Hits: 37

Siti Farrah Aini

Yogyakarta, 2018.

Orang-orang berpakaian serba hitam silih berganti mengunjungi pemakaman hari itu. Valen merasakan suara tangisan, tepukan di bahu kanan dan kirinya, serta lantunan doa di sekitarnya. Namun, semuanya tak mengubah apa pun baginya, yang pergi takkan kembali dan kehilangan takkan sirna. Matanya sudah lelah menangis dan pikirannya kosong. Ia hanya duduk tanpa bicara di sisi makam, sesekali mengangguk untuk menyahut banyaknya kata “tabah” pada sore itu. Sahabatnya, Adan-lah yang banyak menyambut orang-orang yang datang ke makam.

Valen memandangi nisan itu, entah dia akan sanggup mengunjunginya lagi berikutnya.

“Maaf, Yah,” lirihnya kecil untuk kesekian kalinya.

Hari itu sang ayah pergi untuk selama-lamanya setelah setahun melawan sakit yang dideritanya. Bagi Valen, ia kehilangan seluruh dunianya. Ia belum membuat sang ayah bahagia seperti tujuannya, bahkan tak tahu bagaimana perasaan ayahnya selama ini. Valen dihinggapi rasa bersalah yang bercampur dengan kehilangan. Andai saja ia punya banyak waktu untuk membahagiakan sang ayah, andai ayahnya bisa menyaksikan pencapaian kecilnya, dan andai Tuhan mau mengulur takdir untuk sang ayah.

Dalam lubuk hatinya, ia pinta maaf pada sang ayah dan Tuhan, permintaan maaf karena tak akan berkunjung untuk tahun-tahun setelahnya.

Yogyakarta, 2025.

Tujuh tahun lalu masih terputar jelas di ingatannya, tak buram sama sekali. Valen tenggelam dalam lamunannya sambil menatap ingar bingar jalanan dari rooftop kafe yang ia kunjungi. Antrean panjang di perempatan jalan, pengendara yang mulai blusukan ke gang kecil demi pulang ke rumah, dan lampu lalu lintas yang bertukar warna secara bergantian seakan semrawut di matanya. Persis seperti pikirannya saat ini.

“Aku ulang pertanyaan ini untuk ketujuh kalinya, Len. Kamu enggak mau pergi ke makam Ayah?” ujar lelaki di hadapannya. Tak ada penekanan di setiap kata, selalu terucap dengan hangat seakan sedikit demi sedikit meluluhkan hati yang keras.

Valen mengalihkan pandangan ke lelaki itu. Ia tak berselera meneguk secangkir caramel macchiato miliknya yang tersaji, berbanding terbalik dengan secangkir kopi hitam di sisi lain yang akan tandas dalam sekali seruput lagi.

“Udah tujuh tahun setelah kejadian itu dan kamu pasti paham kenapa kita di sini lagi hari ini, tepat  tujuh tahun. Dalam tujuh tahun itu, tujuh kali juga aku enggak pernah bosan buat mengulang pertanyaan yang sama.”

“Enggak bisa, Dan. Aku enggak bisa buat ke sana lagi,” jawab Valen kepada Adan, lelaki di hadapannya dengan senyuman tipis. Jawabannya masih sama sampai yang ketujuh kalinya.

“Len, kita udah sahabatan sejak kecil, lebih lama dari semua teman kamu yang sekarang. Aku mengerti soal kamu. Aku tahu kalau kamu pasti mau, kamu hanya lagi kalah sama hatimu. Kamu pasti rindu, perasaanmu yang menghalangi kamu melangkah ke sana. Kamu udah menuangkan semua perasaanmu di ketiga novel kamu dalam tujuh tahun. Seharusnya, udah lebih dari cukup,” ucap Adan lagi. Ia memandang Valen lekat-lekat, melihat jelas semburat kelabu dari netranya meski senyuman tipis itu belum pudar.

Valen telah menjadi seorang penulis. Meski terdapat tiga novel gubahannya yang rilis selama tujuh tahun, Adan tak kaget kala membacanya. Pasalnya, ketiganya adalah sebuah kisah beralur panjang, berseri, dan berakhir pada ujung yang sama: soal kerinduan.

“Dan, kehadiranku di dunia cuma bikin hidup Ayah sengsara. Pisah dari pasangannya, bertarung melawan sakitnya, dan harus berjuang sendirian untukku. Aku belum bisa kasih, bantu, bahkan nyenengin dengan apa pun.”

“Sulit bagiku, Dan. Satu-satunya yang aku punya dan harus kehilangan,” Valen mendongak ke atas, menatap langit sore sembari menahan air mata yang dapat jatuh kapan saja.

“Len, dengar. Semua bukan salahmu, udah cukup untuk menyalahkan dirimu sendiri. Kamu menghabiskan waktu berharga di sisa hidupnya, pergi ke tempat yang pengin Ayah kamu kunjungi, dan selalu mengabadikan namanya di seluruh kisahmu. Kamu berhasil jadi sosok yang ia impikan. Siapa pun akan bangga sama kamu, termasuk aku, orang-orang, dan Ayah,” Adan menggeser tempat duduknya menjadi di sebelah Valen, mengulurkan sapu tangan dari sakunya. Valen tak lagi membendung air mata, semuanya pecah begitu saja.

