemukan panggungnya. Varian baru Kue Balok yang lumer menggiurkan selera masyarakat, dan sempat kembali mendominasi isi media sosial. Video yang memperlihatkan adonan lembut yang meleleh setelah dibelah membuat banyak orang rela mengantre demi merasakan lezatnya.

Kembalinya popularitas Kue Balok menghadirkan dampak positif bagi para pedagang. Dagangan kue ini yang dulu sepi, mulai kebanjiran pelanggan baru. Ada yang membangun usaha modern dengan konsep kekinian, ada juga yang bertahan pada resep lama tanpa mengubah karakter tradisionalnya. Keduanya hidup berdampingan dan sama-sama memperluas minat masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi bukan ancaman, melainkan sebagai cara agar kuliner tradisional tetap bertahan.

Selain soal rasa, Kue Balok juga menyimpan nilai budaya yang besar. Ia menjadi bukti bahwa akulturasi dapat bertahan dalam bentuk paling sederhana, sekaligus paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jejak kuliner dari masa kolonial tidak menghilang begitu saja, tetapi mampu berbaur dengan identitas lokal dan melahirkan sesuatu yang baru.

Di beberapa tempat, Kue Balok bahkan menjadi fenomena sosial kecil. Di lingkungan kampus misalnya, sempat ada dagangan yang viral berkat videonya di depan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) muncul dan menjadi ramai di media sosial. Mahasiswa berbondong-bondong mencoba, entah karena rasa penasaran atau memang merupakan pecinta kelezatan Kue Balok. Dari satu video sederhana, jajanan ini kembali mencuri perhatian anak muda dan menjadi bahan obrolan yang hangat.

Perjalanan Kue Balok menunjukkan bahwa makanan bukan hanya soal mengisi perut. Ia adalah cerita panjang yang disimpan dalam setiap gigitan. Selama masih ada orang yang penasaran, masih ada yang menuliskan kisahnya, dan masih ada yang mencarinya sebagai bagian dari kenyamanan sehari-hari, Kue Balok akan terus bertahan. Kue Balok bukan sekadar jajanan, tetapi bukti bahwa kuliner tradisional dapat hidup, hilang, lalu kembali bersinar ketika waktunya tiba.

(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment