Hits: 32

Theodora Stephanie Laowo

Pijar, Medan. Berawal dari pengalaman 12 Hari pelayaran di Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), seorang pemuda bernama Presley terinspirasi membuat sebuah komunitas yang bernama Gerak Muda Rempah. Jadi, bagaimana perjalanan Presley dalam membentuk komunitas tersebut yang kini membawa misi pelestarian budaya kepada ratusan anak Indonesia?

Tahun 2024 menjadi titik balik dalam hidup Presley Panca Yahya Simangunsong. Perjalanannya diawali ketika Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengadakan program Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR). Ia tidak menyangka bahwa pelayaran selama 12 hari akan mengubah cara pandangnya terhadap Indonesia.

“Indonesia itu adalah negara yang sangat kaya. Indonesia sebagai meeting point dan melting point-nya dunia,” kenang Presley.

Program MBJR sendiri lahir dari strategi Indonesia untuk mengajukan Jalur Rempah sebagai warisan budaya dunia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Sebuah upaya untuk mengingatkan dunia bahwa perairan Nusantara pernah menjadi jalur perdagangan paling strategis di dunia.

Pemuda yang kerap disapa Presley ini, tergabung dalam gelombang ketiga MBJR, berlayar dari Tanjung Uban, Lampung, hingga Jakarta menggunakan KRI Dewaruci. Disebut-sebut sebagai kapal perang legendaris buatan Jerman yang kini dioperasikan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut. Bersama para Laskar Rempah lainnya, mereka tidak hanya berlayar, tetapi juga melakukan diplomasi budaya di setiap titik persinggahan.

Laskar Rempah menuju Gerak Muda Rempah, Langkah Presley Menyambung Jejak Sejarah Nusantara - www.mediapijar.com
Foto bersama Para Awak KRI DewaRuci dan Laskar Rempah
(Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi Presley Panca Yahya Simangunsong)

 

Peristiwa yang paling mengejutkan bagi Presley adalah fakta sejarah bahwa Jalur Rempah bukan sekadar jalur perdagangan, tetapi juga sebagai jalur pertukaran budaya, penyebaran agama, dan jalur pemajuan ekonomi antar daerah.

Ia menemukan bahwa kesamaan budaya antara Malaka, Riau, Sumatera Utara, dan Jambi bukanlah kebetulan. Perairan yang tampak memisahkan, justru menyatukan mereka melalui interaksi dalam Jalur Rempah.

Sepulang dari pelayaran, Presley dan rekannya, Anggi Aritonang dari gelombang kedua, merasa ada yang belum selesai. Wawasan berharga yang mereka dapatkan tidak boleh berhenti di dek kapal. Maka lahirlah Gerak Muda Rempah.

“Kalau zaman dahulu kita mengidentifikasi Laskar sebagai pejuang dengan bambu runcing dan senjata, kalau zaman sekarang Laskar adalah orang yang mau berjuang untuk kemajuan pendidikan dan kebudayaan,” ujar Presley tentang redefinisi makna Laskar di era modern.

Gerak Muda Rempah fokus pada satu target krusial, yaitu anak-anak. Presley dan timnya percaya bahwa penanaman nilai-nilai Jalur Rempah harus dimulai dari pendidikan dasar.

Bersama sekitar 70 relawan yang disebut “Rempah Muda”, Gerak Muda Rempah mengemas pendidikan Jalur Rempah menjadi lebih informatif, edukatif, dan menyenangkan. Melalui berbagai media pembelajaran, permainan, dan metode yang sesuai untuk anak-anak, mereka mengajar di komunitas, sanggar dan berbagai wilayah di pelosok daerah.

Laskar Rempah menuju Gerak Muda Rempah, Langkah Presley Menyambung Jejak Sejarah Nusantara - www.mediapijar.com
Gerak Muda Rempah bersama Yayasan Muwafaq Indonesia Cendikia, hadir untuk memberikan edukasi Jalur Rempah
(Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi Presley Panca Yahya Simangunsong)

Jangkauan mereka tidak terbatas di Medan. Ekspansi dilakukan hingga Pulo Aceh dan Kabupaten Aceh Singkil. Hingga kini, lebih dari 100 anak telah menjadi penerima manfaat program mereka.

Hal yang diajarkan bukan hanya sejarah. Anak-anak juga belajar tentang khasiat rempah-rempah dari akar, batang, buah, biji, hingga daun. Kolaborasi dengan mahasiswa farmasi dan profesi apoteker memperkaya materi tentang manfaat kesehatan dari rempah-rempah Indonesia.

Gerak Muda Rempah kini memiliki struktur yang solid dengan beberapa divisi, seperti Divisi Kreatif (Creative), Pemberdayaan (Empowerment), dan Penyuburan (Enrichment). Semua bersatu dalam satu tujuan, yakni melestarikan dan mendukung pemajuan kebudayaan serta mendukung pengajuan Jalur Rempah sebagai warisan budaya dunia UNESCO.

Awalnya, Presley sempat khawatir dan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri tentang kepedulian dan kesadaran orang-orang tentang kebudayaan.. Namun, ia mendapatkan jawabannya, sehingga kekhawatirannya terbantahkan. Ia melihat bahwa masih banyak anak muda yang selaras dengan tujuan mereka. Bahkan berbagai komunitas, lembaga, dan pemangku kepentingan lain turut mendukung program-program Gerak Muda Rempah.

Menurut Preslet, tumbuhnya kontribusi dari anak muda dapat dimulai dari mengingat akarnya.

“Ketika memang sekarang mungkin sudah tumbuh, sudah mendapat banyak pengaruh budaya luar yang memang sudah mulai memudarkan identitas lokal kita. Harapannya kita kembali lagi kepada akar,” pesannya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak malu melestarikan dan memajukan kebudayaan daerah sendiri.

“Ingatlah akarmu. Sebelum menjadi Indonesia yang sekarang, Nusantara dulu adalah pusat peradaban rempah. Jangan malu untuk melestarikan dan memajukan kebudayaan daerah sendiri,” tambahnya.

Bermula dari seseorang peserta program pemerintah, Presley bertransformasi menjadi inisiator gerakan. Ia membuktikan bahwa anak muda zaman sekarang tidak kehilangan koneksi dengan akar budayanya, mereka hanya butuh jembatan yang tepat. Hal tersebut juga bagi ratusan anak yang telah ia sentuh, Gerak Muda Rempah adalah jembatan itu.

(Redakstur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment