Hits: 44
Alpi Sahri Ramadani Sagala/Indra Rana Zafira Silaban
Pijar, Medan. Bagaimana rasanya melihat perubahan yang termakan oleh waktu pada orang tersayang? Detik waktu yang terus berjalan seolah menyiratkan bahwa sudah banyak hal terlewati. Kejadian di masa lalu yang kerap kali masih membekas dalam benak dan menimbulkan penyesalan, serta harapan akan putaran waktu untuk memperbaiki yang lalu. Namun, kini yang bisa dilakukan hanya melihat orang tersayang yang semakin dimakan masa. Hal inilah yang coba disampaikan oleh Barasuara dalam lagu “Terbuang dalam Waktu”.
Melansir dari detik.com dan tempo.co, lagu “Terbuang dalam Waktu” oleh Barasuara menjadi single kelima yang tergabung dalam album ketiga mereka, yaitu Jalaran Sadrah yang dirilis pada Juni 2024. Lagu ini ditulis langsung oleh anggota Barasuara, yaitu Asteriska dan Iga Massardi yang dikomposeri oleh Gerald Situmorang. Lagu ini semakin populer sejak kehadirannya sebagai soundtrack dalam film Sore: Istri dari Masa Depan yang mengguncang dunia layar lebar Indonesia di tahun ini.
Dengan makna yang mendalam, Barasuara mencoba untuk menceritakan mulai dari bagaimana perubahan yang termakan waktu hingga rasa penyesalan terhadap waktu yang semakin cepat berlalu. Hal tersebut tampak pada rangkaian kata yang tersusun indah dan dapat menyentuh hati terdalam pendengar.
Teringat seru suaramu
Menepis keraguan
Namun dewasa mengubah
Cara pandang dan bergulat
Bersaut dan bergulat
Bait lirik pembuka lagu ini seolah menyiratkan bahwa kenangan dari suara dan kehadiran seseorang yang dicintai dapat menghapus keraguan dengan memberikan rasa aman, nyaman, serta dengan kehadirannya, dunia akan berjalan “baik-baik saja”. Namun, seiring bertambahnya usia, maka akan berubah pula cara pandang dan berpikir seseorang terhadap sesuatu. Kerap kali pandangan tersebut memunculkan keikhlasan dan kesabaran dalam menghadapinya, walaupun konflik serta gulatan emosi batin saling beradu.
Perih yang terasa
Sakit yang tak sirna
Harapan akankah ada?
Berputar arah
Pada bait ini, pendengar seolah diajak untuk merasa relate dengan situasi yang menggambarkan bahwa masih terdapat rasa sakit yang membekas di hati meski waktu terus berjalan menuju masa depan. Rasa sakit tersebut memunculkan keraguan dan penyesalan dalam diri tentang apakah masih ada secercah harapan untuk mendapatkan kesempatan dalam memperbaiki hal yang sudah terjadi.
Selain itu, bait ini juga seolah menggambarkan bahwa masih terdapat konflik batin yang membuat seolah kehilangan arah pasti untuk melangkah. Makna mendalam dari bait ini mampu membuat pendengar merasakan beragam perasaan bercampur menjadi satu.
Angan tenggelam dalam kabut dan amarah
Luka terkuak dan menggebu tanpa arah
Tangis yang terbendung
Terbuang dalam waktu yang meluruh
Mimpi, harapan, dan keinginan yang dulu ada menjadi tenggelam atau tertutup oleh kebingungan dan kemarahan yang sangat menggebu. Luka lama terbuka kembali, tetapi tiada petunjuk atau arah untuk mengobati dan menghadapi luka tersebut. Tangis dan kesedihan yang terbelenggu dalam hati dan tidak bisa dilepaskan sepenuhnya. Beragam perasaan, kenangan, dan luka seperti terbuang oleh waktu yang seolah mampu mengikis, tetapi tidak sepenuhnya dapat terkikis dan hilang begitu saja.
Melihatmu bersemi dan bermekaran
Tawa candamu berikan kekuatan
Sisa hariku
Menjadi lirik yang banyak dipakai sebagai musik latar belakang dalam video tertentu, lirik ini bukan hanya sekadar lirik biasa. Bagian ini menggambarkan tentang bagaimana perasaan ketika mengamati sosok yang tersayang tetap tumbuh, berkembang, dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Kenangan tentang senyum, canda, dan tawa dari sosok itu memberi dorongan, serta semangat dalam kesedihan atau pergulatan batin. Sisa waktu dalam hidup dipenuhi dengan kenangan, walaupun tahu bahwa waktu terus berjalan. Keinginan untuk memeluk dan mempertahankan masih melekat dalam pikiran karena terdapat kenangan indah yang tetap memberi daya di tengah kesulitan.
Alunan nada yang menyatu dengan lirik serta penggambaran makna lagu dalam video musik di akun YouTube Barasuara semakin membuat banyak orang merasa bahwa kehidupannya tergambarkan melalui lagu ini. Rasa penyesalan yang tidak bisa diubah dan waktu yang tidak bisa diputar kembali, mengingatkan kita ke masa di mana semuanya masih berjalan “baik-baik saja”.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

