Hits: 21
Kelly Kidman Salim
Pijar, Medan. Selama ini, sebutan “cinta” sering kali terdengar seperti sebuah kata atau ungkapan yang memiliki makna mendalam, bahkan cenderung berat untuk diucapkan karena dirasa memiliki tanggung jawab besar yang tersimpan di balik kata itu.
Meski demikian, apakah sebenarnya kita benar-benar mengerti apa itu cinta? Apakah harus selalu romantis, berbunga-bunga, atau bisa juga hadir dan ditunjukkan dalam bentuk lain yang sering kita abaikan? Dari pertanyaan seperti itu, buku Conversations on Love terasa dekat melalui cerita yang dibagikan di dalamnya.
Buku yang ditulis oleh Natasha Lunn pada 2021 ini, berisi kumpulan obrolan panjang tentang cinta. Bukan hanya membahas soal pasangan, tetapi juga tentang persahabatan, keluarga, rasa kehilangan, sampai hubungan dengan diri sendiri. Lunn merangkainya dari berbagai percakapan dengan penulis, terapis, dan tokoh-tokoh lain. Cerita tersebut lalu disisipkan dengan refleksi personal yang membuat semua obrolan tersebut terasa lebih hidup.
Di buku ini, Lunn menempatkan dirinya sebagai seseorang yang juga sedang mencari tahu dan mempertanyakan banyak hal tentang cinta. Mungkin kita juga pernah pikirkan hal yang sama, seperti kenapa cinta sering terasa rumit? Kenapa seseorang bisa bertahan di hubungan yang tidak sehat? Begitu pun pertanyaan lainnya.
Pembaca buku ini juga diajak untuk mengubah cara pandang terhadap cinta, seperti untuk menyadarkan kita bahwa cinta tidak selalu datang dengan momen-momen besar yang dramatis. Cinta justru bisa saja hadir dalam bentuk yang lebih tenang. Melalui percakapan sederhana, kehadiran kita bagi seseorang, atau dalam hubungan yang tidak selalu sempurna, tetapi tetap dijalankan setiap hari.
Tidak hanya itu, Lunn juga menyinggung bagaimana selama ini kita terlalu menaruh cinta romantis di atas segalanya, padahal hubungan seperti persahabatan punya peran yang sama pentingnya dalam hidup.
Selain terus-menerus bercerita tentang apa arti cinta, Lunn juga membahas tentang kenyataan dari rasa kehilangan ketika mencintai orang lain. Buku Conversations on Love menunjukkan bahwa mencintai dan kehilangan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Semakin dalam kita mencintai, semakin besar juga kemungkinan kita merasakan kehilangan. Hal tersebut bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan harus diterima sebagai bagian dari hidup.
Dengan gaya bahasa yang ringan dalam penulisannya, membaca buku ini tidak akan terasa seperti membaca teori dan terlalu menggurui, tetapi lebih seperti mendengar cerita dari banyak orang dengan pengalaman berbeda. Akan ada bagian yang mungkin terasa relate, ada juga yang akan membuat kita berhenti sejenak untuk merenungkan isinya.
Buku Conversations on Love memberi ruang bagi pembacanya untuk memahami, meragukan, sekaligus menerima jawaban bahwa cinta memang tidak selalu harus dimengerti sepenuhnya. Dari situ juga, mungkin kita bisa jadi sedikit lebih jujur pada diri sendiri tentang bagaimana kita mencintai, dan ingin dicintai.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

