Hits: 38

Michael Sitorus

Pijar, Medan. Pada tahun 2018, dunia perfilman Indonesia menghadirkan sebuah kisah kehidupan seorang anak berkebutuhan khusus (ABK) yang dibumbui makna persahabatan. Dikemas dalam sebuah film berjudul Dancing in the Rain, bercerita tentang seorang anak bernama Banyu yang ditelantarkan orang tuanya sejak bayi karena suatu alasan.

Film ini disutradarai oleh Rudi Aryanto dan dibintangi oleh Christine Hakim, Dimas Anggara, Deva Mahendra dan Bunga Zainal. Dalam proses pembuatan film Dancing in the Rain, Dimas Anggara ditemani seorang psikiater dan membutuhkan tiga bulan untuk menjiwai karakter dan gerakan tubuh anak berkebutuhan khusus untuk memerankan karakter Banyu.

Dalam kisahnya, semenjak ditelantarkan oleh orang tuanya, Banyu dirawat dan dibesarkan oleh Eyang Uti sendirian dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Namun, kondisi yang diderita Banyu baru disadari oleh Eyang Uti ketika berbagai konflik yang dialami Banyu sewaktu memasuki taman kanak-kanak.

Ketika memasuki sekolah dasar, Banyu ingin mencoba untuk bersosialisasi dengan anak-anak komplek sekitar rumahnya. Namun, ia mendapatkan perundungan karena perilakunya yang dianggap aneh oleh mereka. Seiring dengan kejadian tersebut, Banyu akhirnya mempunyai dua orang sahabat, yaitu Radin dan Kinara yang akan menemaninya hingga dewasa.

Banyak momen menyenangkan yang mereka lalui bersama. Salah satunya, menari di tengah hujan ketika pulang dari sekolah, karena Banyu sangat menyukai air hujan. Berbagai benda yang berkaitan dengan hujan, perhatian Banyu akan selalu tertuju dengan benda tersebut. Oleh karena itu, judul dari film ini terinspirasi dari hal kesukaan Banyu, yaitu menari di tengah hujan.

Namun, perjalanan kisah persahabatan mereka ternyata tidak selalu berjalan dengan baik. Ibunya Radin tidak menyukai dan melarang anaknya untuk bermain dengan Banyu karena keterbatasan sosial yang di milikinya. Di sisi lain, Kinara juga semenjak kecil mengidap penyakit meningitis dan sempat terbaring di rumah sakit ketika menginjak dewasa.

Permasalahan memuncak saat persahabatan mereka mulai retak ketika meranjak dewasa. Diawali ketika ibunya Radin memfitnah Banyu dengan mendorong dirinya sendiri hingga terjatuh. Kejadian tersebut terjadi bersamaan ketika Radin datang, sehingga ia salah paham dan pergi meninggalkan Banyu bersama ibunya. Namun, berbagai permasalahan dalam film ini diakhiri dengan kembali berkumpulnya ketiga orang sahabat tersebut, walaupun dalam situasi yang menyedihkan.

Film ini menyampaikan pesan yang mendalam mengenai perhatian terhadap anak berkebutuhan khusus. Mereka adalah anak yang istimewa yang memiliki keterampilan tertentu dan mereka sangat membutuhkan kasih sayang serta perhatian yang lebih spesifik dari orang disekitar mereka.

Kesukaan Banyu terhadap air hujan telah ada semenjak ia kecil. Walaupun tidak ada alasan khusus yang menjelaskan hal tersebut di dalam film, tetapi secara umum banyak anak penyandang autisme yang tertarik pada air. Alasannya karena air dapat meredam rangsangan sensorik yang diterima dan menciptakan rasa nyaman serta ketenangan sementara bagi penderita autisme.

Film ini tidak hanya mengangkat isu anak berkebutuhan khusus atau disabilitas, tetapi juga makna persahabatan. Banyu, Radin, dan Kirana adalah tiga orang sahabat yang pertemuannya masing-masing diawali dengan masalah perundungan.

Dancing in the Rain menyampaikan pesan yang sangat mendalam dan inspiratif. Perjuangan hidup seorang penyandang autisme yang dipenuhi kisah emosi tentang persahabatan dan pengorbanan tulus membuat konflik dari para karakter terasa sangat natural, sehingga cocok sebagai tontonan untuk mengisi waktu luang.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti) 

Leave a comment