Hits: 57
Pijar, Medan. “Saya malu jika harus minta dari orang tua, sehingga saya berpikir keras bagaimana caranya agar tidak terus meminta – minta pada orang tua.”
Begitulah kalimat yang terpapar dari ucapan Burhan Syaiful, Mahasiswa Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Mungkin banyak mahasiswa yang berpikiran sama dengannya, namun ia telah menemukan solusi untuk mengatasinya.
Molen adalah pisang yang dibalut dengan adonan tepung terigu dan disajikan dengan digoreng. Makanan ini kerap ditemui di penjual gorengan. Namun, secara cerdas Burhan melakukan beberapa inovasi pada konsep molen yang ada di benak kita selama ini. “Molen Arab” namanya, unik memang. Nah, itu yang membuat penikmat molen penasaran dengan hal yang mungkin masih baru di telinga kita. Ukuran molen yang lebih besar dari biasanya dan memiliki porsi yang cukup untuk mengganjal perut. Hal ini cukup kreatif dan lumayan mengundang penasaran mahasiswa, tentang cemilan seperti apa lagi yang sedang menjadi trending topic ini. Burhan, mahasiswa berusia 21 tahun ini adalah penggagas ide inovatif yang mampu menangkap peluang ini.
Lelaki yang akrab disapa Buff ini mendapat inspirasi usaha dari ketidakpuasannya terhadap molen yang ada, serta pisang molen yang pernah Ia makan ketika di Bogor. Beberapa kali Ia melakukan trial and error untuk meluncurkan dagangan perdananya ini di kalangan mahasiswa. Namun, kegigihan yang ada padanya menempatkan Ia tak lagi sebagai mahasiswa biasa manakala tugas kuliah melahap habis waktu tenggang mereka. Kini, mahasiswa kelahiran Kerto Sari, 30 Maret 1993 ini menghabiskan banyak waktunya untuk mengumpulkan rupiah – rupiah.
“Kalau jadi mahasiswa biasa saja kurang menantang.” Hal itu menjadi prinsip lelaki penggemar film action ini. Walau kewalahan dengan menaruh fokus dan konsentrasi antara kuliah dan usaha, Burhan masih berniat untuk lebih memperluas usahanya. “Saat jadwal kuliah masih padat, terpaksa Saya membiarkan beberapa mata kuliah terbengkalai dan juga sempat dihadapkan dengan pilihan apakah akan terus melanjutkan kuliah atau meneruskan usaha, mengingat banyaknya permintaan Molen Arab yang susah untuk diabaikan. “
Ia menemukan usaha ini secara tidak sengaja dan memulainya karena keadaan. Prinsipnya yang tidak ingin menyusahkan orang tua dan ingin berguna bagi orang lain seakan menjadi motivasi. Membuat sebuah usaha makanan cemilan ini tak seperti yang Ia bayangkan sebelumnya. Namun beberapa pengalaman mengajarkannya untuk mengeksplorasi dirinya sendiri.
“Saya harus berjuang agar uang saku harus tetap ada, bisa bayar SPP dan mengharapkan orang tua hanya serius membiayai adik – adik saya,” prinsip itulah yang tertanam pada diri Burhan.
Burhan adalah peranakan Jawa yang sempat menetap di Papua selama 7 tahun. Kehidupan pedalaman menyempatkan ia berhadapan dengan keterbelakangan kehidupan begitu pula dengan pendidikan yang memprihatinkan. “Akses jalan ke kota yang hanya dapat ditempuh dengan sepeda atau jalan kaki selama 2 hari, serta harus melalui sungai dengan perahu, Desa Ponggo berjarak sekitar 250 kilometer dari Kota Jayapura,“ ungkapnya ketika ditanya tentang kehidupan di Papua.

Nasib baik, pria yang memiliki motto “Break The Limit” ini melanjutkan pendidikan menengahnya di Bogor melalui Beasiswa Smart Excellencia dan sempat menjalani akselerasi saat SMA.
Berbagai rintangan hidup mengajarkannya bahwa hidup tak semulus yang dibayangkannya. Mahasiswa penyuka musisi band Payung Teduh ini mulai menjalankan usahanya di awal tahun 2013. Menjadi wirausahawan dari makanan ini memang baru digelutinya, mengingat ini adalah kesempatan lain yang digunakannya untuk memenuhi uang jajan, dengan melakukan beberapa hal yang beresiko tentunya.
Wirausaha memang tidak jauh – jauh dari resiko. Begitu pula dengan mahasiswa pecinta Ilmu Fisika ini. Bermodalkan uang yang dikirim orangtua untuk biaya tahunan kost sebesar Rp 2.500.000, Burhan memberanikan diri menggunakan uang itu untuk keperluan lain, yaitu untuk memulai usaha molen arab, membeli peralatan, bahan – bahan produksi dan perlengkapan lainnya.
“Sebulan menjalani usaha, Alhamdulillah uang kost sudah terbayar,” ungkapnya dengan raut wajah lega. Pencapaian yang telah dilakukan Burhan tak kelak pantas dapat dijadikan inspirasi bagi mahasiswa lainnya.
Di balik kesibukannya menjalani kuliah dan berwirausaha, ternyata pria yang mengidolakan B.J. Habibie ini adalah penulis blog yang aktif. Kegiatan menulis di internet yang sekarang digandrungi banyak orang itu, tak hanya sebatas hobi baginya. Ia memiliki segudang prestasi. Ia pernah memenangi beberapa kompetisi dan lomba blog baik tingkat regional maupun nasional. Burhan pernah menduduki posisi runner up dalam kontes blog yang diadakan Voice Of America (VOA), Blogger kemanusiaan di Bogor, dan Juara 1 menulis artikel kepahlawan. Kesibukan sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian ini tak surut menghalanginya menjalankan hobi dan kegiatan yang dapat menghasilkan uang.
“Harapannya sederhana saja, yang penting bisa menyerap banyak tenaga kerja dan prinsip saya adalah tidak ingin lulus kuliah dengan masih mengharapkan lamaran kerja di perusahaan – perusahaan dan jadi pegawai. Saya memang tidak suka disuruh – suruh. Punya usaha, punya pekerja, bisa menghidupi orang lain itu sudah lebih dari cukup,” harapnya sederhana.
Satu hal yang menjadi harapan besarnya, walau sesungguhnya Burhan adalah mahasiswa pendatang dari Jawa, Ia ingin menjadikan Molen Arab sebagai salah satu oleh – oleh khas Medan seperti Bolu Meranti, Bika Ambon, dan Pancake Durian. Target ini menjadi motivasinya untuk lebih mengembangkan dan memperluas usaha Molen Arab-nya. Burhan juga telah mengurus seperangkat hak paten pada notaris dan membuat sebuah rumah produksi untuk perluasan usaha . Kabar baiknya, sekarang Burhan tengah menerima lebih banyak pegawai untuk usahanya, baik untuk berkerja penuh, maupun paruh waktu. Medan membutuhkan Burhan – Burhan lainnya. Terlebih dahulu, Kenali dan yakinkan potensi yang kita miliki.[MR]

