Hari Bipolar Sedunia untuk Menyadarkan Masyarakat Terhadap Kehadirannya

Sumber Foto: goodtherapy.org

Salwa Salsabila

Pijar, Medan. Mungkin masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa Hari Bipolar Sedunia diperingati pada 30 Maret. Tanggal 30 Maret juga bertepatan dengan tanggal kelahiran Vincent Van Gogh, seorang seniman asal Belanda, yang merupakan pengidap bipolar paling populer. Kematian Vincent pada tahun 1980 diduga kuat,  karena gangguan bipolar yang diidapnya.

Hari Bipolar Sedunia diperingati untuk menyadarkan dan mengedukasi orang-orang akan eksistensi bipolar dan menghilangkan stigma buruk yang disandangkan untuk penderitanya. Dengan ditetapkannya tanggal 30 Maret sebagai Hari Bipolar Sedunia, diharapkan agar masyarakat dapat lebih sensitif dengan kehadiran bipolar di tengah-tengah kita.

Lalu apa itu bipolar?

Menurut Nisa K, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Bipolar merupakan salah satu gangguan kejiwaan non-psikotik yang menyebabkan perubahan mood yang sangat drastis. Ada dua fase dari bipolar, yaitu mania (sangat senang) dan depresif (sangat terpuruk).

Ketika berada di fase depresif, penderita bipolar akan cenderung murung, tidak bersemangat, dan merasa tidak berguna. Sebaliknya, ketika berada di fase mania, penderita bipolar akan menunjukkan perbedaan mood yang sangat drastis menjadi sangat senang, tidak mudah lelah, sembrono, dan boros.

Karena masih sangat asing di telinga awam, bipolar seringkali disalah artikan sebagai kepribadian ganda. Padahal, bipolar dan kepribadian ganda adalah dua hal yang sama sekali berbeda.

“Berbeda, bipolar dipengaruhi rasa cemas sedangkan kepribadian ganda tidak. Orang-orang yang memiliki kepribadian ganda cenderung menyadari bahwa mereka memiliki 2 kepribadian yang berbeda. Sedangkan penderita bipolar, mereka cenderung tidak menyadari moodswing drastis yang mereka alami sebelumnya,” pungkas Nisa.

Nisa menambahkan bahwa penderita bipolar ini bukanlah “orang gila” seperti stigma yang tertanam di masyarakat. Pengidap bipolar tidak akan merugikan dan melukai siapa pun, karena sejatinya mereka hanya merasakan cemas yang berlebihan dan membutuhkan ruang untuk mengungkapkan dan mengekspresikan semua rasa cemasnya.

Bahaya dari bipolar ini tertuju pada diri si penderita. Di mana, ketika berada di fase depresif, penderita akan sangat rentan melakukan bunuh diri. Oleh karena itu, selain terapi yang didapatkan dari tenaga medis, dukungan keluarga dan lingkungan sangat berperan besar dalam pengobatan. Penderita bipolar membutuhkan lingkungan yang suportif untuk mengurangi keterpurukan dan rasa cemas yang dirasakannya.

Maka dari itu, diperingatinya Hari Bipolar Sedunia diharapkan menjadi edukasi kepada masyarakat mengenai bipolar untuk turut menjadi lingkungan yang peduli dan turut merangkul para penderita bipolar agar tidak merasa tersisih, serta tidak lagi takut untuk berbaur melakukan aktivitas normal dan bercerita mengenai rasa-rasa cemas yang dirasakannya untuk mengurangi tekanan yang dirasakannya.

Semoga peringatan Hari Bipolar Sedunia 2021 ini mengawali langkah baru kita untuk menyadari kehadiran bipolar dan peran kita semua dalam melawannya.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *