Hits: 35

Sahifa Mutawally Syifa / Aqillah Syahza Non

“In the 21st century, I think our phones are how we are wedded to the world. If so, it’s probably a bad marriage.”

Pijar, Medan. Ditulis dan disutradarai oleh John Lee Hancock, Mr. Harrigan’s Phone merupakan hasil adaptasi dari salah satu kumpulan cerita pendek karya Stephen King yang berjudul “If It Bleeds”. Mr. Harrigan’s Phone adalah sebuah meditasi muram tentang kesedihan dan kesepian yang disuguhkan lewat narasi yang sangat menyentuh hati.

Berlatar di awal tahun 2000-an hingga 2008, Mr. Harrigan’s Phone menceritakan tentang Craig (Jaeden Martell). Craig adalah seorang anak laki-laki piatu yang menghasilkan uang saku dengan cara bekerja untuk seorang pengusaha tua kaya raya bernama John Harrigan.

Craig bekerja selama lima tahun dengan membacakan buku-buku kepada Pak Harrigan sebanyak tiga kali seminggu. Keduanya juga telah menjadi teman dekat. Pak Harrigan juga rutin memberi kartu lotre gosok kepada Craig sebagai bentuk apresiasi karena sudah menemani beliau.

Di malam natal, Craig lagi-lagi mendapatkan hadiah kartu lotre gosok dari Pak Harrigan. Kali ini, Craig berhasil memenangkan lotre tersebut dan mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebesar $3,000 setelah bertahun-tahun tak kunjung beruntung. Uang tersebut dimanfaatkan ayahnya untuk biaya kuliah Craig. Kemudian, sisa uangnya Craig gunakan untuk membeli sebuah ponsel cerdas bermerek iPhone yang kala itu baru saja rilis untuk diberikan kepada Pak Harrigan.

Awalnya, Pak Harrigan tidak terlalu senang dengan ponsel cerdas itu. Akan tetapi, beliau perlahan belajar untuk menghargai hadiah dari Craig tersebut. Setelah Craig berikan arahan, perangkat tersebut sangat memudahkan Pak Harrigan dalam meninjau perkembangan bisnisnya dan membaca berita-berita terbaru yang tidak beliau dapatkan dari koran dengan cepat.

Beberapa bulan kemudian, Pak Harrigan meninggal dunia karena sakit yang dideritanya. Craig sangat terpukul dengan peristiwa ini. Terlebih lagi sebelumnya, ia pernah kehilangan ibunya, orang terdekat ketika ia masih kecil. Melihat Pak Harrigan pergi meninggalkannya lagi untuk selamanya bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi Craig.

Pada saat di gereja, Craig diam-diam menyelipkan iPhone milik Pak Harrigan ke dalam saku jas Pak Harrigan sebelum dikebumikan. Belum selesai Craig berkabung, muncul masalah berat bagi Craig yang menghadapi perundungan di sekolahnya. Permasalahan yang timbul membuatnya bingung ingin bercerita kepada siapa.

Dia pun mulai menelepon dan mengirim pesan ke nomor Pak Harrigan tanpa mengharapkan jawaban karena ia sudah kehabisan ide tentang bagaimana cara untuk mengutarakan isi hatinya. Saat ia bangun pagi, Craig terkejut karena pesannya dibalas oleh nomor Pak Harrigan. Kejadian ini tidak hanya berlangsung sekali saja.

Craig juga mendapat panggilan dari nomor Pak Harrigan yang entah bagaimana hal itu bisa terjadi. Ia beranggapan bahwa hantu Pak Harrigan itu ada dan senantiasa melindunginya sehingga hal itu ia manfaatkan untuk membalas dendam kepada musuhnya. Di sinilah hal-hal buruk mulai berdatangan.

Di film ini, Martell ditemani oleh aktor senior bernama Donald Sutherland yang berperan sebagai Pak Harrigan. Ia berhasil menghidupkan karakter Pak Harrigan ke dalam layar lebar dengan performa yang apik dan hangat. Penonton ikut tersentuh akan karakter Pak Harrigan dan merasakan duka yang mendalam setelah kepergiannya meskipun dengan waktu tayang yang tidak begitu banyak.

Selain kumpulan pemeran yang ciamik, sang sutradara tidak menghilangkan elemen-elemen dalam cerita Stephen King yang biasa kita baca: orang tua yang sudah meninggal, ikatan magis persahabatan, perundungan di sekolah, dan proses menuju pendewasaan. Dalam adaptasi kali ini, karakter utamanya dihadapkan pada cobaan-cobaan yang sulit. Ia mengalami kehilangan dan rasa kesepian yang mendalam akibat ditinggal oleh orang-orang yang dicintainya.

Di film ini, kita akan menyaksikan bagaimana cara Craig menghadapi lika-liku masalah dan rasa kesepiannya. Selain itu, ditampilkan pula prosesnya dalam mengikhlaskan mereka yang sudah tiada. Di balik kepelikan itu semua, film ini dibaluti oleh pesan moral berupa betapa beresikonya perkembangan teknologi yang semakin maju seiring perkembangan zaman. Kita harus secara bijak menggunakan dan tidak berlaku sembrono dalam memanfaatkan teknologi.

Dapat kita saksikan di film ini bahwa Pak Harrigan telah memprediksi akan dampak yang hadir dari pesatnya perkembangan siber yang sudah terjadi. Beberapa diantaranya seperti kemunculan internet, media sosial, berita-berita palsu, hingga peristiwa pengakuan seorang whistleblower bernama Edward Snowden yang secara terang-terangan membuka kebusukan National Security Agency (NSA).

 Film yang manis ini sudah bisa diakses di platform siaran Netflix bagi kamu yang ingin menontonnya.

(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

Leave a comment