Hits: 25

Marshella Febriyanti Hutabarat

Juli 2007

Sore itu alunan rintik hujan menggema ke seluruh kota, tampak seorang pria tua yang mungkin berusia sekitar 50 tahunan, duduk seorang diri di ujung sofa di dalam kedai kopi yang tidak ramai. Dipandangnya lamat-lamat kopi hitam yang sudah lama dingin di atas meja.

Kringg…

Suara lonceng kecil yang sengaja diletakan di atas pintu berbunyi menandakan ada orang yang keluar, kini menyisakan pria tua dengan seorang gadis berambut sebahu yang diikat tinggi dan mengenakan apron khas kedai kopi ini.

“Permisi, Pak,” ucap gadis itu dengan senyum ramah terpatri di wajahnya. Ia mendudukkan diri di sebelah pria tua tersebut. “Ada yang bisa saya bantu?”

Dari awal kedatangannya, pria itu sudah mengundang perhatian sepasang mata sang barista. Mungkin inilah waktu yang tepat untuk mereka mengobrol barang hanya sebentar, di saat kedai sepi karena tak lagi ada pembeli yang masuk dan juga udara dingin yang mendukung.

Pria tua itu menatap wajah si gadis lalu pandangannya beralih pada bordiran nama di sebelah kanan apron. “Miyuki…,” lirih pria itu membaca dengan lambat.

Miyuki mengangguk tanda pelafalan namanya sudah benar, “Saya Miyuki, apa yang Bapak lakukan selama tiga jam di sini? Apakah sedang menunggu seseorang?”

Tak tahan akan rasa penasaran, Miyuki akhirnya melontarkan pertanyaan yang berputar di kepalanya sedari tadi. Bukan jawaban secara langsung yang ia dapatkan, melainkan cerita panjang yang mampu memedihkan hati tiap pendengar.

“Jadi…,” Ucap si pria tua memulai ceritanya sembari meremat secarik kertas di tangannya.

Mei 2006

Di sebuah lembah sunyi yang dikelilingi sawah dan pepohonan rindang, terletak desa kecil yang damai. Udara pagi sejuk, burung-burung bernyanyi riang, dan sinar matahari menari di antara dedaunan. Segalanya terasa tenang, seolah waktu berjalan lebih lambat di sana.

Di antara penduduk desa yang hidup dalam kesederhanaan itu, tinggal seorang anak gadis yang sangat disayangi ayahnya. Namanya Suki, gadis periang dengan rambut yang selalu dia biarkan terurai dan memiliki mata yang indah.

“Bapak, Suki membawakan sesuatu untuk kita makan malam ini,” teriaknya sesaat setelah melangkahkan kaki ke dalam rumah kecil nan hangat itu.

Suki menyiapkan piring berisi nasi untuk dirinya dan bapak, serta lauk yang ia bawa tadi sembari bersenandung kecil.

“Ayo, Bapak duduk.”

Suki dan Bapak menyantap makanan mereka masing-masing dengan tenang.

“Bagaimana guru baru di sekolahmu itu?” tanya Bapak yang tiba-tiba teringat cerita anaknya seminggu lalu.

Suki meneguk minumnya sebelum menjawab, “Aah, ya sejauh ini baik saja, kami juga belum terlalu akrab dengan beliau. Kalau dari cerita teman yang berbeda kelas, ibu itu sangat suka memberikan tugas tambahan. Uhuk… Uhuk….” Suki terbatuk sebentar saat belum usai menyelesaikan ceritanya.

Bapak menuangkan air dari ceret ke gelas milik Suki. “Minum dulu, ceritanya pelan-pelan.”

Terhitung sudah tiga minggu setelah makan malam waktu itu, batuk Suki tak kunjung terlihat membaik. Maka, pagi ini Suki dipaksa oleh Bapak untuk memeriksakannya ke pos kesehatan yang tak jauh dari rumah.

“Bapak antarkan ya, supaya kamu dikasih obat sama ibu perawat di sana,” bujuk Bapak pada anak satu-satunya itu.

Suki menyerah setelah lelah tiga kali menolak ajakan Bapak, akhirnya ia setuju untuk diperiksa.

Sepulang dari pos kesehatan, Suki dan Bapak duduk di depan rumah bersantai sembari menikmati angin sejuk dan nyanyian burung pipit yang hinggap di sekitaran rumah mereka.

“Kata ibu perawat tadi, mungkin ini hanya batuk biasa, tapi sudah diberikan obat,” ucap Suki memecah keheningan.

“Syukurlah kalau begitu. Oiya, bulan depan Bapak mau ke kota, ada pedagang yang mau bekerja sama dengan Bapak untuk menjadi pemasok hasil kebun.”

Suki menarik napasnya berat, menahan rasa ingin batuk. Tenggorokannya sungguh sudah teramat sakit, tubuhnya lelah. Pada akhirnya lagi dan lagi dia hanya memilih untuk berbaring di ranjang kayu yang masih terlihat kokoh walau umurnya sudah belasan tahun itu.

“Jangan lupa diminum obatnya, ya, nak.”