“Valen, kamu mau buat ketemu Ayah lagi?”

Yogyakarta, 2017.

Valen merasakan gejolak dalam hatinya. Ia tak sanggup berucap kala sang dokter menunjukkan hasil diagnosis. Satu hal pasti bahwa setelah ini tak akan ada kata berhenti baginya untuk menghabiskan waktu dengan orang tersayangnya itu.

Setelah tak lagi berada di rumah yang tak dianggapnya rumah itu, ayah dan anak itu pindah ke rumah yang lebih kecil. Setahun yang lalu, ibu meninggalkan sang ayah yang diputus hubungan kerjanya lantaran perusahaan yang gulung tikar. Ibu juga tak menyukai Valen yang tekun menulis, baginya lebih baik menjadi dokter yang bisa mendapatkan penghasilan besar. Jarang terdengar kalimat hangat dari lisan sang Ibu, Valen juga tak mengerti alasannya. Ibunya juga tak pernah menghadiri perkumpulan orang tua, apalagi mengambil rapor selama studi Valen di sekolah.

Rasanya, ibu tak pernah menyukai Valen. Namun, Valen sungguh menyayangi sang ayah yang memenuhi semua peran yang ia butuhkan. Ayah yang memasak makanan kesukaannya, mengambil rapor di sekolah, dan mendukung cita-citanya untuk menjadi seorang penulis.

“Len, sakitnya Ayah parah, ya?” tanya sang ayah yang berdiri tegak di samping Valen. Keduanya sudah berada di luar bangunan rumah sakit.

Valen tak mengangguk. Ia terdiam tanpa tanggapan.

Sang ayah merangkul pundak Valen, putri tunggalnya itu. Tanpa berkata apa pun, mereka berjalan berdampingan dengan lengan sang ayah yang mendekap Valen dengan hangat. Tiada percakapan, hanya pundak Valen yang naik turun dengan air mata yang sudah bercucuran selama perjalanan.

Selama setahun pula, Valen tak absen menemani sang ayah. Meski telah dilarang, ayah bersikeras untuk bekerja. Sebuah perusahaan baru telah menerimanya, meski tak akan berpenghasilan seperti sebelumnya. Namun, sebagai gantinya Valen harus bersiap dengan segala kemungkinan setelah sang ayah kembali dari pekerjaannya, entah darah yang mengucur dari hidung atau kondisinya yang akan memburuk.

Dokter berulang kali menyarankan agar sang ayah dirawat, tetapi tak kunjung diiyakan. Valen tak dapat berbuat banyak karena sang ayah bersikeras untuk menafkahi putri kesayangannya itu. Setiap akhir pekan pula, Valen membawa sang ayah yang sudah mengenakan kursi roda ke taman, pantai, dan semua tempat yang ingin sang ayah kunjungi. Valen sadar bahwa ia sedang melawan waktu.

“Len, Ibu suka pantai,” ujar ayah kala mereka berdua tengah memandangi pantai sore itu.

Valen yang duduk di pinggir pantai memasang muka masam. “Ayah kenapa harus bahas Ibu, sih?”

“Enggak boleh gitu, Len. Ibu yang melahirkan kamu, Nak,” ujar sang ayah yang tak ditanggapi oleh Valen.

“Dan ayah juga jadi suka pantai. Ibu suka bunga tulip dan ayah juga suka. Ibu suka warna kuning dan lagi-lagi ayah juga suka. Hampir semua yang Ibu suka, ayah juga jadi suka.”

Valen merasakan angin pantai menerpa wajahnya. Meski hampir tak peduli dengan ibunya, ia tetap penasaran. “Kenapa Ayah jadi bahas Ibu? Kenapa harus suka semua yang Ibu suka?”

“Suatu saat, kalau kamu merasa kehilangan, abadikan hal tersebut di dalam hati kamu. Dengan begitu, kamu enggak merasa kehilangan dan belajar caranya mengikhlaskan. Apa pun itu, semuanya ada di semua tempat, termasuk hati.”

“Kamu juga kalau udah suka nulis, abadikan itu dalam hati kamu, Len. Kamu bisa percaya Ayah kalau kamu enggak akan pernah merasa kehilangan karena menulis udah jadi bagian dari kamu.”

Valen tak pernah mengerti perkataan tersebut hingga tugasnya untuk sang ayah selesai.

Hari ini Valen memegang sebuket bunga tulip di tangan kanannya, berwarna kuning seperti warna favorit orang yang dirindukannya itu. Adan tak sia-sia meyakinkannya selama tujuh tahun lamanya. Kini, misinya selesai untuk membuat Valen bertemu kembali dengan sosok yang telah lama menunggu.

Ia putuskan untuk kembali ke tempat yang ia janjikan takkan pernah ia kunjungi lagi. Ia putuskan untuk membayar kata “maaf” tujuh tahun yang lalu. Ia putuskan untuk bertemu lagi dengan sang ayah.

