Hits: 60
Nadila Tasya Tanjung
Pijar, Medan. Tidak jarang kita temui banyak orang yang memiliki kebiasaan menunda tidurnya demi kesenangan diri yang belum jelas manfaatnya. Setelah lelah satu harian bekerja ataupun melakukan aktivitas yang padat dan menumpuk, di sela waktu tersebut masih ada saja orang yang menyempatkan waktu untuk membuka media sosial atau melakukan hobi sebelum beristirahat di malam hari, misalnya saja seperti olahraga ringan sit up atau push up, dan menonton drama-drama favorit.
Lalu muncul pemikiran “Aku sibuk seharian, wajarlah kalau aku me time sebentar”, padahal tubuh sudah membutuhkan istirahat. Alih-alih tidur untuk istirahat, beberapa dari orang-orang lebih memilih menghabiskan waktunya di malam hari untuk relaksasi atau biasa disebut dengan Revenge Bedtime Procrastination (RBP), di mana isitirahat yang berkedok relaksasi demi menuntut waktu luang yang tidak dimiliki sebelumnya secara sengaja dan sukarela.
Dilansir dari Very Well Mind, istilah Revenge Bedtime Procrastination diperkenalkan melalui sebuah jurnal yang dirilis pada tahun 2014. Kata-kata “revenge” kemudian dipakai untuk menjelaskan bagaimana cara orang-orang dengan jadwal kerja 12 jam sehari dan mendapatkan waktu luangnya.
RBP mulai dikenal melalui seorang jurnalis yaitu Daphne K. Lee lewat cuitannya di Twitter. Ia mengatakan, “Orang-orang yang tidak memiliki banyak kendali atas kehidupan mereka di siang hari akan menolak untuk tidur lebih awal demi mendapatkan kembali rasa kebebasan saat larut malam tiba”.
Namun, kenyataannya keputusan untuk menunda istirahat ketika tubuh membutuhkannya membuat RBP tergolong sebagai gangguan tidur atau biasa disebut insomnia hingga akhirnya bergadang. Seseorang dapat tetap terjaga sampai tengah malam sehingga tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik keesokan harinya. Terlebih lagi apabila kita menonton drama favorit, piala dunia, dan hal lain yang disukai.
Kurangnya tidur yang cukup saat di malam hari tentu dapat berpengaruh pada daya tangkap, rentang perhatian akan suatu hal, sulit untuk fokus, kelelahan, suasana hati yang buruk dan lain sebagainya. Dilansir dari webmd.com, jika jadwal tidur yang berantakan sering terjadi dan dipertahankan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan penyakit yang berbahaya bagi tubuh seperti penyakit jantung, obesitas, gangguan mental, sampai turunnya imun tubuh.
Baik untuk kita selalu menjaga kondisi kesehatan tubuh, terlebih lagi menyangkut pada hal istirahat yang cukup, tidak memaksakan semua kehendak dan kemauan kita hanya demi menggunakan waktu “me time” yang terbuang. Bagi kita seorang mahasiswa, pekerja kantoran, tenaga pendidik juga kesehatan tidak baik untuk selalu memporsir kegiatan dan mengorbankan waktu istirahat sebagai waktu luang karena hal tersebut tetap ada dampak negatifnya.
Mulailah untuk membiasakan diri dengan menetapkan jadwal tidur yang teratur, menyusun atau menuliskan kegiatan per hari agar terjadwal dengan baik, relaksasi ringan yang tidak mengganggu waktu isitirahat misalnya melakukan peregangan tangan dan kaki sebelum tidur, mempersiapkan kasur dengan posisi nyaman sebelum tidur, mematikan lampu dan seluruh perangkat agar tidur terasa lebih nyaman, hingga menggosok gigi sebelum tidur. Hal tersebut mampu membantu kita merasa rileks sebelum pergi tidur dan tubuh benar-benar terelaksasi.
(Redaktur Tulisan: Laura Nadapdap)

