Hits: 60

Adellima Patricya / Nadila Tasya Tanjung

Pijar, Medan. Andreas Harsono, merupakan seorang penulis dan jurnalis berintegritas yang memiliki dedikasi tinggi dan banyak menginspirasi masyarakat, khususnya para mahasiswa. Ia menjadi gambaran jurnalis yang kritis dan selalu berpegang teguh pada kebenaran, bahkan menyuarakan kritik kepada sesama wartawan.

Jurnalis yang juga aktif sebagai aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) ini, lahir pada tanggal 7 Agustus 1965 di Jember, Jawa Timur. Pada tahun 1984—1990, ia menempuh pendidikan tinggi di Kristen Satya Wacana (Salatiga) dengan Jurusan Teknik Elektro.

Kemudian, pada tahun 1999—2000, ia lanjut belajar jurnalisme di Harvard University (Cambridge) sebagai Nieman Fellowship on Journalism, sebuah kesempatan belajar dari Nieman Foundation yang terbuka bagi para jurnalis di seluruh dunia. Pendidikan yang diterimanya di Harvard University ini membentuk dirinya menjadi wartawan yang lebih baik.

Sejak 2008 hingga saat ini, Andreas Harsono aktif bekerja meliput Indonesia untuk Human Rights Watch, sebuah organisasi HAM non-pemerintah yang berbasis di Amerika Serikat. Dalam dunia jurnalisme Indonesia pun, ia juga merupakan jurnalis investigasi yang aktif dan berdedikasi. Sehingga, ia berhasil mendapatkan penghargaan atas sumbangannya dalam mengembangkan liputan investigasi secara global dari International Consortium of Investigative Journalists di Washington DC.

Andreas juga menunjukkan minat yang besar terhadap isu-isu sosial dan politik yang memengaruhi masyarakat Indonesia. Ia turut aktif menulis mengenai isu terkait HAM, kebebasan berpendapat, kesenian dan kebudayaan, serta masalah-masalah politik di Indonesia.

Adapun karya tulisnya ialah “Ibarat Kawan Lama Datang Bercerita”, “Republik Indonesia Kilometer Nol”, serta “Duma dan Cahaya Bahari”. Karya-karya tersebut dapat kita baca melalui blog pribadinya andreasharsono.net. Tak heran, jika ia dikenal sebagai kontributor besar dalam penyelidikan dan pengungkapan kebenaran di Indonesia.

Melansir dari busetonline.com., Andreas mengatakan prinsipnya, bahwa menjadi seorang penulis harus memiliki pengetahuan dan keberanian dalam menyuarakan sebuah tulisan. Karena, apabila kita hanya memiliki salah satu di antara kedua hal tersebut, kita tidak berguna bagi masyarakat dan hanya membuat kekacauan.

Di balik karya-karya bukunya yang menarik dan aktual, Andreas Harsono juga memberikan perspektif mendalam tentang berbagai isu yang dihadapi oleh Indonesia. Beberapa judul bukunya ialah Jurnalisme Sastrawi (2005), “Agama” Saya Adalah Jurnalisme (2011), dan Race, Islam and Power (2019).

Kesuksesannya sebagai seorang jurnalis dan penulis tentu tidak luput dari penghargaan dan pengakuan yang ia dapatkan. Salah satu penghargaan yang diterima Andreas adalah John Rumbiah Human Rights Deferenders Award pada tahun 2010. Selain itu, ia juga ikut berpartisipasi dalam mendirikan Aliansi Jurnalis Independen pada tahun 1994, Yayasan Pantau pada tahun 2003, Suara Papua di Jayapura pada tahun 2011, dan masih banyak lagi.

Andreas Harsono dikenal sebagai jurnalis dan penulis yang aktif menyuarakan kebenaran dalam sebuah tulisan dan buku-bukunya.
(Sumber Foto: Instagram @andreasharsono)

Andreas Harsono yang terus mengukir prestasi dan memberikan kontribusi di usianya yang tak lagi muda, tentu dapat kita jadikan sebagai sosok yang menginspirasi, terlebih bagi jurnalis muda dan pers mahasiswa di Indonesia. Keberaniannya dalam menyuarakan kritik dan kebenaran sesama wartawan telah membuka jalan terhadap perubahan positif dalam dunia jurnalisme tanah air.

Latar belakang Andreas Harsono yang kaya akan pengalaman dalam bidang jurnalisme menjadikannya sebagai tokoh yang patut diapresiasi. Melalui karyanya yang tak mengenal takut, ia bukan hanya memberikan wawasan mendalam tentang berbagai isu penting, tetapi juga mendorong generasi muda Indonesia untuk selalu berdiri teguh demi kebenaran dalam mengubah dunia melalui keberanian bersuara dan kekuatan pena.

 

(Redaktur Tulisan: Hana Anggie) 

Leave a comment