Apa artinya menjadi “manusia”? Apakah ketika kita sudah memenuhi syarat, atau jangan-jangan kita hanya sedang memainkan peran, berpura-pura mengerti aturan hidup yang tak pernah benar-benar kita pahami?
Buku karya Tere Liye banyak mengajarkan kita tentang arti kesabaran, pentingnya integritas, makna pengorbanan, atau keberanian menghadapi hidup. Ada juga yang mengenai kekeluargaan, persahabatan, perjuangan hidup, dan kehilangan. Tetapi, novel “Tentang Kamu menceritakan mengenai perjalanan hidup seorang wanita bernama Sri Ningsih yang penuh dengan tantangan, luka yang mendalam, dan perjuangan.
etiap orang tentu memiliki definisinya sendiri. Ada yang merasa bahagia saat berhasil meraih impiannya, ada yang menemukan kebahagiaan lewat kehadiran orang-orang tersayang, bahkan ada pula yang makna bahagianya sederhana saja, cukup dengan melihat unggahan baru dari idola favorit di media sosial. Namun, pertanyaan pentingnya adalah, sudahkah kita benar-benar memahami makna kebahagiaan yang kita cari selama ini?
Saat menjalankan kehidupan, kita hanya selalu menyatakan tahu apa yang akan dikerjakan. Namun, pernahkah sempat terlintas dalam benak, dan mengkilas kembali “mengapa” kita harus mengerjakan apa yang akan dikerjakan?
“Tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi-bayi perempuan cantik di dunia laki-laki yang mesum seperti anjing di musim kawin.” —halaman 5.
Setiap orang pasti pernah merasa perasaan tidak aman (insecure), tidak percaya diri, ataupun bahkan depresi. Buku karya Brian Krishna yang berjudul “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”, dari penerbit Grasindo menjadi salah satu rekomendasi buku yang harus kamu baca minimal sekali seumur hidup.
Jika kamu dihadapkan dalam suatu kondisi untuk bertahan hidup di sebuah kapal tenggelam di lautan, sehingga harus bertahan hidup selama beberapa hari di tengah lautan bebas, bagaimana kamu dapat melewati kondisi tersebut? Kondisi tersebut sudah pernah dihadapi oleh Walter, serta telah dituliskan dalam buku yang berjudul The Boat.
ernahkah terlintas di benakmu jika dalam kehidupan kita sehari-hari, secara tidak sadar menerapkan konsep dasar dari pemasaran? Baik dalam berbusana, berbicara, bahkan berpenampilan, kita tentunya sangat memerhatikan apa yang akan kita gunakan demi menciptakan impresi yang baik.
Pernahkah kamu bertanya pada diri sendiri, mengapa selalu gagal mencapai tujuan? Atau kamu juga masih bingung dengan apa sebenarnya tujuan hidupmu? Buku Makanya, Mikir! karya Abigail dan Cania ini mungkin dapat menjadi jawaban, kamu akan diajak berpikir dan merancang tujuan hidupmu.
Pernahkah kamu membayangkan bahwa kamu bisa membuat orang lain merasa nyaman hanya dengan komunikasi sederhana? Atau kamu dapat membangun jaringan yang kuat tanpa melakukan sesuatu yang terkesan memaksa?
