Hits: 22

Evelin Margareta Purba

Pijar, Medan. Semua orang berhak mendapatkan pendidikan, tanpa terkecuali. Namun, tidak semua orang bisa menerimanya karena di masa sekarang ini, untuk mendapatkan akses pendidikan membutuhkan yang namanya materi.

Lalu bagaimana dengan masyarakat di daerah pinggiran atau marginal? Bagaimana caranya agar pendidikan itu sampai kepada mereka, apabila mereka tidak memiliki cukup materi untuk beberapa hal, termasuk pendidikan?

Andre Tubecardo Doloksaribu, seorang aktivis muda pendiri Organisasi Sikkola Rakyat, memiliki keinginan untuk menghadirkan wadah di tengah-tengah masyarakat yang punya kelemahan, terkhususnya di bidang pendidikan. Ia ingin menghadirkan ruang belajar yang aman dan nyaman untuk masyarakat marginal agar dapat belajar dan mengembangkan diri.

Selain untuk anak-anak, Sikkola Rakyat juga memiliki kegiatan pemberdayaan untuk kaum ibu. Tujuannya adalah agar para ibu dapat lebih kreatif dan mendapatkan ilmu untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri mereka.

Dalam prosesnya, berbagai tantangan juga turut dirasakan oleh Andre dan teman-teman Sikkola Rakyat. Sikkola Rakyat sempat beberapa kali mendapatkan penolakan, tetapi karena usaha orang-orang di balik Sikkola Rakyat yang pantang menyerah membuat Sikkola Rakyat akhirnya diterima di tengah masyarakat.

“Cara menyelesaikannya, ya membangun hubungan dan pendekatan dengan cara mengambil hati masyarakat di situ. Oleh karena itu, ketika yang awalnya menolak, tetapi ketika lihat motivasi kita baik, kita bisa berbaur dengan masyarakat, akhirnya anak-anak punya ruang belajar. Orang tua juga yang melihat itu pastinya akan menjadi lebih paham dan mengerti,” ucap Andre.

Sebagai aktivis muda, Andre tidak pernah berhenti mengingatkan generasi muda lainnya untuk mulai melakukan hal yang sama. Ia berharap mahasiswa tidak hanya mementingkan diri sendiri dan mulai aktif sejak di bangku perkuliahan selagi masih banyak kesempatan dan waktu luang.

Nggak semua hanya tentang aku, aku, dan aku. Yang katanya anak muda agent of change, mana change-nya? Hanya di masa mahasiswa ini kita bisa bereksplorasi, bebas melihat dunia dari sisi kacamata yang lain. Selagi masih ada waktu, yuk join komunitas yang emang gerakin kamu untuk peduli dengan masyarakat secara luas,” ujar Andre.

Selain menjadi pendiri (founder) dari Organisasi Sikkola Rakyat, Andre juga pernah mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Republik Indonesia (RI) sebagai tokoh muda inspiratif Indonesia. Andre juga sempat menjabat sebagai ketua umum Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Studi Pedesaan Universitas Sumatera Utara (USU) yang berfokus pada riset desa dan melakukan pengabdian, salah satunya merevitalisasi jembatan di Langkat.

Selain itu, Andre dan Sikkola Rakyat juga pernah melaksanakan “Gerakan Anti Sampah Plastik” selama satu bulan dan berhasil mengumpulkan lebih dari 300 kilogram sampah plastik. Sampah tersebut di daur ulang menjadi produk yang dapat digunakan kembali dengan melibatkan warga sekitar, dalam rangka meningkatkan tanggung jawab dan kesadaran akan gaya hidup berkelanjutan.

Meskipun usianya masih terbilang cukup muda, tetapi perhatian dan kepeduliannya membuat sosoknya layak untuk dicontoh. Ia ingin menyadarkan semua orang terkhususnya anak muda, tentang pentingnya untuk melihat di sekitar bahwa ternyata masih banyak yang membutuhkan pertolongan tangan kita. “Jangan katakan mustahil, tetapi katakan aku mau ikut andil”.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment