Hits: 104
Sinta Wulandari/ Shalli Anggia
Pijar, Medan. Anda mungkin pernah melihat orang yang sulit merasa bahagia, terlihat murung, tidak bersemangat dalam menjalani aktifitasnya dan tidak bergairah? Atau barangkali Anda pernah berada dalam kondisi seperti itu?
Kondisi tersebut dalam dunia medis disebut dengan anhedonia. Istilah ini mungkin terdengar asing ditelinga kita, karena biasanya kita lebih sering mendengar kata hedonis. Anhedonia merupakan kondisi di mana penderitanya kehilangan perasaan bahagia dan kegembiraan, hal-hal yang dulu membuat mereka merasa bahagia dan menyenangkan menjadi terasa biasa saja.
Mereka yang dulu senang mendengarkan lagu, hobi menggambar, jalan-jalan, menyukai makanan tertentu atau hal lain yang membuat bahagia, ketika mengalami anhedonia semua itu menjadi terasa biasa saja bahkan sangat membosankan.
Sebagian dari kita pastinya pernah menonton film Winnie the Pooh. Ada satu karakter bernama Eeyore. Orang yang mengalami anhedonia bisa dicirikan dengan karakter Eeyore ini. Selalu terlihat murung, tidak bersemangat, tidak pernah tersenyum seperti tidak ada kebahagian dalam hidupnya.
Dilansir dari WebMD, ada 2 jenis utama anhedonia yaitu anhedonia sosial dan anhedonia fisik. Anhedonia sosial ini adalah kondisi dimana seseorang tidak tertarik melakukan kontak sosial dengan orang lain. Mereka tidak ingin menghabiskan waktu mereka bersama orang lain dan lebih banyak menghabiskan waktu sendirian.
Sedangkan anhedonia fisik menyebabkan penderitanya tidak mampu merasakan kenikmatan atau kebahagiaan dengan sentuhan fisik, seperti pelukan orang tersayang tidak lagi membuat bahagia, menu favorit yang terasa hambar, bahkan mereka juga kehilangan gairah dalam hubungan seksual.
Dengan kata lain, seseorang yang dilanda anhedonia ditandai dengan menarik diri dari kehidupan sosial, hubungan dengan orang lain berkurang, atau menarik diri dari hubungan sebelumnya, kemampuan emosional yang berkurang, termasuk kurang ekspresi verbal atau nonverbal, masalah fisik yang terus-menerus, seperti sering sakit, kesulitan menyesuaikan diri dengan situasi sosial. Lantas, apa penyebab seseorang bisa mengalami Anhedonia?
Dilansir dari Alodokter, penyebab utama anhedonia belum diketahui secara pasti. Namun, berbagai penelitian menunjukan bahwa anhedonia dapat terjadi karena adanya gangguan sel saraf otak dan penurunan zat kimia dalam otak yang berfungsi menghasilkan rasa senang seperti dophamin.
Selain itu, anhedonia juga dapat terjadi akibat adanya penyakit mental seperti depresi, gangguan bipolar, skizofrenia dan lain-lain. Namun, tidak selamanya orang yang mengalami anhedonia mengalami penyakit mental tersebut. Anhedonia juga dapat terjadi karena adanya faktor-faktor lain seperti penyakit Parkinson, diabetes, penyakit Arteri Koroner, penyalahgunaan obat-obatan, bahkan PTSD (Posttraumatic Stress Disorder).
Anhedonia yang tidak segera diobati akan semakin memperburuk kondisi penderitanya. Apalagi anhedonia ini disebabkan oleh berbagai faktor dan juga berkaitan dengan gangguan mental. Oleh karena itu, butuh penanganan yang tepat dalam mengatasinya. Jika anhedonia ini diatasi dengan asal-asalan atau tidak diatasi dengan cara yang benar justru akan membuat penderitanya semakin merasa cemas. Bahkan, yang terparah sampai melakukan percobaan bunuh diri.
Karena itu, langkah awal kita untuk mengatasi anhedonia ini adalah berkonsultasi ke dokter atau psikiater, untuk memastikan kondisi kita yang sebenarnya, supaya dapat dilakukan penanganan yang benar. Hindari untuk melakukan diagnosis sendiri (self diagnosed), karena hal tersebut dapat menimbulkan kekeliruan.
Penanganan terhadap penderita anhedonia ini pun beragam, tergantung dari jenis anhedonia yang dialami. Beberapa cara dilakukan dapat berupa pemberian obat-obatan atau melakukan psikoterapi. Bahkan, sebagian orang yang mengalami anhedonia, mereka juga mulai mengatur gaya hidup menjadi lebih baik, misalnya sering melakukan mediasi, mengonsumsi makanan yang sehat dan melakukan hal-hal positif lainnya.
(Redaktur Tulisan: Muhammad Farhan)

