Hits: 42

Trisha Permata Lidwina Lumbangaol

Pijar, Medan. Di tengah derasnya arus digital, nama Hari Kristian hadir sebagai sosok yang memadukan dunia edukasi dengan kreativitas konten. Ia dikenal sebagai pendidik dinamis, konten kreator edukasi, sekaligus pemasar digital (digital marketer) yang sudah empat tahun berkiprah.

Lewat keterlibatannya bersama Gritty.id dan LCE Learning, Hari bukan hanya berbagi ilmu, tetapi juga membangun komunitas pertukaran bahasa dan budaya yang memberi ruang bagi anak muda untuk tumbuh.

Langkah Hari Kristian di dunia digital bermula dari situasi yang tidak terduga, yakni pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Sebagai seorang pengajar bahasa Inggris, ia menyaksikan bagaimana pola belajar berubah drastis ketika semua aktivitas terpaksa beralih ke ranah daring.

Kondisi tersebut menuntutnya untuk segera beradaptasi agar bisa tetap terhubung dengan para siswa maupun audiens yang lebih luas. Dari titik inilah, ia mulai serius mendalami bagian pemasaran digital (digital marketing) dan mencoba berbagai cara memproduksi konten edukatif, dengan harapan dapat menjangkau dan menginspirasi lebih banyak orang melalui platform online.

Perjalanan itu tentu tidak berjalan mulus. Hari mengakui bahwa tantangan terbesar justru datang dari proses penulisan skrip (scripting) dan perannya sebagai pemeran (talent) di depan kamera. Menurutnya, membuat naskah yang orisinal sekaligus menarik adalah pekerjaan yang menuntut pengamatan dan analisis mendalam terhadap tren media sosial. Ia harus menemukan sesuatu yang membedakan karyanya dari konten lain agar tetap relevan dengan audiens.

Dari pencarian itulah lahir ide menghadirkan karakter “Preman Amplas Berbahasa Inggris”. Sebuah konsep yang unik dan segar sehingga berhasil mencuri perhatian publik. Konten tersebut ditonton jutaan kali dan ramai dibicarakan, khususnya di kota Medan.

“Kita harus bisa melihat daerah kita, audiens kita siapa, dan berdiri di posisi mereka, apa sih yang mereka mau lihat yang baru,” jelasnya.

Dari pengalamannya berkarya bersama Gritty.id dan LCE Learning, Hari menemukan bahwa kunci utama dalam membuat konten bukan hanya soal informasi yang disajikan, melainkan tentang bagaimana pesan tersebut disampaikan.

Baginya, pembawaan (delivery) yang tepat dapat membangun koneksi emosional dengan audiens, sekaligus membuat pesan lebih membekas. Prinsip inilah yang menjadi landasan konsistensinya dalam menciptakan konten, baik untuk kebutuhan edukasi maupun marketing.

Selain itu, Hari menekankan pentingnya memiliki mentor. Ia percaya setiap orang membutuhkan sosok pembimbing yang mampu menjaga konsistensi, memotivasi, sekaligus mendorong agar terus berkembang. Bagi Hari, peran mentor hadir dari keluarga maupun rekan profesional yang selalu mengingatkannya untuk rendah hati, haus akan ilmu, dan berani menerima tantangan baru.

We all need a mentor in our life,” tegasnya. Atas dasar itu pula, ia bersama tim berkomitmen mendorong anak muda, khususnya melalui gritty.id, untuk berani mengenal diri mereka sendiri (self-understanding) dan menyadari potensi yang ada dalam diri.

Bagi mahasiswa, ia menyampaikan pesan sederhana, tetapi penuh makna, yakni jangan pernah meremehkan langkah kecil. Ia percaya bahwa setiap proses kecil akan membentuk pribadi yang lebih kuat.

“Tetap semangat untuk teman-teman mahasiswa di era digital saat ini, karena akan ada banyak peluang jika kamu mencari,” pesannya menutup wawancara.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment