Hits: 105

Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering mendengar anggapan seperti ini: “Wajar saja dia pintar, dia kan anak pertama” atau sebaliknya, “Maklum bungsu, pasti manja”. Rasanya, urutan kelahiran sering kali dijadikan alasan utama dalam menilai kepribadian dan kecerdasan seseorang. Meskipun pandangan ini telah menjadi keyakinan yang mendalam di masyarakat, saya percaya dan didukung oleh banyak penelitian bahwa pola asuh orang tua justru jauh lebih menentukan perkembangan intelektual anak dibandingkan urutan kelahiran.

Memang, pandangan tentang pengaruh urutan kelahiran bukan tanpa dasar. Alfred Adler, tokoh psikologi awal abad ke-20, menyatakan bahwa posisi anak dalam keluarga memengaruhi karakter dan cara berpikir mereka. Anak sulung cenderung bertanggung jawab, sedangkan anak bungsu lebih ekspresif dan kompetitif. Meski masuk akal, teori ini belum menjelaskan perbedaan karakter antar anak sulung dari keluarga berbeda. Di sinilah pola asuh menjadi faktor yang lebih menentukan.

Pola asuh berperan besar dalam membentuk kecerdasan anak. Diana Baumrind membagi pola asuh menjadi otoriter, permisif, dan otoritatif. Pola otoritatif yang tegas dan hangat mendorong anak tumbuh mandiri, kritis, dan percaya diri. Sebaliknya, pola otoriter cenderung menghasilkan anak yang patuh tapi kurang berani. Pendekatan pengasuhan seperti ini berdampak langsung pada perkembangan anak. Oleh karena itu, pola asuh lebih menentukan daripada urutan kelahiran.

Saya pribadi melihat banyak contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak yang orang tuanya mendengarkan pendapat mereka, memberi kebebasan berekspresi, dan mendampingi belajar tanpa tekanan berlebihan, sering kali menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pengetahuan. Mereka tidak hanya rajin belajar, tapi juga tahu mengapa mereka belajar—dan itu perbedaan yang besar.

Sebagai orang tua, pendidik, atau calon orang tua, penting bagi kita untuk menyadari bahwa pola asuh adalah kunci. Daripada terjebak pada stereotip urutan kelahiran, kita bisa mulai dengan lebih banyak mendengarkan anak, memberi mereka kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi, menetapkan aturan yang konsisten dengan pendekatan yang hangat, memberikan pujian dan kritik secara seimbang, serta mengajak anak terlibat dalam pengambilan keputusan kecil di rumah.

Pola asuh sederhana berdampak besar pada cara berpikir dan percaya diri anak, membantu mereka tumbuh rasional dan fleksibel. Meskipun urutan kelahiran sering dikaitkan dengan kecerdasan, yang lebih berpengaruh adalah bagaimana orang tua memperlakukan dan membimbing anak. Anak dipengaruhi lebih oleh cara mereka dibesarkan daripada posisi dalam keluarga. Jadi, alih-alih bertanya, “Anak ke berapa dia?” mungkin lebih bijak jika kita mulai bertanya, “Bagaimana pola asuh yang diterapkan orang tuanya?”.

Shahnaz Tsurayya

Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial

Referensi:

Adler, A. (1956). The Individual Psychology of Alfred Adler. Basic Books.
Baumrind, D. (1967). Child Care Practices Anteceding Three Patterns of Preschool Behavior. Genetic Psychology Monographs, 75(1), 43–88.
Bronfenbrenner, U. (1979). The Ecology of Human Development. Harvard University Press.
Olson, M. H., & Hergenhahn, B. R. (2013). Pengantar Teori-Teori Kepribadian (Edisi ke-8). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Leave a comment