Hits: 37
Theodora Stephanie Laowo
Pijar, Medan. Di tengah budaya produktivitas yang semakin kuat, kegagalan sering dijelaskan dengan cara yang sederhana, yaitu kurang disiplin, kurang fokus, atau kurang bekerja keras. Narasi ini terdengar masuk akal karena menawarkan jawaban yang cepat. Namun, kenyataannya banyak orang yang sudah berusaha keras, tetapi tetap merasa berjalan di tempat, terjebak dalam kebiasaan menunda pekerjaan penting, meragukan kemampuan diri, atau menghindari peluang yang sebenarnya mereka inginkan.
Melalui buku The Mountain Is You, Brianna Wiest menawarkan sudut pandang yang berbeda dari banyak buku motivasi pada umumnya. Ia memulai dari premis yang cukup sederhana, tetapi tidak selalu nyaman untuk diakui, yaitu hambatan terbesar dalam hidup sering kali bukan berasal dari keadaan di luar diri kita, melainkan dari pola yang kita pertahankan sendiri tanpa sadar.
Wiest menyebut fenomena ini sebagai self-sabotage. Istilah ini tidak berarti seseorang sengaja merusak hidupnya. Sebaliknya, self-sabotage merujuk pada pola perilaku yang tanpa disadari justru menghambat tujuan yang ingin dicapai. Kebiasaan seperti menunda pekerjaan, menolak peluang karena merasa belum siap, atau bertahan dalam situasi yang sebenarnya tidak lagi sehat sering kali menjadi contoh sederhana dari pola tersebut.
Dalam salah satu bagian bukunya, Wiest menulis bahwa “your mountain is not the thing in front of you, it is the thing inside of you.” Kalimat ini merangkum gagasan utama buku tersebut, tentang “gunung” yang harus didaki manusia sering kali bukan tantangan eksternal, melainkan pola pikir, ketakutan, atau kebiasaan yang tertanam di dalam dirinya sendiri.
Banyak dari pola ini sebenarnya terbentuk sebagai mekanisme perlindungan. Pengalaman masa lalu, seperti kegagalan, rasa tidak aman, atau tekanan lingkungan, dapat membuat seseorang belajar melindungi dirinya dengan cara tertentu. Masalahnya, cara perlindungan tersebut sering tetap terbawa bahkan ketika situasi sudah berubah. Akibatnya, seseorang mungkin menghindari risiko, menunda keputusan penting, atau meragukan kemampuannya sendiri. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena terbiasa merasa tidak aman.
Bagian yang menarik, buku ini tidak memandang self-sabotage sebagai kelemahan karakter. Wiest justru melihatnya sebagai sinyal bahwa ada kebutuhan emosional yang belum terselesaikan. Dari sudut pandang ini, perubahan tidak selalu dimulai dari disiplin yang lebih keras atau strategi yang lebih ambisius, tetapi dari kesediaan untuk memahami diri sendiri dengan lebih jujur.
Pendekatan ini terasa relevan dengan kehidupan modern. Banyak orang hidup di tengah tekanan untuk terus berkembang menjadi lebih produktif, lebih sukses, dan lebih cepat mencapai berbagai target. Namun, tekanan yang sama sering kali membuat orang-orang lupa bahwa perubahan yang bertahan lama jarang terjadi secara instan. Tanpa memahami pola yang membentuk cara kita berpikir dan bertindak, usaha untuk berubah sering kali hanya mengulang siklus yang sama.
Pada akhirnya, gagasan yang ditawarkan buku ini cukup sederhana, yaitu “gunung” yang harus didaki manusia sering kali adalah dirinya sendiri. Tantangannya bukan hanya mencapai tujuan tertentu, tetapi juga berani mengakui bahwa sebagian hambatan itu mungkin berasal dari pola yang selama ini kita pertahankan. Mungkin juga, langkah pertama untuk melewatinya bukan bekerja lebih keras, melainkan belajar memahami diri sendiri dengan lebih jujur.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

