Hits: 59
Siti Farrah Aini
Pijar, Medan. Apa yang pertama kali terlintas di pikiran ketika mendengar kata “cinta”? Kata-kata manis yang berirama layaknya sajak pada puisi, perlakukan manis seakan dunia milik sendiri, dan janji-janji romantis yang menautkan dua hati, semuanya adalah definisi cinta yang sering terdengar. Namun, apa jadinya jika dua insan saling bertaut, bahkan hingga ajal tiba? Barangkali itu bentuk cinta yang sesungguhnya.
“Sampai Jadi Debu” adalah sebuah lagu gubahan Ananda Badudu dan Rara Sekar, duo yang bernama Banda Neira. Meski Rara Sekar telah hengkang dari Banda Neira sejak Desember 2016 lalu, lagu ini masih melekat dan menyentuh di hati para pendengar musik. Menggandeng komposer terkenal, Gardika Gigih, “Sampai Jadi Debu” berhasil diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama, dan dirilis pada tahun 2021. Lagu ini juga berhasil menjadi lajur suara bagi beberapa film di tanah air, yakni Posesif (2017) dan Sumur Jiwo 1977 (2025).
Lagu berdurasi 6 menit 50 detik ini terinspirasi dari kisah cinta sang kakek dan nenek Ananda Badudu. Yaitu Jusuf Sjarif Badudu dan Eva Henriette Alma Karoh-Badudu, yang akrab disapa dengan Opa dan Oma. Sang Opa mengidap demensia selama bertahun-tahun, dan sang Oma senantiasa membersamai suaminya. Namun, setelahnya pula Oma mulai sakit-sakitan sehingga sering masuk dan keluar rumah sakit. Kondisinya kian memburuk dan berpulang kepada Tuhan pada Januari 2016 lalu. Tiga bulan setelahnya, sang Opa ikut menyusul kepergian Oma.
Melalui akun Tumblr Banda Neira, Ananda Badudu menuliskan bahwa lagu ini seharusnya diputar di rumah sang Oma pada acara kumpul-kumpul keluarga. Acara ini sudah menjadi tradisi di keluarganya. Namun, hal tersebut tidak pernah terwujud, dan “Sampai Jadi Debu” justru diperdengarkan pada saat-saat terakhir sang Oma di rumah sakit. Kehilangan yang dirasakan membuat Ananda Badudu hampir tak pernah mendengarkan lagu ini setelah rilis. Bahkan, ia baru membawakan “Sampai Jadi Debu” di panggung tepat satu tahun setelah perginya sang Oma.
“Sampai Jadi Debu” menjadi lagu yang sarat akan makna, terkhususnya soal cinta. Liriknya tidak menyuratkan soal cinta secara fisik, tetapi cinta yang tertaut antara dua jiwa. Liriknya tidak rumit, menandakan bahwa ungkapan cinta yang sesungguhnya justru tidak menyulitkan. Liriknya pula tidak dilebih-lebihkan, bukti bahwa cinta itu sederhana dan mesra sampai ajal tiba.
Hal yang menarik dari lagu ini adalah 2 menit 50 detik pertamanya merupakan dentingan lirih piano tanpa lirik, seolah sang Puan dalam kisah ini telah menunggu lama untuk menyampaikan perasaannya. Bait pertama dari lagu ini dinyanyikan oleh Rara Sekar.
Badai Tuan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap pagi menjelang
Kau di sampingku
Ku aman ada bersamamu
Bait pertama ini dapat dilihat dari sudut pandang sang Puan karena adanya penyebutan “Tuan” pada liriknya. Puan menginginkan tetap adanya ruang mesra antara mereka berdua, tidak peduli sebanyak apa pun badai yang datang silih berganti. Puan juga selalu merasakan ruang aman karena sang Tuan selalu bersama dengannya.
Badai Puan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap taufan menyerang
Kau di sampingku
Kau aman ada bersamaku
Bait kedua yang dinyanyikan oleh Ananda Badudu ini tampak berkaitan dengan bait pertama. Dalam hubungan ini, Tuan mengungkapkan hal yang mirip dengan Puan. Keduanya menyediakan ruang mesra yang sama. Lirik tiap taufan menyerang yang dimaksud pula boleh jadi ialah banyaknya rintangan yang telah dilalui keduanya, seperti apa yang diceritakan oleh Ananda Badudu tentang Opa dan Oma.
Tuan juga menegaskan kalau ia benar-benar memberikan ruang aman bagi Puan, sebagaimana lirik kau aman ada bersamaku di bait kedua. Lirik ini seolah membenarkan ungkapan Puan pada ku aman ada bersamamu di bait pertama.
Selamanya
Sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Ku di sebelahmu
Refrein lagu ini mendefinisikan soal cinta yang tak terbatas oleh waktu. Mereka tidak hanya ingin bermesraan dalam hidup, melainkan terus bersama hingga tua. Begitu pun saat Rara Sekar menyanyikan lirik ku di liang yang satu, Ananda Badudu menutupnya dengan lirik ku di sebelahmu. Pemaknaan kebersamaan pada lirik ini ialah keinginan untuk bersama hingga ajal tiba. Ketika dimakamkan, tempat mereka juga bersebelahan seakan maut pun tidak dapat memisahkan tautan cinta keduanya.
Bagi sebagian orang, cinta menjadi hal yang sulit untuk dipertahankan. Namun, “Sampai Jadi Debu” merepresentasikan bahwa definisi cinta sesungguhnya tidak rumit kala kedua insan saling menautkan jiwanya. Sesederhana masih menyediakan ruang mesra, saling memberi rasa aman, dan berjanji untuk bersama hingga ajal tiba.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

