Hits: 50
Dicky Wahyudi
Pijar, Medan. Pernahkah kita bertanya apakah kita sudah berpikir secara rasional dalam menjalani keseharian, atau ketika berargumen? Apakah kita sering melakukan kesalahan berpikir yang membuat argumen kita menjadi tidak nyambung?
Berpikir rasional merupakan satu cara yang dapat diterapkan dalam keseharian kita untuk membuat suatu argumen, yang sering kita gunakan dalam berdiskusi, belajar, hingga berdebat. Sebagai individu di kehidupan sosial, manusia tidak dapat menghindari diskusi dan perdebatan untuk mencapai tujuan pribadi maupun bersama.
Dalam upaya menjalani kehidupan dengan rasional, kita sering berjumpa dengan pemikiran orang lain yang diutarakan atau dilakukan, dan membuat kita merasa, “Hah, kok gitu, sih?” atau, tanpa disadari kita sering membuat orang lain berkata seperti itu. Hal tersebut bisa saja berhubungan dengan bagaimana sebenarnya cara kita berpikir, dan secara sadar maupun tidak sadar, kita telah melakukan Logical Fallacy atau kesalahan berpikir.
Melansir dari thoughtco.com, Logical Fallacy atau sesat pikir merupakan kesalahan dalam sebuah penalaran yang membuat argumen tidak valid. Istilah fallacy pada dasarnya diambil dari bahasa Latin, yaitu fallacia yang berarti deception. Deception dalam bahasa Indonesia artinya tipu muslihat atau penipuan. Dengan kata lain, argumen yang dilontarkan oleh seseorang tidak terbukti kebenarannya dan berpotensi menipu orang lain.
Logical Fallacy sendiri memiliki beberapa jenis yang menjelaskan situasi seseorang yang kesulitan atau salah mengartikan makna sebenarnya, serta keliru untuk menafsirkan suatu masalah dan konteks. Melakukan debat atau diskusi dengan kita yang masih memiliki kesalahan berpikir, atau berdebat dengan mereka yang memiliki kesalahan dalam argumennya, membuat debat ataupun diskusi menjadi tidak ada ujungnya. Jika seharusnya tujuan awal berdiskusi adalah mencari tujuan hasil, akhirnya malah selesai dengan pertengkaran.
Di era digital saat ini, sering terjadi perdebatan yang tidak memiliki konteks dan tidak ada kesinambungan argumen antara pihak yang berdebat di konten, ataupun di kolom komentar. Mungkin kita sering mendengar argumen yang berkata “semua cowo sama aja” atau “cewe emang kaya gitu”, Logical Fallacy masuk ke jenis Hasty Generalization, di mana seseorang menyamaratakan sesuatu menjadi satu, padahal belum tentu semua konteks tersebut serupa.
Terkadang, kita juga sering menganggap argumen atau pendapat dari seseorang yang bukan ahli di bidang tersebut merupakan satu hal yang valid. Hal ini dikenal dengan Ad Hominem Fallacy. Contohnya adalah ketika kita memberikan pendapat terhadap teman yang bercerita tentang masalah di hubungannya, ia malah merespons, “Ah, kamu aja jomblo, kenapa malah menasihati”. Atau dalam konteks lebih besar, ketika pemerintah membuat suatu hal dan kita menyampaikan pendapat di media sosial, pasti ada saja orang yang berkomentar, “Emangnya dirimu pakar hukum?”. Lantas, jika logikanya seperti ini, apakah yang bisa mengkritik pemerintah hanya orang yang pernah menjadi Presiden?
Ada banyak cara agar kita terhindar dari jenis-jenis kesalahan berpikir ini. Dengan mengutamakan rasionalitas, sebuah pemikiran dapat diciptakan dengan baik tanpa ada kesalahan berpikir. Ketika bertemu dengan keadaan ketika kamu berbincang bersama orang yang memiliki kesalahan dalam berpikir, cobalah untuk menyamakan makna dan tujuan diskusi kedua belah pihak agar terhindar dari pertengkaran.
Menghindar dari kesalahan berpikir bukan berarti kita menutup diri untuk melakukan diskusi dengan orang lain. Diskusi tetap diperlukan untuk mengetahui kualitas argumen kita, dan apakah argumen yang kita miliki terhadap sesuatu sudah benar atau belum, serta terbebas dari sesat pikir ini. Berpikir rasional dan menghindari Logical Fallacy sebagai gaya hidup dapat bermanfaat untuk kita sebagai individu dan makhluk sosial.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

