Shofiyana Fadhiilah

Pijar, Medan. Pernahkah kalian melihat seseorang yang tetap tenang meski dicerca dengan kalimat yang tajam? Tidak ada perlawanan, bahkan hanya tersenyum hingga tertawa atas kritikan terhadap dirinya? Demikianlah roasting didefinisikan dalam dunia para Komikus. Di zaman sekarang ini istilah roasting sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bagi kalian yang sering menonton channel YouTube lucu atau tergabung dalam grup meme, pasti sudah merasa populer dengan istilah yang satu ini.

Dalam hal perkopian, roasting memang memiliki arti, yaitu memanggang biji kopi yang mentah. Tetapi, roasting yang kita bahas saat ini sangat berbeda dengan makna tersebut. Roasting sendiri merupakan salah satu bentuk komedi yang berasal dari Amerika Serikat. Secara harfiah, roasting ini berasal dari bahasa Inggris, yakni roast yang berarti memanggang atau membakar. 

Ketika sedang melakukan roasting, seseorang akan membuat sebuah lelucon atau jokes agar sasarannya menjadi kesal dan membuat orang lain yang mendengar ikut tertawa. Memang roasting ini adalah ejekan yang ditujukan terhadap seseorang, tetapi tujuannya adalah untuk melucu dan bukan untuk mem-bully atau menyakiti hati orang lain.

Dikutip dari cnnindonesia.com, teknik roasting pertama kali diperkenalkan oleh kelompok yang bernama Friars’ Club pada tahun 1904-an. Kelompok ini pertama kali dikenal dengan sebutan Press Agents’ Association yang terdiri dari aktor, musisi, dan juga komedian. Berawal dari tradisi mengolok-olok anggota mereka pada tahun 1949 yaitu, Maurice Chevalier yang merupakan seorang aktor dan penyanyi yang berasal dari Perancis.

Beberapa tahun kemudian, komedi roasting tayang di televisi pada akhir tahun 1960-an yaitu dalam sebuah program bernama Kraft Music Hall di saluran NBC. Selanjutnya, pada tahun 1998 hingga 2002 acara roasting The Friars ‘Club menjadi tayangan tetap di stasiun televisi kabel Comedy Central. Namun, sejak tahun 2002 jaringan ini memproduksi serial roasting sendiri dengan judul Comedy Central Roast.

Tidak hanya populer di Amerika Serikat, lelucon dengan teknik roasting juga merambah di kalangan komedian Indonesia. Salah satunya yang ditampilkan dalam acara stand up comedy. Adapun dalam stand up comedy, roasting berarti melontarkan sebuah candaan dengan tujuan untuk meledek atau menertawakan penonton, komika lain ataupun orang yang menjadi sasaran roast-nya. Mereka juga tidak sembarangan dalam me-roasting, mereka akan mencari latar belakang, kegiatan, dan juga hal-hal lain dari orang yang ingin di-roasting. 

Istilah roasting dalam kehidupan sehari-hari juga tidak jauh berbeda dengan istilah dari stand up comedy. Roasting dalam kehidupan sehari-hari adalah menyerang seseorang dengan verbal atau kata-kata yang sengaja dilakukan untuk menyerang seseorang secara personal dan secara langsung. Dilansir dari suara.com, me-roasting juga harus disertai dari persetujuan orang yang di-roast. Pastikan mereka tidak merasa keberatan, agar kata-kata yang dilontarkan tidak menyakiti perasaan dan akhirnya bisa menjadi sebuah penghinaan.

Dengan demikian, tidak semua orang dapat melakukan roasting sesuka hati dengan mengumbar kejelekan orang tersebut. Banyak sekali kita lihat artis, public figure, ataupun orang-orang terdekat yang tidak menerima ketika sedang di-roasting. Konflik tersebut disebabkan oleh si pe-roasting yang melakukannya secara tiba-tiba, tanpa adanya izin dari orang yang bersangkutan. Sehingga roasting yang dilakukan bukannya mendapat apresiasi, tetapi malah mendapat hinaan dan celaan. 

Oleh karenanya, pastikan kita telah mematuhi bagaimana etika dan tetap waspada saat me-roasting, agar nantinya kalimat roasting tersebut tidak menimbulkan kebencian pada orang yang di-roasting maupun pada diri sendiri.

(Editor: Diva Vania)

Leave a comment