Agnes Priscilla Siburian

“Rasa percaya bahwa meskipun bukanlah hari yang sempurna, hari ini bisa menjadi hari yang cukup dan baik-baik saja. Rasa percaya bahwa hidup adalah ketika meskipun aku merasa depresi seharian penuh, aku masih bisa tersenyum hanya gara-gara sebuah hal kecil sekali pun”. (Halaman 16)

Pijar, Medan. Mendengar suara-suara halusinasi, melihat hal-hal khayalan, dan melukai diri sendiri bukanlah sebuah penyakit. Seperti sebuah flu ringan yang membuat tubuh kita sakit, rasa depresi yang ringan pun membuat mental kita sakit.

Begitulah yang dialami oleh sang penulis, Baek Se Hee wanita yang lahir di Seoul tahun 1990. Buku ini diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh dirinya sendiri. Baek Se Hee yang mengalami persistent depressive disorder atau distimia selama kurang lebih 10 tahun.

Setelah menamatkan jenjang perguruan tingginya di salah satu Universitas dengan jurusan Sastra, Ia bekerja di salah satu penerbit selama lima tahun. Sembari bekerja,  Baek Se Hee mencoba mengunjungi berbagai psikolog dan psikiater. Singkat cerita, Baek Se Hee akhirnya menemukan rumah sakit yang cocok pada tahun 2017 dan saat ini sedang menjalani perawatan, baik dengan  konsultasi maupun bantuan obat.

Berbicara mengenai judul buku, para pembaca tentu akan bertanya, mengapa ada tteopokki? Makanan Korea ini merupakan makanan kesukaan sang penulis saat membaca buku dan menulis cerita.

Di bagian awal buku, terdapat juga kata pengantar dari dr. Jiemi Ardian, SP.KJ yang memberikan sedikit penjelasan tentang definisi pribadi yang mengalami distimia.

“Distimia ini adalah bentuk kronis (jangka panjang) dari depresi. Seseorang dapat kehilangan ketertarikan yang normal pada aktivitas sehari-hari, merasa tidak ada harapan, produktivitas berkurang, harga diri yang rendah, dan perasaan tidak layak,” jelas dr. Jiemi Ardian.

Tidak mengherankan jika buku I Want to die but I Want to eat Tteopokki karya Baek Se Hee ini berhasil menjajaki posisi bestseller nomor 1 di Korea Selatan. Pasalnya, sang pembaca akan diajak ikut merasakan apa yang dirasakan Baek Se Hee dan psikiaternya.

Para pembaca akan disuguhkan dengan cerita pengalaman pertama Baek Se Hee mengunjungi psikiater, bagaimana rasanya dan apa saran yang diberikan oleh psikiater. Semua dibungkus rapi dalam sebuah percakapan.

Peristiwa psikologis atau trauma yang dialami pengarang di masa kanak-kanak memiliki efek jangka panjang pada kesehatan mental dan kepribadian. Kondisi keluarga, tekanan teman sebaya, atau peer pressure dan tekanan sosial adalah beberapa faktor yang menyebabkan suasana hati Baek Se Hee buruk.

“Lembaran yang berisi kutipan motivasi”(Fotografer : Agnes Priscilla)

Salah satu hal menarik dari kumpulan esai ini adalah karena ditulis dalam bentuk percakapan antara penulis dengan psikiaternya. Jika dideskripsikan, hampir semua bab dimulai dengan pernyataan atau pertanyaan monolog si penulis, kemudian diikuti dengan percakapan mereka berdua, baru ditutup dengan kontemplasi si penulis dengan sebuah kutipan atau pelajaran yang bisa diambil.

Dari apa yang diceritakan Baek Se Hee, buku ini sangat bagus untuk memberikan kesadaran kepada banyak pembaca untuk melawan stigma negatif tentang kesehatan mental. Pada akhirnya, Baek Se Hee ingin memberitahu pada pembaca bahwa kita hanya perlu sedikit lebih mencintai diri kita sendiri.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk sobat Pijar yang ingin lebih memahami diri dan mengatasi masalah hati. Cerita panjang Bek Se Hee tidak berhenti sampai sini, catatan perjalanannya selama mendapatkan terapi dari psikiater masih belum usai, dan bersambung ke volume 2 (buku berikutnya).

(Editor: Lolita Wardah)

Leave a comment