We live in cities you’ll never see on screen, begitulah salah satu potongan lirik dari lagu “Team” oleh Lorde yang menggambarkan tidak semua hal indah harus tampak sempurna di permukaan. Banyak juga orang yang menampilkan kesempuraan palsu di dunia media. Namun, pada kenyataannya kita bisa merayakan kehidupan sederhana yang tidak pernah disorot oleh kamera, tetapi penuh keaslian dan kebersamaan.
Munculnya kabar terbaru yang tidak terduga dari sebuah grup musik rock asal Irlandia, Kodaline, mampu menggemparkan para penggemar. Setelah lebih dari satu dekade mengukir kisah lewat lagu-lagu penuh makna, Kodaline akhirnya mengumumkan akan bubar. Keputusan ini disampaikan oleh keempat personelnya, yaitu Steve Garrigan, Mark Prendergast, Jason Boland, dan Vincent May lewat sebuah video perpisahan di Instagram resmi mereka pada Kamis (9/10/2025).
Akhir-akhir ini, sebuah lagu tampaknya berhasil mencuri perhatian di berbagai media sosial. “Alamak”, kolaborasi manis dari Rizky Febian dan Adrian Khalif, tengah menjadi sorotan di platform seperti TikTok, di mana potongan lagunya kerap dijadikan latar berbagai konten video.
Lagu “Satu” adalah salah satu single dari band legendaris Indonesia, Dewa 19. Lagu ini masuk dalam album Laskar Cinta yang resmi dirilis pada tahun 2004. Hadir dengan nuansa romantis sekaligus reflektif, “Satu” semakin meneguhkan posisi Dewa 19 sebagai salah satu band terbesar di masanya. Hingga kini, lagu ini masih kerap diputar dan dianggap abadi oleh para penikmat musik Indonesia.
Bagaimana rasanya melihat perubahan yang termakan oleh waktu pada orang tersayang? Detik waktu yang terus berjalan seolah menyiratkan bahwa sudah banyak hal terlewati. Kejadian di masa lalu yang kerap kali masih membekas dalam benak dan menimbulkan penyesalan, serta harapan akan putaran waktu untuk memperbaiki yang lalu.
Hits: 111Yudika Phareta Simorangkir Pijar, Medan. Tak banyak lagu kompetisi yang mampu melewati ujian waktu. Namun, “Karena Cinta”, lagu kemenangan…
Ada cara lain yang tak kalah lantang dalam menyuarakan hak dan harapan rakyat selain turun ke jalanan, yaitu dengan musik. Instrumen menjadi senjata, panggung menjadi ruang berbicara, dan lagu menjadi wadah menyampaikan asa yang tak lekas terbalas.
Apa yang pertama kali terlintas di pikiran ketika mendengar kata “cinta”? Kata-kata manis yang berirama layaknya sajak pada puisi, perlakukan manis seakan dunia milik sendiri, dan janji-janji romantis yang menautkan dua hati, semuanya adalah definisi cinta yang sering terdengar. Namun, apa jadinya jika dua insan saling bertaut, bahkan hingga ajal tiba? Barangkali itu bentuk cinta yang sesungguhnya.
The winner takes it all, the loser has to fall. Begitulah dunia menulis takdir, bukan dengan keadilan, melainkan dengan seleksi yang senyap dan tajam. Di dunia yang mengukur segalanya lewat piala, angka, dan selebrasi, tidak ada tempat bagi mereka yang tak sempat mencapai podium. Tak ada ruang untuk luka, apalagi penjelasan. Yang kalah, harus diam. Yang menang, disorot dari segala arah.
Bertemu dengan orang yang dicintai, tentu bahagia yang tiada duanya. Jantung berdegup kencang, hati berbunga-bunga, hingga makan dan tidur pun rasanya jadi tak tenang. Sering kali, kita memimpikan untuk bisa merajut kasih dengan orang yang dicintai. Melalui lagu “Reality”, mereka yang jatuh cinta dalam diam akan merasa terhubung (relate), sebab suka-duka cinta tersaji lewat alunan melodi pop rock yang lembut, serta dibalut untaian lirik romantis nan melankolis yang menyetuh saat didengarkan.
