Hits: 61
Kehidupan mahasiswa identik dengan masa yang penuh semangat, tantangan, dan pencarian jati diri. Namun, di balik semangat itu tersimpan tekanan besar dari berbagai arah. Mulai dari tugas kuliah yang menumpuk, kegiatan organisasi, hingga tuntutan keluarga dan sosial. Tekanan inilah yang perlahan dapat menggerus kesehatan mental mahasiswa jika tidak dikelola dengan baik.
Menurut Journal of Health Science (Arikesi, 2023), kesehatan mental merupakan kondisi di mana seseorang mampu mengenali potensinya, mengatasi tekanan hidup, bekerja secara produktif, dan berkontribusi terhadap lingkungannya. Bagi mahasiswa, menjaga kesehatan mental berarti berusaha menyeimbangkan antara tuntutan akademik dengan kebutuhan pribadi, agar tidak terjebak dalam stres yang berlarut.
Survei dari National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) oleh Universitas Gadjah Mada (2024) menemukan fakta bahwa satu dari tiga remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental. Angka ini menunjukkan bahwa tekanan psikologis di kalangan mahasiswa semakin meningkat seiring dengan beban akademik yang berat.
Penelitian serupa dari Universitas Negeri Semarang (2023) juga menunjukkan bahwa mahasiswa dengan kondisi mental yang stabil memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang lebih tinggi, dibandingkan mereka yang mengalami stres berkepanjangan.
Fenomena ini tampak jelas di kalangan mahasiswa. Nasrul Hafiz, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, mengaku sering kewalahan dengan banyaknya tugas.
“Kadang tugas datang secara bersamaan, belum lagi harus aktif di organisasi. Kalau tidak pintar mengatur waktu, bisa-bisa stres dan enggak fokus belajar,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (13/10/2025).
Ia mengaku sempat mengalami insomnia akibat sering tidur larut untuk menyelesaikan tugas, tetapi kini dirinya mulai mengatur jadwal, dan beristirahat yang cukup agar pikirannya lebih tenang.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Yara Salsabila, mahasiswi Universitas Negeri Medan, yang menyoroti pentingnya dukungan sosial atau kerja sama antar teman kuliah.
“Kalau buat aku pribadi, di dunia perkuliahan kita butuh teman dan mereka memberikan pengaruh yang cukup besar dalam perkuliahan. Banyak tugas yang membutuhkan kerja sama tim. Jadi, kalau anggota kelompok tidak bertanggung jawab, hal itu bisa menambah beban bagi anggota lain yang aktif. Selain itu, punya teman untuk berdiskusi dan berbagi hal akademik juga penting karena perkuliahan tidak bisa dijalani secara individualis,” tuturnya.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, melalui laman ayosehat.kemkes.go.id juga menekankan pentingnya deteksi dini terhadap gangguan mental di kalangan remaja dan mahasiswa. Tanda-tanda seperti mudah lelah, kehilangan semangat, cemas berlebihan, dan sulit tidur perlu segera diatasi dengan mencari bantuan profesional. Di beberapa kampus, layanan konseling sudah mulai disediakan sebagai bentuk dukungan terhadap kesejahteraan mahasiswa.
Meski begitu, menjaga kesehatan mental bukan hanya tanggung jawab mahasiswa atau kampus, melainkan juga keluarga dan lingkungan sekitar. Keluarga dapat menjadi tempat aman untuk berbagi cerita, sementara kampus berperan untuk menyediakan suasana akademik yang sehat dan tidak menekan. Dukungan sosial terbukti menjadi faktor pelindung dari stres akademik, sebagaimana dijelaskan dalam Journal of Educational Psychology Indonesia (2024).
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental di tengah tugas kuliah bukan berarti menghindari tekanan, melainkan belajar mengelolanya dengan bijak. Mahasiswa perlu menanamkan kesadaran bahwa istirahat bukanlah kemalasan, melainkan bagian dari proses produktif. Dengan keseimbangan antara akademik dan kehidupan pribadi, mahasiswa tidak hanya mampu menyelesaikan studi dengan baik, tetapi juga tumbuh menjadi individu yang lebih tangguh dan sehat secara mental.
Khairun Naila Fairuza

