Hujan terus mengguyur kota, sudah lima jam sejak pagi, dan ia tak berniat untuk berhenti. Langit tampak sangat kelabu dan suara tetes air memukul genting seperti detak jam dinding. Aku melangkah malas menuju jendela yang lupa kututup semalam, angin terus membawa gerimis masuk, menampar kulit dan menyapu dingin hingga ke tulang. Namun, sebelum sempat sampai, kakiku tersandung sesuatu.
Tik Tak Tik Tak
Detik waktu berdetak
Tidak menunggu kehendak bergerak
Jikalau menunda, tak lagi ada
Jikalau menanti, cepat ia terganti
Namaku Rara. Namun, di malam hari…, aku tidak lagi menjadi Rara. Setiap matahari terbenam, keheningan pun datang mengisi ruang kamarku. Aku merasakan sesuatu yang mengganjal pikiranku. Sesuatu yang bukan lagi aku, tetapi kehidupan lain di dalam diriku.
Zoraya Balqis Cinta kita bukan nada yang sempurna Namun, rasa ini akan terus mengudara
Hits: 35Adelima Patricya Apa katanya tentang mimpi dan asa, Jika tiap detikku habis di depan meja. Menulis kata demi…
Hits: 36Tasya Hapsari Berputar dalam simfoni pilu Diiringi resah yang tak kunjung usai Apakah sanggup berteman dengan sendu? Sungguh,…
Hits: 55Siti Farrah Aini Yogyakarta, 2018. Orang-orang berpakaian serba hitam silih berganti mengunjungi pemakaman hari itu. Valen merasakan suara tangisan,…
Hits: 56Alya Amanda Kalut Dirinya bergemuruh, sibuk menyalakan emosi Sekitarnya dipenuhi kabut, lebat. “Tak ada yang mengertiku!” Kini, dirinya…
“Ayahh…Ayah di mana?”
“Ibu di mana dirimu, aku membutuhkan pelukanmu.”
Sore itu alunan rintik hujan menggema ke seluruh kota, tampak seorang pria tua yang mungkin berusia sekitar 50 tahunan, duduk seorang diri di ujung sofa di dalam kedai kopi yang tidak ramai. Dipandangnya lamat-lamat kopi hitam yang sudah lama dingin di atas meja.
