Hits: 73

Kurratul Aina / Hanina Afifah

Pijar, Medan. Sore itu, di ruang Pusat Unggulan Iptek (PUI) Mangrove Universitas Sumatera Utara (USU), Mohammad Basyuni tengah duduk menatap layar laptop sembari berbincang dengan beberapa mahasiswanya. Lahir di Sidoarjo pada 21 April 1973, beliau adalah guru besar dan peneliti Fakultas Kehutanan USU yang dikenal lewat kiprahnya di bidang bioteknologi hutan dan konservasi mangrove, sebuah jalan riset yang kini mengantarnya pada pengakuan nasional hingga internasional.

Awal mula ketertarikannya terhadap dunia lingkungan, khususnya kehutanan, ia wujudkan dengan menempuh pendidikan Sarjana dan Magister di Institut Pertanian Bogor (IPB). Kemudian, tidak berhenti sampai di situ, pada tahun 2005 ia kembali melanjutkan studi S-3 di University of the Ryukyus, Jepang, dengan fokus pada bioteknologi molekuler.

Dari sana, langkah akademiknya berlanjut ke Kagoshima University. Selama dua tahun, ia menempuh program Postdoctoral Fellow di United Graduate School of Agricultural Sciences dengan dukungan Japan Society for the Promotion of Science (JSPS), hingga meraih gelar doktoral yang akan menjadi bekal penting dalam kiprahnya meneliti mangrove.

Saat ditanya siapa sosok yang menginspirasinya terjun ke bidang lingkungan, Basyuni menyampaikan suatu pesan yang diucapkan oleh pembimbingnya semasa studi.

Kalau saya dulu ingat pesan pembimbing saya, ‘carilah bidang yang saingannya sedikit’,”  ujarnya.

Oleh karena itu, ia kemudian menekuni bidang yang dijalaninya saat ini.

Meski kompetisi antarpeneliti adalah suatu hal yang tidak dapat dipungkiri, tetapi ia percaya rekam jejak yang baik akan selalu berbicara.

Saya dua tahun lalu itu dilamar oleh Imperial [institusi luar negeri], padahal saya tidak melamar, jadi mereka melihat rekam jejak saya,” tambahnya.

Seiring kiprahnya, sederet prestasi di kancah nasional dan internasional berhasil ia raih. Pada tahun 2020, ia menerima penghargaan World Class Professor Award Skema B dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), serta dinobatkan sebagai Peneliti Terbaik I USU. Kemudian, pada 2024 lalu, Basyuni berhasil meraih Gold Academic Leader bidang kemaritiman pada ajang Anugerah Diktisaintek 2024.

Mohammad Basyuni, Akademisi USU dengan Sederet Inovasi Berpengaruh di Tingkat Global - www.mediapijar.com
Basyuni menerima penghargaan Gold Academic Leader dari Anugerah Diktisaintek 2024
(Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi Mohammad Basyuni)

 

Selain itu, namanya juga tercatat dalam berbagai pengakuan internasional, seperti termasuk dalam daftar 2% peneliti paling berpengaruh di dunia versi Stanford, berhasil meraih Top 100 Scientist and University Agriculture (AD Scientific Index), serta dipercaya sebagai Indonesia Coordinator Project untuk hibah JSPS Core-to-Core. Kolaborasi internasional juga menjadi bagian penting dari kiprahnya. Ia pernah bekerja sama dengan ilmuwan dari Jepang, Filipina, hingga Inggris. Selain itu, dalam waktu dekat ia akan berkolaborasi dengan Seoul National University, Korea.

Di antara sederet penelitiannya yang berdampak, salah satu contoh terbaru ialah inovasi restorasi penanaman vital (vital planting) dan wanamina (silvofishery) di Kabupaten Langkat yang turut mengantarkannya meraih penghargaan Gold Academic Leader pada 2024 lalu.

“Dulu, banyak warga yang mencuri kayu dan membuat arang. Sekarang, mereka mulai memanfaatkan jasa ekosistem, mengolah kayu menjadi produk bernilai, serta membuat sirup, kerupuk, dan olahan lain yang menjadi sumber pendapatan baru,” jelas Basyuni.

Kegiatan ini bukan sekadar memberi uang, tetapi memberikan aktivitas agar membuat warga sadar akan peluang produktif, sehingga pemantauan (monitoring) riset menunjukkan hasil positif, membuka kesempatan baru, dan menumbuhkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.

Namun, di balik itu semua, Basyuni tidak menampik bahwa perjalanan riset dan karier akademiknya penuh tantangan. Ia menuturkan bahwa tantangan terbesar, justru datang dari keharusan untuk terus belajar dan mengikuti perkembangan terbaru. Oleh karena itu, membaca artikel-artikel jurnal terbaru menjadi rutinitas penting agar bisa menemukan ide riset berikutnya.

“Kalau kita bergerak, ya tantangan itu pasti ada dan harus dihadapi. Dengan kita terjun di level tinggi, maka level kita juga harus naik. Jadi, kita tidak berhenti, harus banyak belajar, kemudian membaca artikel jurnal terbaru, dari situlah kita mendapatkan inspirasi untuk penelitian berikutnya,” ujarnya.

Tiba di penghujung obrolan, Basyuni menitipkan pesan sederhana untuk mahasiswa dan generasi muda.

“Istikamahlah, artinya diseriusi dan bersungguh-sungguh. Nanti akan menemukan sesuatu. Jangan pindah-pindah keahlian. Didalami, dan belajar dengan sungguh-sungguh. Jadi, setelah lulus nanti, bisa lanjut kerja atau studi dengan mendapat berbagai beasiswa, seperti Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan banyak program lainnya,” tutupnya.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment