Hits: 5

Nabila

Pijar, Medan. Di beberapa keluarga, terutama di lingkungan Asia, dorongan terhadap anak untuk berprestasi sering muncul, bahkan sejak anak masih kecil. Jadwal belajar yang padat, mengikuti les tambahan, sampai tuntutan nilai yang tinggi jadi hal yang cukup umum ditemui. Banyak orang tua menganggap hal itu sebagai bentuk perhatian, sekaligus persiapan untuk masa depan anak.

Salah satu jenis pola asuh yang diterapkan ialah Tiger Parenting atau pola asuh harimau. Dilansir dari altaglobalschool.com, Tiger Parenting adalah pola asuh yang tegas, disiplin, dan penuh tuntutan. Metode ini bertujuan untuk membentuk anak menjadi pribadi yang tangguh, percaya diri, dan sukses, tetapi ada sisi lain di balik itu yang sering luput dibahas. Tidak semua anak bisa menerima tekanan yang sama. Bagi sebagian anak, pola asuh ini menyebabkan rasa tertekan karena tuntutan yang diberikan secara terus-menerus.

Anak yang diasuh dengan gaya pengasuhan ini cenderung tidak memiliki ruang untuk berkomunikasi, atau melakukan “negosiasi” dengan orang tuanya. Hal tersebut karena semua keputusan akan diambil oleh orang tuanya, dan anak diharuskan untuk patuh tanpa banyak bertanya.

Melansir dari doktersehat.com, ciri lain dari Tiger Parenting adalah terlalu ketat terhadap anak, di mana orang tua akan menekankan pentingnya akademis demi masa depan. Beberapa aktivitas yang dianggap mengganggu fokus anak, seperti menghadiri pesta ulang tahun teman atau bermain di rumah teman, sering kali dilarang. Orang tua yang menerapkan pola asuh ini juga menentang hal-hal berisiko seperti berpacaran saat anak remaja.

Ciri selanjutnya ialah pendekatan berbasis rasa takut. Dalam keluarga seperti ini, orang tua menjadi sosok yang tidak boleh dibantah, anak diharapkan selalu patuh, serta tidak menyuarakan perbedaan pendapat. Jika anak berani tidak setuju, responsnya bisa berupa ancaman emosional atau hukuman fisik. Ancaman dan hukuman dapat berupa membuang barang kesayangan mereka, tidak diberi makan, dimarahi, dipukul, atau direndahkan.

Ciri berikutnya adalah anak jadi tidak punya ruang untuk mandiri. Hal ini mengajarkan anak untuk selalu mencari persetujuan orang tua sebelum bertindak dalam memutuskan semua hal penting dalam hidup mereka. Tidak ada ruang untuk belajar mengatur diri sendiri, atau mengembangkan cara berpikir yang mandiri. Sayangnya, orang tua juga jarang berusaha memahami kepribadian atau perasaan anak.

Dalam pandangan Tiger Parenting, sukses diukur dari pencapaian yang terlihat dan bisa dibanggakan, seperti menjadi dokter, pengacara, punya nilai sempurna, penghasilan besar, atau menang lomba. Hal-hal penting lainya seperti empati, kreativitas anak, kemampuan berpikir kritis, dan membangun hubungan sosial sering kali dianggap kurang penting dalam perjalanan menuju kesuksesan.

Ada beberapa alasan mengapa sebagian orang tua memilih untuk menerapkan Tiger Parenting. Umumnya, hal ini berakar pada niat baik dan kekhawatiran akan masa depan anak, meskipun cara yang digunakan cenderung keras. Dunia sekarang dianggap semakin kompetitif, dan anak harus dipersiapkan dari awal. Mereka didorong untuk rajin, fokus, dan tidak mudah menyerah. Tekanan yang diberikan justru dilihat sebagai bentuk motivasi supaya anak tidak tumbuh “biasa-biasa saja”.

Selain itu, faktor budaya juga memengaruhi pola asuh ini. Terutama di beberapa negara di Asia, prestasi akademik sangat dijunjung tinggi. Selain itu, ada juga yang melakukannya berdasarkan pengalaman pribadi. Misalnya, orang tua yang tumbuh dalam lingkungan keras dan penuh tekanan cenderung merasa pola asuh itu terbukti efektif karena mereka sendiri merasa hal itu berhasil pada diri mereka. Alih-alih mengubah pendekatan, mereka justru mewariskannya kepada anak dengan harapan hasilnya sama, atau bahkan lebih baik.

Anak-anak yang tumbuh dengan orang tua berpola asuh Tiger Parenting sering kali tidak mendapatkan lingkungan yang penuh kasih sayang dan cinta tanpa syarat. Gaya pengasuhan yang terlalu ketat dan bersifat menghukum dapat memengaruhi kesehatan mental anak, seperti, risiko lebih tinggi mengalami kecemasan, tidak percaya diri, depresi, dan rasa takut berlebihan untuk melakukan kegagalan, atau kesalahan karena khawatir mengecewakan orang tua.

Di sisi lain, ada potensi dampak positif yang diharapkan orang tua dari Tiger Parenting ini, yaitu membuat anak disiplin, meningkatkan etos kerja, dan sukses di aspek akademik atau bidang tertentu.

Sampai sekarang, Tiger Parenting masih banyak digunakan, termasuk di Indonesia. Alasannya sederhana, yaitu banyak orang tua percaya cara ini efektif. Hal yang perlu dipikirkan adalah bukan soal memilih salah satu, tetapi bagaimana orang tua bisa tetap mendorong anak untuk berkembang tanpa mengabaikan kondisi mental mereka. Karena pada akhirnya, sukses bukan hanya soal nilai atau prestasi, melainkan tentang bagaimana anak bisa menjalani hidupnya dengan sehat dan seimbang.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment