Arsy Shakila Dewi

Pijar, Medan. Mati, satu kata yang terdiri dari perpaduan empat huruf yang akan menjadi tujuan akhir dari hidup. Banyak orang mempercayai mati tetapi lebih sering abai terhadapnya. Mati seketika menjadi suatu pilihan yang memiliki beragam varian rasa seperti halnya makanan. Mati adalah pilihan? Tentu tidak. Sepanjang bumi ini berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya, manusia tetap akan mati.

Ini berarti mati adalah suatu ketetapan. Manusia ataupun makhluk hidup lainnya tidak dapat memilih mati atau tidak mati tetapi mereka dapat memilih waktu kematian. Ingin menyegerakan atau menunggu kematian itu sendiri.

Mengenai varian dari mati itu sendiri, sebagiannya telah dijelaskan dalam film yang berjudul Hotel Mumbai. Mati untuk memberikan hidup bagi yang lain agar suatu hari kehidupannya dapat berjalan stabil, mati untuk menyelamatkan orang yang dicintai, dan mati atas nama yang mereka sebut Tuhan.

Film yang disutradarai oleh Anthony Maras ini menceritakan tentang serangan teroris di Hotel Taj Mahal pada tanggal 26 November 2008. Dipilihnya hotel ini secara khusus oleh pelaku serangan Lashkar E-Taiba dikarenakan melambangkan simbol kekayaan dan kemajuan India.

Mati atas nama yang mereka sebut Tuhan dipercayai oleh kelompok teroris Lashkar E-Taiba membuat mati mereka akan menjadi jalan jihad yang disukai Tuhan mereka. Mereka mengatasnamakan Islam. Lalu menembak satu per satu tamu yang ada di dalam hotel dengan kalimat takbir berulang kali.

Entah mati siapapun itu. Konsep ketuhanan yang diajarkan oleh Islam apalagi, bagaimana Tuhan dalam Islam meminta hamba-Nya mati sedangkan ia memberikan kehidupan hamba-Nya di dunia ini. Konon lagi sebelum mati, ia melakukan pembunuhan dengan menembak orang yang tak dikenal. Tak ada Tuhan, baik dalam agama Islam maupun agama lainnya yang tega meminta hidup hamba-Nya dan hamba lainnya hanya demi satu kata, taat.

Mati lainnya yang diceritakan yaitu tentang mati untuk menyelamatkan dan memberikan hidup untuk yang lain. Memberikan hidup untuk tamu, menjaga mereka layaknya pepatah “Tamu adalah Raja”. Hal ini dilakukan oleh para pelayan dan juga staf hotel yang bertugas. Arjun sang pelayan yang diperankan oleh Dev Patel, benar-benar merupakan tokoh apik.

Mulai dari menyuruh para tamu restoran untuk bersembunyi di bawah meja, lalu mematikan lampu saat penyerang menyerbu di gedung, sampai rela menjadikan dirinya sebagai tameng para tamu untuk berpindah tempat ke restoran Taj yang diyakini aman oleh mereka. Sebenarnya Arjun adalah tokoh fiksi film ini, tetapi tindakannya adalah cerminan perlakuan dari para staf yang bertugas pada saat penyerangan terjadi.

Tak hanya perkara mati, film bergenre thriller ini juga menceritakan dua sisi pada saat penyerangan terjadi yaitu sisi korban dan sisi pelaku sendiri. Dilansir dari uzone.id, sebagian besar dialog yang ada di film ini merupakan percakapan asli para pelaku yang diambil dari rekaman telepon para teroris dan sang dalang saat kejadian.

Hotel Mumbai ditulis oleh Anthony Maras dan juga John Collee, Film ini begitu banyak memberikan pesan moral kepada penonton agar tetap saling menghormati satu sama lain, menjaga satu sama lain selama ia masih hidup di dunia ini tak peduli apapun agamanya. Kita hidup sebagai manusia maka dari itu pandanglah dan perlakukanlah manusia lain layaknya manusia. Pilihan mati atau hidup hanya lah bias belaka, nyatanya tak ada pilihan itu yang ada hanya memilih kapan waktu yang tepat untuk mati.

Adapun film ini ditayangkan perdana di Toronto International Film Festival pada 7 September 2018, dan ditayangkan perdana di Australia di Adelaide Film Festival pada 10 Oktober 2018. Film ini dirilis secara teatrikal di Australia pada 14 Maret 2019 dan di Amerika Serikat pada 22 Maret 2019. Di Indonesia sendiri film ini tayang perdana pada April 2019.

Bagaimana sobat Pijar tertarik menontonnya? Jangan lupa menyiapkan tisu ya saat menonton! Untuk kalian yang takut darah, usahakan ada yang menemani kalian saat menonton agar tidak pingsan dan menyebabkan kepanikan.

(Redaktur Tulisan: Hidayat Sikumbang)

Leave a comment