Hits: 5
Cintya Novi Yanti
Pijar, Medan. Bagaimana mungkin benda sesederhana penutup dada dapat berkaitan dengan perjuangan hidup, bahkan bersinggungan dengan situasi politik? Pertanyaan inilah yang perlahan terjawab dalam novel Entrok, karya Okky Madasari, dengan mengangkat kisah perempuan di tengah perubahan besar dalam sejarah Indonesia.
Novel ini berlatar waktu pada masa peralihan dari era Soekarno ke Soeharto, tepatnya sekitar tahun 1950 hingga 1994. Pada periode tersebut, Indonesia mengalami berbagai perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, khususnya kalangan bawah. Berdasarkan cerita ini, pembaca diperlihatkan bagaimana peraturan negara dan kondisi sosial membentuk cara hidup dan pola pikir masyarakat.
Kisah berfokus pada tokoh Marni dan anaknya, Rahayu, merepresentasikan dua generasi dengan latar belakang dan cara pandang yang berbeda. Pada bagian awal cerita, Marni digambarkan sebagai remaja perempuan dari keluarga miskin yang memiliki keinginan sederhana, yaitu mempunyai beha (bra), atau dalam bahasa Jawa disebut entrok. Pada masa itu, entrok merupakan barang mewah yang hanya dapat dimiliki oleh kalangan tertentu.
Seiring pertumbuhan fisiknya menuju remaja, Marni mulai menyadari perubahan pada bentuk tubuhnya. Keinginannya untuk memiliki entrok muncul setelah melihat sepupunya telah mengenakan pakaian tersebut. Namun, keterbatasan ekonomi membuat keinginan itu sulit diwujudkan. Demi mencapainya, Marni membantu ibunya, yang ia panggil Simbok, bekerja di pasar dengan mengupas singkong milik pedagang. Upah yang diterima bukan berupa uang, melainkan bahan pangan, sehingga tidak cukup untuk membeli entrok.
Tidak berhenti di situ, Marni kemudian mengambil keputusan yang tidak lazim pada masa itu, yakni bekerja sebagai kuli di pasar. Pekerjaan tersebut umumnya hanya dilakukan oleh laki-laki dan dianggap tidak pantas bagi perempuan. Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil ketika ia berhasil membeli entrok pertamanya. Keberhasilan tersebut menjadi titik awal tekadnya untuk terus bekerja keras demi mencapai kehidupan yang lebih baik.
Perjuangan Marni berlanjut setelah ia menikah. Bersama suaminya, bernama Tejo, yang ia kenal saat menjadi kuli di pasar. Pada saat itu, Marni menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari kuli hingga berdagang bakulan. Bahkan, ia kemudian menjadi pemberi pinjaman uang bagi warga sekitar yang membutuhkan, meski sering dicap sebagai lintah darat. Hal ini menunjukkan pilihan hidup yang tidak mudah yang diambilnya dalam menghadapi tekanan ekonomi.
Di sisi lain, Rahayu tumbuh dengan pengalaman berbeda. Ia mendapatkan akses pendidikan hingga perguruan tinggi serta pemahaman agama yang kuat. Perbedaan latar belakang ini memengaruhi cara pandangnya terhadap kehidupan, termasuk ibunya sendiri. Rahayu menganggap kepercayaan yang dianut Marni sebagai sesuatu yang berdosa. Marni, yang tidak pernah mendapatkan pendidikan dan masih memegang kepercayaan leluhur, melakukan ritual dengan memberi persembahan kepada “Si Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa”.
Perbedaan keyakinan dan cara pandang tersebut memicu konflik antara ibu dan anak. Rahayu melihat dunia melalui perspektif pendidikan dan agama yang formal, sementara Marni berpegang pada pengalaman hidup dan tradisi yang telah ia yakini sejak kecil. Kesenjangan ini mencerminkan perselisihan nilai antara dua generasi yang tumbuh, melalui konteks sosial dan zaman yang berbeda.
Selain konflik keluarga, novel Entrok juga menampilkan situasi sosial-politik pada masa orde baru. Masyarakat digambarkan berada dalam tekanan untuk mengikuti kebijakan negara, termasuk dalam pemilihan umum yang mengarah pada satu pilihan partai. Penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat, serta penembakan misterius terhadap orang-orang yang dianggap meresahkan masyarakat, juga turut menjadi bagian dari realitas yang dihadapi masyarakat.
Dalam kondisi tersebut, masyarakat kerap dihadapkan pada pilihan yang terbatas, yaitu antara patuh pada aturan negara atau dicurigai sebagai bagian dari kelompok terlarang seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), dengan berujung pada penangkapan dan pengucilan sosial.
Secara keseluruhan, istilah ”entrok” dalam novel Entrok tidak sekadar merujuk pada benda fisik, tetapi juga menjadi simbol perjuangan untuk meraih kehidupan yang layak dan bermartabat. Dari hal sederhana tersebut, cerita berkembang menjadi gambaran luas mengenai ketimpangan sosial, tekanan kekuasaan, serta keterbatasan kebebasan individu. Novel ini juga menyoroti persoalan akses pendidikan, ketakutan masyarakat terhadap situasi politik, serta dampak isu-isu besar yang membayangi kehidupan sehari-hari pada masa tersebut.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

