Hits: 22
Zoraya Balqis
Pijar, Medan. “A smart man makes a mistake, learns from it, and never makes that mistake again.” – Roy H. Williams.
Sejak kecil, banyak orang tumbuh dengan satu kata yang berulang, yaitu kata “jangan”. Nasihat itu muncul dalam berbagai bentuk, seperti jangan jatuh, jangan gagal, jangan membuat kesalahan. Kata “jangan” perlahan menjadi benteng yang menghalangi cara memandang hidup. Kesalahan dipersepsikan sebagai sesuatu yang harus dihindari, bahkan ditakuti. Namun, apakah benar kesalahan selalu membawa dampak buruk di kehidupan manusia?
Melalui buku The Secret of Making Mistakes, Tungga Dewi mengulik rahasia kesalahan dari kacamata yang berbeda. Ia menerangkan bahwa kesalahan bukan sekadar kegagalan, melainkan permulaan dalam proses pertumbuhan manusia.
Terkadang, melakukan tindakan yang menyebabkan kesalahan juga bisa terkesan seperti perlakuan yang tidak dapat terampuni. Hal tersebut terjadi, ketika ketidakmampuan seseorang dalam merespons kesalahan yang dapat menyebabkan hal buruk, baik disadari maupun tidak disadari. Memiliki sikap perfeksionis merupakan salah satu dari ketidakmampuan tersebut.
Perfeksionisme merupakan sikap yang menetapkan standar sempurna untuk diri sendiri maupun orang lain. Semakin tinggi ekspektasi, maka akan memicu rasa ketidakpuasan di dalam diri seseorang. Perfeksionisme dapat mengukir kepribadian yang “antikesalahan”, dengan menunda-nunda demi mendapatkan hasil yang sempurna. Padahal, dengan mengakui kesalahan dapat meningkatkan kualitas diri seseorang.
Dalam salah satu bab bukunya, Dewi menerangkan bahwa seseorang yang belajar menerima dirinya akan menghadapi fase penolakan (denial). Fase denial adalah bentuk pertahanan psikologis yang digunakan untuk menolak realita. Fase ini terjadi, baik berupa masalah, perasaan, maupun situasi yang tidak sesuai dengan harapan.
Dewi juga menyebutkan alasan, bahwa seseorang bersikap defensif karena takut dicap sebagai sosok yang lemah di mata orang lain. Namun, satu hal yang tidak boleh dihindari adalah kenyataan bahwa kamu tidak bisa memuaskan ekspektasi semua orang. Wajar jika beberapa orang menyukaimu dan sebaliknya. Jika seorang individu sudah menyadari ia sedang berada di fase denial, ia mulai mengubah kepribadiannya menjadi sosok yang positif.
Setelah mengetahui bagaimana menerima kesalahan, seorang individu akan masuk ke tahap belajar untuk ‘melangkah maju’ agar tidak terjebak dalam kesalahan yang sudah berlalu. Ketika sudah menerima diri dengan ikhlas, individu tersebut belajar menjadi manusia yang menerima segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Berikut beberapa langkah dalam menerima kesalahan.
Pertama, belajar memaafkan diri sendiri. Banyak orang terjebak dalam rasa bersalah yang berkepanjangan karena terus mengingat kekeliruan yang pernah dibuat. Dengan belajar memaafkan diri, seseorang dapat melangkah maju tanpa terus dibebani masa lalu. Sikap ini juga membantu individu membangun kembali kepercayaan terhadap dirinya.
Kedua, memahami dan menerima emosi. Kesalahan sering kali memunculkan berbagai emosi yang tidak nyaman, seperti rasa malu, kecewa, marah, hingga penyesalan yang mendalam. Emosi tersebut merupakan reaksi yang wajar ketika menyadari bahwa tindakannya tidak berjalan sesuai harapan. Dewi menekankan pentingnya memahami emosi tersebut dengan jujur. Ketika emosi dipahami, individu akan mudah mengelola perasaan secara sehat. Proses ini membantu individu melihat kesalahan secara lebih objektif.
Ketiga, terima tanggung jawab atas apa yang terjadi. Mengakui kesalahan berarti berani bertanggung jawab atas akibat yang muncul dari tindakan tersebut. Individu akan belajar untuk tidak menyalahkan keadaan atau orang lain. Melalui proses ini, individu dapat membangun kembali kepercayaan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain di sekitarnya.
Keempat, perlakukan diri dengan kebaikan dan kasih sayang. Kritik yang berlebihan terhadap diri sendiri dapat mempersulit keadaan seorang individu. Dengan pendekatan yang penuh kasih sayang, kesalahan dapat dipandang sebagai pengalaman berharga, bukan sebagai kegagalan yang memalukan.
Kelima, nyatakan penyesalan atas kesalahan. Penyesalan merupakan bentuk kesadaran bahwa tindakan yang dilakukan telah menimbulkan dampak. Penyesalan yang disadari dengan jujur membantu individu memahami nilai dari tanggung jawab. Dari titik ini, seseorang dapat mulai memperbaiki diri lebih baik.
Keenam, memperbaiki kesalahan dan meminta maaf, termasuk kepada diri sendiri. Setelah menyadari kesalahan, perbaiki hal yang masih dapat diperbaiki. Dewi juga mengingatkan bahwa memaafkan diri sendiri tidak kalah penting dalam proses ini. Tanpa penerimaan terhadap diri sendiri, seseorang akan terus terjebak dalam rasa bersalah yang menghambat pertumbuhan.
The Secret of Making Mistakes mengajarkan bahwa kesalahan bukanlah sesuatu yang ditelantarkan, melainkan bukti bahwa manusia sedang menjalani proses pembelajaran dalam hidupnya. Setiap kesalahan menyimpan pelajaran yang membantu seseorang mengenal dirinya. Kesalahan yang diperbuat tidak hanya untuk diratapi, melainkan hikmahnya dipetik agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dengan sudut pandang ini, kesalahan menjadi bagian krusial dari perjalanan menerima kelebihan dan kekurangan yang ada.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

