Circle Publisher

Sekitar 30 persen lahan di Indonesia digunakan untuk pertanian. Karena pertanian memang jadi salah satu sektor kunci perekonomian Indonesia. Sumber daya alam memenuhi, namun sumber daya manusia masih diharapkan untuk mumpuni. Belum selaras, belum seimbang, dan masih belum sejalan. Kekhawatiran-kekhawatiran itu pun meluncurkan ide bagi seorang M. Dava Warsyahdana untuk mendirikan suatu start-up bernama Kita Pertanian.

Mulanya ketika pandemi covid-19 melanda, seluruh sektor yang dilakukan dengan offline harus dilakukan secara online. Sebagian besar keadaan menjadi terpuruk. Menghambat aktivitas orang-orang untuk tetap produktif. Tetapi Dava memandang hal ini secara berbeda. Ia tetap produktif dengan semakin melebarkan sayap kebermanfaatannya meskipun sedang berada di masa pandemi.

Pandemi yang membuat orang-orang harus berada di rumah saja, juga memunculkan aktivitas sehari-hari yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Sebut saja work out, binge watching, dan bercocok tanam. Banyak orang yang mulai bercocok tanam, namun masih minim edukasi mengenai tanam-menanam yang sebenarnya. Di sinilah Dava ingin mengibarkan pengetahuannya, yang ia dapat sebagai mahasiswa pertanian.

Tidak hanya itu saja awal mula Dava menanamkan benih-benih Kita Pertanian. Ia juga merasakan keresahan, yang datang dari lingkungan edukasinya. Sesama mahasiswa pertanian, ia yakin bahwa anak pertanian memiliki kebermanfaatan yang sangat luas untuk diberikan kepada dunia pertanian khususnya para petani itu sendiri di Indonesia. Namun, kebermanfaatan yang telah mereka berikan belum dirasa maksimal.

Kita Pertanian pun berdiri pada Juni 2020 dan aktif di berbagai media sosial. Dengan berbagai macam kisah, alasan, dan ide di balik berdirinya start-up ini, namun tetap terdapat satu hal utama poros tujuan dari Kita Pertanian yakni untuk memajukan tani di tanah air. Baik itu dari segi sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya.

Kualitas seorang M. Dava Warsyahdana di dunia pertanian memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Hal itu bukan hanya karena dirinya merupakan mahasiswa jurusan Agroteknologi angkatan 2017 USU saja, melainkan juga karena beberapa penghargaan dan penemuan yang telah diraihnya. Gold Medal World Invention and Innovation Contest di Korea Selatan pada tahun 2019 dan Gajura S.Pd adalah salah satunya.

Sejatinya, sosok Dava memang gencar akan kebermanfaatan. Ia tidak ingin menyia-nyiakan hidupnya dengan hal yang sia-sia. Karena ia merasa, pemuda Indonesia memiliki sejuta manfaat yang patut untuk digaungkan. Jalurnya bermacam, seperti prestasi dan sukarelawan yang Dava lakukan. Bidangnya pun beragam, salah satunya pada sektor pertanian.

“Indonesia tidak hanya ditentukan oleh batas peta, tapi gerak dan peran oleh anak muda, mari kita tingkatkan literasi. Karena pada dasarnya, bangsa Indonesia bukan bangsa kelas teri. Mari kita kolaborasi, berprestasi, dan bermanfaat untuk mewujudkan kesuksesan bangsa,” tegas Dava.

Leave a comment