Juni 2006

Batuknya kini terdengar lebih berat dari sebelumnya. Tidak lagi sesekali tetapi datang dalam ledakan yang menyayat, seperti tubuhnya menolak diam. Di sela-sela malam yang tenang, suara itu memecah keheningan, disusul oleh isakan tertahan dan napas yang tersengal.

Tisu-tisu di samping ranjangnya sudah tak lagi hanya basah, beberapa kini bernoda merah tua, bukti bahwa tubuhnya tengah memberi peringatan yang tak bisa diabaikan. Suki tahu ini bukan lagi sekadar batuk. Tapi entah mengapa, ia masih belum berani memberitahu siapa pun.

Suki tidak ingin bapaknya tahu, ia tak ingin membuat bapaknya khawatir meski hal ini memang semestinya dikhawatirkan. Cukup sudah bapaknya lelah bekerja di kebun, Suki pikir ia bisa memendam hal ini sendirian.

Malam itu, gerimis mulai turun perlahan, Suki dan Bapak duduk lesehan di ruang tamu.

“Besok Bapak akan berangkat ke kota, ya. Bapak janji sepulang dari sana Bapak akan membawa kamu berobat ke rumah sakit yang lebih bagus, supaya diobati dengan serius. Bapak sudah kumpulkan uangnya, Suki tidak perlu khawatir,” ucap Bapak sembari mengusap lembut pucuk kepala putrinya.

“Pak, mending uangnya disimpan saja, Suki sudah merasa lebih baik, kok.”

Bapak tersenyum sampai-sampai matanya menyipit, “Iya kan ini Bapak tabung untuk anak kesayangan Bapak.”

Bapak menarik tangan Suki dan menggenggamnya erat, “Bapak dengar bulan depan ada cabang kedai kopi terkenal yang akan buka di kota terdekat, nanti kita ke sana, ya.”

Suki mengangguk kencang, siapa yang tidak senang diajak keluar oleh ayahnya. Matanya berbinar seperti anak anjing yang manis.

Keesokan paginya, sang Bapak berangkat ke kota lebih awal. Matahari bahkan belum sepenuhnya menampakkan diri ketika ia berdiri di ambang pintu, menatap sejenak ke arah kamar tempat putrinya terbaring. Ada ragu di matanya, seolah kakinya enggan melangkah lebih jauh dari ambang itu.

Batuk sang anak masih terdengar pelan, namun cukup menusuk hati. Tetapi hidup menuntut pilihan yang berat. Jika ia tinggal, tak akan cukup uang untuk membawa putrinya berobat. Maka dengan napas panjang dan doa lirih, ia menutup pintu perlahan, memanggul tas tuanya, dan melangkah pergi, membawa serta rasa gelisah yang tak bisa ditinggal di rumah.

Juli 2007

Miyuki mengusap matanya yang sudah berair sejak tadi, dadanya naik turun dengan cepat seolah sesak tak ada oksigen di sana.

“Lalu, sepulang Bapak dari kota apa yang terjadi?” tanya Miyuki.

Bapak itu menarik napasnya berat, Miyuki dapat menebak jawaban apa yang akan terlontar dari mulut si Bapak.

“Saya turut berduka, ya, Pak.” Miyuki menundukkan kepalanya.

Sedetik kemudian Bapak itu tersenyum, senyumnya memedihkan hati Miyuki.

“Terima kasih,” ucap si Bapak.

Akhirnya pria tua itu meneguk habis sisa kopi hitamnya sebelum mulai lanjut berbicara, “Kedai kopi yang Bapak maksud adalah kedai kopi ini, harusnya tepat satu tahun lalu, saat pembukaan kedai ini, Suki duduk di sini bersama Bapak.”

“Andai saja, waktu itu Bapak lebih cepat mengumpulkan uang, andaikan waktu itu Bapak tidak meninggalkan Suki sendirian di rumah, pasti saat itu sangat sulit untuknya, andaikan Suki lebih awal cerita soal penyakitnya, andaikan saja….”

Miyuki mengusap tangan Bapak, tangan yang penuh kasih sayang untuk anaknya. Miyuki diam seribu bahasa, kalimat penenang darinya pasti tak akan dapat merubah kenyataan apapun.

Kemudian, Bapak izin menarik tangan Miyuki dan memakaikannya sebuah gelang kecil dengan permata buatan berwarna hijau tua yang menawan.

“Eh?” Miyuki setengah kaget.

“Terima kasih sudah mengajak bapak bicara, ini hadiah untuk putriku Suki, tapi kini bapak berikan untukmu. Terima kasih sudah muncul, Miyuki sangat mengingatkan bapak dengan Suki.”

Miyuki memeluk erat tubuh ringkih pria itu, mengusap punggungnya perlahan. Bukan hanya Bapak, Miyuki pun rindu sosok ayahnya. Sore itu ditutup bukan hanya oleh langit yang mendung dan hujan yang turun tanpa jeda, tapi oleh tangis yang pecah pelan dari dua hati yang terluka.

Leave a comment