Keindahan Fotografi Jalanan di Tengah Pandemi Meski Hanya dengan Kamera Ponsel

Laura Nadapdap / Esra Natalia Margaretha

Pijar, Medan. Sebagian besar dari kita mungkin mengira pandemi akan membuat kreativitas seseorang terhambat, sebab hanya bisa berdiam diri di rumah dan tak bisa melakukan apa-apa. Namun, sebenarnya banyak hal positif yang dapat kita lakukan di era pandemi ini. Salah satunya hunting foto jalanan.

Untuk itu, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila (FIKOM UP) menyelenggarakan sebuah webinar fotografi yang bertema “Tips & Trik Fotografi Jalanan di Saat Pandemi” untuk menambah wawasan peserta webinar mengenai hal ini. Pertemuan virtual yang diselenggarakan pada (9/1) melalui platform Zoom meeting sekaligus disiarkan di kanal YouTube FIKOM UP ini sangat menggugah antusias orang-orang sehingga jumlah partisipannya pun melebihi batas.

Anton Suseno atau yang akrab disapa Anton Sky merupakan narasumber yang membagikan ilmunya pada webinar ini. Ia telah berpengalaman dalam freelancer fotografer dan sebagai content creator sejak 2019 lalu hingga sekarang. Pria ini juga ahli di bidang key opinion leader dalam platform Instagram.

Pada kesempatan ini, Anton secara khusus membahas tips dan trik fotografi jalanan menggunakan ponsel. Sebab ia sendiri pun lebih aktif memotret jalanan dengan ponselnya sendiri.

Pada pembahasannya, Anton mengawali dengan mengungkapkan makna fotografi jalanan itu sendiri. Objek yang dipotret dalam street photography sesuai dengan keadaan jalanan tanpa diarahkan terlebih dahulu.

Di keadaan pandemi seperti sekarang ini, penting untuk tetap menjaga kesehatan di sela-sela mengeksplorasi jalanan. Anton menekankan beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu untuk selalu menggunakan masker, membawa handsanitizer, dan tisu antiseptic, serta sempatkan juga untuk mencuci tangan di tempat yang telah disediakan. Tetap hindari keramaian dan selalu jaga jarak.

Lokasi yang tepat dan aman juga turut menjadi hal yang penting dalam menjepret situasi jalanan. Terlalu lama berkutat di dalam ruangan, seperti pusat perbelanjaan akan membuat hasil potret monoton. Akan lebih baik hunting di luar ruangan yang memiliki ruang lingkup yang lebih besar pula.

Jangan sampai salah memilih waktu dalam memotret jalanan. Hindarilah hunting di siang hari. Sebab cahaya mataharinya yang sangat keras akan menghasilkan warna yang datar.
“Lebih baik fotonya di jam 7 – 10 pagi dan jam 3 – 5 sore,” ucap Anton.

Selain itu, objek dalam fotografi jalanan juga memiliki nilai penting. Human interest dan city scape, keduanya sering dijumpai. Ada etika yang perlu diperhatikan untuk mengambil objek human interest. Tentunya dengan melakukan pendekatan secara personal terhadap orang yang akan dibidik, sehingga ia bisa menerima kita yang akan memotret sekitarnya. Hal ini berbeda dengan city scape yang memotret gedung dan bangunan. Pemotret akan dengan bebas mengambil foto di sekitarnya.

Di sela-sela pemaparannya, Anton juga menampilkan hasil karyanya yang dipotret menggunakan kamera ponsel itu. Mengagumkan, beberapa karya itu telah dibeli oleh suatu brand dan pernah diterbitkan oleh kapanlagi.com. Hal ini membuktikan bahwa kreativitas tak dibatasi oleh alat yang digunakan. Baik dengan kamera ponsel atau kamera digital, semuanya bebas untuk berkarya.

“Maksimalkan alat yang kalian punya karena karya yang bagus tidak harus menggunakan alat yang mahal,” tutupnya.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *