Hits: 49
Sebagai lingkungan pertama yang dikenali seorang anak sejak ia lahir, keluarga memegang peran penting dalam membentuk kepribadian, nilai, dan moralnya. Salah satu aspek penting dalam keluarga yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak adalah pola asuh yang diterapkan. Lewat pola asuh, orang tua memberi panduan pada sang anak untuk menghadapi dunia ini. Pola asuh akan memengaruhi dan membangun moral, prinsip dan perilaku anak mulai sejak kecil hingga dewasa. Pola asuh mencerminkan cara orang tua mendidik, membimbing, dan mengontrol perilaku anak.
Di tengah dunia yang semakin kompleks ini, masalah yang kian mencuat dan kerap jadi kekhawatiran banyak orang adalah maraknya terjadi kenakalan remaja. Bukan lagi soal bolos sekolah atau sekadar membangkang di rumah tapi sudah sampai pada tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Tawuran antar pelajar, mabuk-mabukan, penyalahgunaan obat, bahkan sampai terlibat dalam tindak kriminal ringan, menjadi pemandangan yang makin akrab kita lihat di berbagai daerah. Di media sosial pun kita dapat melihat banyaknya video beredar yang memperlihatkan sekelompok remaja membawa senjata tajam, saling tantang, dan memancing konflik hanya demi gengsi atau “eksistensi”.
Hal tersebut tentu saja bukan muncul tiba-tiba. Ada banyak faktor yang melatarbelakanginya, mulai dari pergaulan, tekanan sosial, minimnya kontrol lingkungan, hingga akses informasi yang terlalu luas tapi tak dibarengi dengan pendampingan. Namun satu hal yang kerap luput dibahas secara serius adalah soal pola asuh dari lingkungan terdekat mereka, terutama keluarga. Ketika sang anak tak mendapat perhatian cukup di rumah, ketika komunikasi dengan orang tua terputus, atau ketika rumah tak lagi jadi tempat aman untuk pulang dan bercerita, mereka mencari pelarian di luar dan sayangnya pelarian itu tak selalu positif.
Banyak orang tua merasa telah melakukan yang terbaik. Memberi makan, menyekolahkan, bahkan membelikan segala kebutuhan sang anak. Tapi menjadi orang tua bukan cuma tentang memenuhi kebutuhan materi. Lebih dari itu, ini tentang bagaimana kehadiran orang tua bisa dirasakan secara emosional. Anak-anak butuh sosok yang mau mendengarkan bukan hanya memerintah, butuh dipeluk bukan hanya dikritik. Sehingga semua itu dimulai dari pola asuh.
Misalnya, pola asuh permisif. Orang tua cenderung memanjakan anaknya, menghindari pemberian hukuman, dan membiarkan anak membuat semua keputusan sendiri. Sekilas hal ini memang tampak penuh cinta tetapi dalam jangka panjang malah bisa berbahaya bagi sang anak, di mana ia akan tumbuh tanpa batas. Ia tak tahu mana yang boleh, mana yang tidak. Ketika hidup tidak lagi menyenangkan di luar sana, ia tidak punya kontrol diri yang cukup untuk menahan diri dari hal-hal negatif. Maka tidak heran jika akhirnya ia lari ke hal-hal instan yang menyenangkan sesaat seperti alkohol, pergaulan bebas, atau kekerasan demi validasi sosial.
Lalu ada pola asuh otoriter. Segalanya diatur, diawasi, dan dikendalikan tanpa banyak ruang bicara untuk sang anak, apa yang dikatakan orang tua menjadi sesuatu yang mutlak. Anak yang hidup di bawah bayang-bayang aturan keras bisa tumbuh dengan dua kemungkinan yaitu menjadi sangat takut atau sangat memberontak. Ketika rasa takut itu memuncak, tanpa tempat pelarian, anak bisa meledak lewat perilaku menyimpang. Di mana sang anak ingin menunjukkan bahwa ia punya kendali atas dirinya sendiri. Maka tawuran atau pelanggaran bisa menjadi “panggung” bagi kemarahan yang selama ini ditekan.
Hal yang lebih miris lagi adalah pola asuh neglectful atau pola asuh abai. Ketika orang tua terlalu sibuk, terlalu lelah, atau bahkan terlalu acuh. Mereka mengira anak bisa tumbuh sendiri, bisa mengerti keadaan, bisa “dewasa lebih cepat.” Padahal, anak yang tidak diberi cukup perhatian akan mencari perhatian di luar. Di sinilah banyak anak akhirnya menemukan “keluarga” pengganti, entah itu teman tongkrongan, komunitas yang toxic, atau konten media sosial yang justru memperkuat kecenderungan negatif.
Hal yang dibutuhkan seorang anak sebetulnya bukan sekadar pengawasan, tapi kehadiran. Pola asuh yang sehat adalah pola yang seimbang. Tidak terlalu keras, tidak pula terlalu longgar. Anak butuh batas, tapi juga butuh ruang untuk didengar. Ia butuh tahu bahwa ada konsekuensi atas setiap tindakan, tapi juga butuh tahu bahwa dirinya dicintai meski berbuat salah. Memang bukan perkara mudah, tapi inilah tugas orang tua. Membangun kepercayaan, menciptakan kedekatan, dan menjadi tempat pulang yang aman.
Oleh karena itu, orang tua yang merupakan pihak pertama dan utama dalam membentuk karakter anak perlu dibekali dengan pengetahuan mengenai pola asuh yang sehat. Dilakukannya pelatihan atau seminar parenting dapat dilakukan untuk mengenalkan kepada orang tua bagaimana untuk mendidik anak yang penuh empati, komunikasi terbuka, serta disiplin yang sehat. Kemudian, orang tua juga perlu belajar untuk menjadi pendengar yang baik, menghindari sikap menghakimi, dan memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya. Karena, ketika anak merasa dihargai dan didengarkan, mereka akan lebih terbuka dan merasa nyaman berada di lingkungan keluarga.
Regita Cahyani Adiningsih / Aprida Simamora
Kesejahteraan Sosial

