Hits: 49

Nabila Zuhra Mubarok

Perkembangan teknologi keuangan dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar kepada masyarakat Indonesia, yang mulai memasuki era tanpa uang tunai. Dalam kehidupan sehari-hari yang semuanya semakin serba cepat, kita pasti sering mendengar istilah “cashless society” atau yang dimaksud dengan era masyarakat tanpa uang tunai.

Bayangkan saja, ketika kita ingin membayar sesuatu saat berbelanja, atau membayar tagihan, kita tidak perlu lagi membuka dompet untuk mengeluarkan lembaran uang kertas. Karena, segala transaksi sudah dilakukan dengan pembayaran digital yang sekali sentuh saja. Fenomena ini bukan sekadar mimpi, melainkan kenyataan yang sedang berkembang pesat di masyarakat Indonesia. Dompet digital seperti DANA, Gopay, ShopeePay, dan OVO, telah menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia karena dianggap mudah dan praktis.

Salah satu alasan utama mengapa dompet digital sangat diminati oleh masyarakat adalah kemudahannya. Kita tidak perlu lagi membawa uang tunai yang bisa hilang atau rusak. Cukup dengan mengisi saldo melalui transfer, kita bisa siap bertransaksi kapan saja. Selain kemudahan, dompet digital juga menawarkan berbagai promo dan diskon yang menarik. Namun di balik kemudahan ini, telah muncul fenomena baru pada pengguna dompet digital, yaitu peningkatan perilaku konsumtif yang menyebabkan orang menjadi lebih boros.

Perubahan pembayaran menjadi tanpa tunai juga telah didukung oleh pemerintah Indonesia. Berdasarkan data Bank Indonesia (2025), yang dikutip dari infobanknews.com diakses (10 Oktober 2025), volume transaksi pembayaran pada digital pada Agustus 2025 telah mencapai sekitar 4,43 miliar transaksi, meningkat sebesar 39,79%. Kenaikan ini menggambarkan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia menuju ekonomi digital, sekaligus meningkatnya pola konsumsi masyarakat akibat kemudahan transaksi pada dompet digital.

Abdul Hafiz, mahasiswa Politeknik Negeri Medan sebagai pengguna dompet digital (DANA dan Gopay) menanggapi hal ini.

“Pakai dompet digital buat kita sadar kalau nilai uang itu gampang banget “ngalir”. Cukup sekali klik, kita bisa beli ini itu. Aku sendiri sering kebawa promo. Aku niat beli satu barang atau makanan, tetapi akhirnya beli dua atau tiga karena tergoda sama diskonnya,” ujarnya dalam wawancara Sabtu (11/10/2025).

Ia mengaku bisa menghabiskan banyak uang dalam sebulan, bahkan seminggu hanya untuk membeli makanan saja.

Fenomena pengguna dompet digital semakin jelas. Berdasarkan data riset dari qris.interactive.co.id yang diakses (10 Oktober 2025), mencatat bahwa volume transaksi  Quick Response Code Indonesian Standard  (QRIS) sebesar 148,50% pada bulan Juni 2025, dengan nilai transaksi QRIS mencapai Rp 317 triliun. Angka ini merupakan bukti nyata bahwa perilaku konsumtif masyarakat meningkat, semakin nyaman dan terbiasa menggunakan QRIS untuk berbagai keperluan.

Dompet Digital, Bikin Uang Hilang Cepat Di Era Cashless - www.mediapijar.com
Penggunaan dompet digital di era cashless
(Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi Nabila Zuhro Mubarok)

Salah satu dampak terbesar dari pembayaran digital adalah hilangnya “rasa sakit saat mengeluarkan uang” karena tidak ada lagi momen menyerahkan uang secara fisik. Uang terasa hilang hanya dengan sekali klik saja. Penelitian Ayang Sukma dalam jurnal WORLDVIEW juga menunjukkan bahwa kemudahan dompet digital membuat orang kurang sadar dengan pengeluarannya. Akibatnya, dorongan belanja spontan jadi lebih kuat.

Farhaini, mahasiswi Universitas Negeri Medan sekaligus pengguna dompet digital (OVO) turut berpendapat.

“Bagiku, sistem pembayaran digital memang praktis banget. Tinggal klik atau scan, transaksi langsung kelar tanpa ribet bawa uang tunai. Namun, justru karena terlalu gampang, kita jadi lebih sering tergoda buat belanja. Apalagi pakai QRIS, rasanya tidak kayak ngeluarin uang beneran, padahal saldo e-wallet cepet banget habis. Jadi kadang tanpa sadar, malah makin boros,” ujarnya dalam wawancara Senin (13/10/2025).

Era tanpa uang tunai telah membuka pintu kemudahan dalam bertransaksi, dan dompet digital kini menjadi alat utama dalam bertransaksi. Namun, di balik praktisnya sistem pembayaran digital ini, dorongan konsumtif juga muncul. Karena itu, pengguna dompet digital tetap perlu diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang bijak. Tanpa literasi keuangan, kemudahan ini bisa berubah menjadi beban. Lalu, bagaimana dengan Anda? sudah beralih ke dompet digital atau masih setia dengan uang tunai?

Leave a comment