Valen berdiri di depan tempat peristirahatan terakhir ayahnya, tak sendiri karena Adan masih setia menemaninya. Nisan itu masih sama rasanya seperti yang dilihatnya tujuh tahun yang lalu, tetap bersih dari ilalang dan rerumputan. Tak hanya nisan, bahkan langit yang menjingga pun sama persis seperti suasana tujuh tahun lalu. Perlahan Valen berjongkok dekat gundukan tanah itu. Matanya menyorot dalam nama yang terpatri di sana.

“Ayah, Valen datang. Maaf, udah terlalu telat ya, Yah.”

Ia memandangi nisan dari ujung hingga ke ujung dan mengulanginya lagi. Buket bunga tulip itu diletakkan di atas pusara sang ayah. Meski lidahnya terasa kelu, sungguh rasa rindunya tak lagi bisa dibendung.

“Selama tujuh tahun, Valen berusaha buat menepis rasa rindu dan kehilangan lewat banyak cara. Valen berusaha buat menuangkannya lewat menulis, tapi memang harusnya Valen jenguk Ayah, kabarin Ayah, dan bercengkrama dengan Ayah untuk menceritakan semuanya. Ayah benar soal kehilangan, Valen cuma menepis rasanya bukan mengikhlaskan.”

“Valen minta maaf, Yah, karena mungkin sebab Valen-lah maka Ayah juga harus kehilangan sosok yang Ayah cintai, harus melawan rasa sakit, dan… berusaha untuk baik-baik saja. Pasti Ayah kesusahan karena Valen, ya?”

Adan menepuk-nepuk bahu Valen. Ia merogoh sapu tangan dari saku dan menyeka pelan air mata Valen. Sahabatnya itu sangat hancur dan pun tak berdaya atas dirinya sendiri.

“Maaf terlalu lama untuk kembali lagi. Valen enggak kuat, Yah, enggak kuat harus kehilangan. Valen hanya punya Ayah di dunia dan Tuhan merenggut satu-satunya itu dari Valen,” tak berhenti Valen berbicara seolah memang ia tengah melihat ayahnya di hadapan.

“Ayah bahagia di sana? Pasti bahagia ya, udah enggak sakit lagi. Valen selalu berharap kalau Ayah udah berada di tempat yang indah, seindah pantai yang kita sering kunjungi dan taman bunga tulip kuning yang Ayah sukai.”

Valen menatap lekat pusara itu. Semua kenangan terputar kembali, soal ayah yang masih membelikan martabak kesukaannya sepulang kerja, buku-buku keinginannya yang entah bagaimana bisa diketahui walau tak pernah terucap, dan wejangan tipis pria itu seolah bekal bagi anak semata wayangnya. Ia tersenyum tipis sembari mengusap air matanya yang terus turun.

“Valen udah nulis buku, jadi penulis sesuai yang Valen mau. Kisah-kisah Ayah selalu ada di setiap cerita Valen, semua, tiga-tiganya. Ayah memang benar soal keabadian. Valen kehilangan Ayah, satu-satunya orang yang meyakinkan Valen untuk segala hal, tapi nama Ayah tanpa sadar selalu abadi dalam hidup Valen sampai sekarang. Ayah enggak pernah benar-benar pergi dan Valen enggak pernah benar-benar kehilangan. Kasih waktu biar Valen belajar caranya ikhlas ya, Yah. Maaf akan memakan waktu yang lama lagi.”

Adan menepuk bahu Valen sekali lagi, mengisyaratkan untuk sejenak mengirim doa untuk sosok berharga bagi Valen itu. Sejenak hanya keheningan di antara mereka berdua, merayu Tuhan untuk mengabulkan panjatan harapan.

“Ayah enggak hanya kasih tahu soal kehilangan, tapi juga rasa cinta yang besar. Valen tahu bahwa Ayah sangat terpukul waktu pisah dari Ibu, tapi Ayah enggak pernah marah sama keadaan. Valen sadar kalau Ayah udah mengabadikan Ibu dalam hati meski kisahnya enggak berakhir baik. Ayah ngajarin hal-hal kecil sampai besar ke Valen. Ayah, terima kasih karena enggak absen jadi orang nomor satu bagi Valen, pahlawan yang enggak pernah kesiangan, dan sosok tangguh yang enggak kalah sama dunia.”

“Valen selalu sayang Ayah. Ayah selalu abadi di hati Valen.”

Air matanya kian mengalir deras dari kedua netranya, tetapi hatinya lega. Valen memutuskan untuk menyudahi pembicaraan satu arah itu, meski ia tak tahu adakah jawaban atas semua yang ia pertanyakan. Ia hanya merasa tenang karena sudah menemui sang ayah, seperti kembali bercerita di meja makan bertahun-tahun yang lalu. Ia beranjak dari jongkok, mengisyaratkan Adan bahwa ia telah selesai dengan segala perasaan yang menahannya.

Leave a comment