Barongsai Bintang Sakti, Idealisme Melestarikan Warisan Leluhur

Hits: 73

Pijar, Medan. Anak-anak itu terlihat ceria dan penuh tawa. Tak jauh dari mereka berdiri seorang laki-laki berbadan tegap yang sedang mengamati dengan serius. Dengan gerakan-gerakan tangannya, sesekali ia memberikan arahan-arahan gerakan barongsai kepada anak-anak didiknya itu. Namanya Chandra, namun banyak orang yang lebih mengenalnya dengan nama Ayen, pelatih grup barongsai Bintang Sakti.

Sudah tiga tahun Ayen mendirikan grup barongsai Bintang Sakti. Nama itu sebenarnya ia ambil dari nama bengkelnya yang bernama sama di Jalan Thamrin, Medan. Awalnya ia mempelajari barongsai dari seorang kenalannya di Tanjung Morawa, hingga kemudian tertarik untuk mendirikan grup barongsai sendiri. Baginya, barongsai merupakan kesenian dari Tionghoa yang harus dilestarikan.

Grup barongsai yang diasuh Ayen beranggotakan 30 orang anak-anak yang masih berusia sekolah. Ayen mengakui ketertarikan anak-anak ini muncul secara acak. “Mereka ini bergabung karena sudah pernah melihat Bintang Sakti main.Karena tertarik mereka kemudian bergabung,” kata pria yang tak lama akan menjadi ayah ini.Ia juga mengatakan bahwa anak-anak ini bergabung karena hobi, bukan untuk mencari nafkah. Namun hasil yang didapat dari pertunjukan akan dibagi kepada setiap anggota dan menjadi penghasilan sendiri untuk mereka. Ayen menegaskan dia tidak hanya merekrut anggota dari kalangan etnis Tionghoa saja.“Kalau ada warga pribumi yang tertarik untuk bergabung dan mempelajari barongsai ini, ya tidak masalah. Silahkan saja,” katanya.

Dengan penuh semanangat pemain musik menabuh nong (gong), cai-cai (simbal) dan tambur barangsai. Suaranya membahana di areal tertutup parkir Plaza Uniland itu. Seperti merasuk, suara itu kian menggenjot semangat setiap pemainnya. Pemain musik bergoyang menikmati musik seraya memperhatikan rekan mereka yang sedang beratraksi yang juga mengikuti irama musik. Kata Ayen, untuk pertunjukan minimal dibutuhkan 17 orang sebagai pemain barongsai dan pemain musik.

Ayen mengaku tidak ada kesulitan berarti untuk mengelola grup barongsai ini. “Yang sulit terkadang adalah ketika mengatur anak-anak. Terkadang jadi suka sibuk sendiri. Tapi maklumlah, namanya juga anak-anak, kan,” katanya sambil tersenyum.

Barongsai pada umumnya dipakai sebagai sarana menghibur masyarakat pada perayaan hari-hari besar masyarakat Tionghoa. Namun tidak jarang juga mereka diminta tampil untuk mengusir roh jahat dan aura negatif di suatu tempat.

Kesenian barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah Raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan Raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda.

Perkembangan barongsai kemudian berhenti pada tahun 1965 setelah meletusnya Gerakan 30 September. Situasi politik pada waktu itu menenggelamkan segala macam bentuk kebudayaan Tionghoa di Indonesia. Barongsai pun dimusnahkan dan tidak boleh dimainkan lagi. Perubahan situasi politik Indonesia setelah tahun 1998 membangkitkan kembali kesenian barongsai dan kebudayaan Tionghoa lainnya. Banyak perkumpulan barongsai kembali bermunculan. Berbeda dengan zaman dahulu, sekarang tak hanya kaum muda Tionghoa yang memainkan barongsai, tetapi banyak pula kaum muda pribumi Indonesia yang ikut serta.

Ayen berharap grup ini berkembang dan bertahan lama dengan lebih banyak dukungan lagi dari masyarakat guna melestarikan warisan leluhur masyarakat Tionghoa ini.

Nampak dua orang anggota yang mengangkat kepala singa yang mereka sebut gedong. Gedong ini berwarna merah muda dangan panjang sekitar lima meter. Mereka menggoyangkan gedong seiring musik yang menambah riuh latihan barongsai kala itu. Ayen sendiri selaku pemilik dan pelatih grup menyatakan tidak ada kesulitan yang berarti dalam menghidupi grup Bintang Sakti ini. “Mungkin masalah ngatur anak-anak inilah. Kadang suka sibuk sendiri dan susah ngaturnya. Tapi ngertilah, namanya juga anak-anak kan.” Tandasnya.

Ia juga menyatakan bahwa dia tidak hanya merekrut anggota dari kalangan etnis Tionghoa saja namun juga dari warga pribumi yang tertarik untuk bergabung dan mempelajari barongsai ini.

Barongsai yang pada umunya dipakai untuk menghibur pada perayaan hari besar masyarakat Tionghoa namun terkadang mereka dipanggil untuk perform di suatu tempat dengan tujuan mengusir roh jahat dan aura negatif dari tempat itu.

Dalam mengembangkan grup ini, Ayen di bantu banyak pihak yang mendukungnya untuk melastarikan warisan leluhur masyarakat Tionghoa. Ayen berharap grup Bintang Saktinya dapat bertahan bahkan memiliki pewaris agar barongsai tetap bertahan dan dikenal. [dana]

 

Leave a comment