Pemuda Minang, Pemuda Global

Sumber Foto: Instagram

Meylinda Pangestika Gunawan

“Berpikir beda, jika ingin global. Bukan orang lain yang menjadi saingan kita, tetapi dirilah yang berlomba menjadi lebih baik”. –Edo Rinaldo

Pijar, Medan. Sumatera Barat terkenal akan masyarakatnya yang suka merantau terkhusus pada para pemudanya. Hal ini dikarenakan bahwa setiap sudut di Indonesia, kita akan dengan mudahnya menemukan mereka yang memiliki suku Minang. Selain terkenal akan kegiatan merantaunya, Sumatera Barat terkenal pula akan perantaunya yang sukses karena keuletannya.

Dengan terkenalnya akan hal itu, Minggu (10/01) Sumbar Connect menyelenggarakan seminar online melalui platform Zoom meeting dan Youtube dengan tema “Pemuda Minang dalam Persaingan Global”. Mengusung tema yang tidak biasa, Sumbar Connect mengundang Edo Rinaldo dan Faldo Maldini sebagai narasumber.

Upaya untuk mengembangkan Sumatera Barat tidak dapat dilakukan hanya dalam sekali atau dua kali percobaan. Harus ada pengulangan secara berkelanjutan. Hal ini sesuai dengan penjelasan Faldo Maldini bahwa pernyataan tentang vaksin gratis tidak mempengaruhi masyarakat Sumatera Barat. Seperti yang dilansir dari https://sumatra.bisnis.com, bahwa sebanyak 39,9% masyarakat Sumatera Barat tidak percaya dengan adanya Covid-19. Terbukti dari institusi pendidikan yang sudah mulai melakukan kegiatan belajar-mengajar secara offline.

Sejalan dengan beredarnya kondisi Sumatera Barat sebagai zona hijau Covid-19, membuat mereka terlena dengan bahaya yang ada. Dengan melihat sikap acuh tak acuh dari masyarakat Minang seperti ini, harus lebih banyak edukasi yang dapat dilakukan oleh mereka yang ingin memajukan Sumatera Barat. Sikap masyarakat yang seperti ini tidak sesuai dengan ajaran kuno nenek moyang masyarakat Minangkabau.

Banyak hal yang harus dilakukan untuk perubahan pola pikir dan sikap masyarakat setempat, salah satunya adalah dengan literasi. Budaya literasi dan mengamalkan adalah hal yang sangat sulit dilakukan di Indonesia.

Makin berkembangnya suatu dunia, maka akan semakin banyaknya budaya yang masuk. Jati diri sebagai pemuda Minang pun akan dapat tergerus apabila tidak pandai dalam memilah. Masyarakat Minang terkenal akan falsafahnya di mana bumi dipijak, di situ langit di junjung, alam takambang jadi guru dan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Dengan mengamalkan falsafah tersebut, di mana pun kita berada kita akan dapat selamat dan mendapatkan hasil dengan good values and good impact.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *