Hits: 26

Evelin Margareta Purba

 

(Part 1)

“Ayahh…Ayah di mana?”

“Ibu di mana dirimu, aku membutuhkan pelukanmu.”

Beberapa hari lalu, di suatu sore, seorang anak berkelana di hutan sendirian, mencari kayu bakar untuk menerangi tempatnya berada. “Cepat kembali, kalau dalam waktu secepatnya kau tidak datang, aku akan menutup pintu rumah ini dan tidak akan membiarkanmu masuk,” perintah ibunya yang menusuk dalam ke telinganya.

Ayahnya merupakan seorang nelayan yang suka mencari ikan di malam hingga pagi hari. Kerjanya hanya tidur-tiduran saja di kasur sambil mendengkur dengan kuat. Kemarin setelah pulang dari aktivitas bekerjanya, dia minum alkohol seperti yang biasa ia lakukan sepulang bekerja.

Anak itu mencari-cari keberadaan kayu bakar itu, semakin menjauh dari rumah, menjauh, menjauh, dan semakin menjauh. Dia senang sekali bersenandung, padahal orang tuanya tidak suka bernyanyi di depannya, dia melalukan itu secara spontan, entah dari mana asalnya.

Tanpa sadar ia melewati tanda masuk ke rumahnya. Saat berjalan, dia tiba-tiba melihat seekor kelinci yang sangat berbulu lembut dan putih. Di saat dia mencoba untuk mendekati kelinci itu, kelinci itu malah menjauh darinya. Anak kecil itu mencoba untuk mengejarnya, tetapi dia malah semakin masuk ke dalam hutan.

Saat sedikit lagi dia menangkap kelinci itu, ternyata ada papan jebakan. Ia terjatuh dan tergelincir ke ruang bawah tanah yang gelap, dingin, penuh air, dan menakutkan. Ia mencoba untuk naik ke atas, tetapi dia tidak bisa melakukannya karena tidak ada yang bisa membantunya naik entah itu tangga, tali, ataupun hal lainnya.

Setelah malam hari dia merasa semakin dingin dan semakin menggigil. Nyawanya hampir menghilang dalam sekejap mata. Dia sembari berharap diiringi doa. Dia tidak mampu lagi berucap dengan mulutnya yang sudah sangat kering dan tubuh yang sangat pucat.

“AYO PEGANG TALI INI NAK!” ucap seorang lelaki dalam kegelapan.

Anak itu langsung mencoba berusaha membuka matanya dan meraih tali itu. Setelah sampai di atas, lelaki itu memberikan jubah bulu dombanya kepada anak itu untuk menghangatkan tubuhnya. Anak itu tidak sempat untuk melihat wajah lelaki itu karena dia langsung tertidur.

Sesampainya di rumah lelaki itu, dia membopong anak itu ke depan perapian dan menidurkannya di atas karpet yang sudah disiapkan bantal dan selimut. Di tangannya, terlihat tanda seperti bekas bakaran. Lelaki itu tinggal sendiri. Istri dan anaknya sudah lama meninggal karena dilahap api.

“Kau sudah bangun?” ucap pria itu di pagi hari melihat ke arah anak kecil itu.

“Mmm. Siapa kau? Apa kau seorang penjahat? Tolong jangan bunuh aku,” cuap anak lelaki itu dengan penuh ketakutan.

“Aku baru saja menyelamatkanmu tadi malam dan kau pikir aku akan langsung membunuhmu? Tidak dulu, aku akan tunggu sampai kau lebih berisi lalu memakan dagingmu itu,” ucap pria itu sambil sedikit tertawa.

“To-tolong ja-jangan, saya mohon. Saya perlu mencari kayu bakar untuk orang tua saya. Kalau saya tidak segera menemukannya, saya akan dikunci di luar dan tidak akan dibiarkan masuk,” ucap anak itu dengan nada ketakutan.

“Aku hanya bercanda anak kecil, ayo, biar ku antar kau mencari kayu bakar dan akan kutemani kau kembali ke rumah orang tuamu,” ucap pria itu sambil menyodorkan tangannya.

Anak itu pun menerima tangannya dan berdiri. Mereka berjalan ke arah hutan, mencoba untuk mencari kayu bakar dan menemukan papan tanda rumah anak kecil itu. Tanpa sadar, anak itu kembali bersenandung. Pria itu terhenti, ia berkata dalam hati

“Tidak mungkin, tidak mungkin dia anakku.”

(Part 2)

Flashback*

Sebelum menidurkan anaknya, dia dan istrinya sering sekali melantunkan lagu indah yang dia buat untuk anaknya. Lagu itu dia nyanyikan agar anaknya dapat tertidur pulas. Pria itu bahkan tidak punya ketertarikan sedikit pun dengan musik, tapi istrinya, istrinya yang baik hatinya dan lembut tutur katanya. Dia, dialah yang memaksa suaminya untuk membuatkan lagu spesial untuk anaknya.

“Ayolah sayang, buat lagu untuk anak kita, ku mohon,” pinta wanita itu.

“Aku bahkan tidak suka bernyanyi, sayang. Ayolah jangan paksa aku,” tolak pria itu.

“Lakukan sekali saja, jangan lakukan itu untuk aku, lakukan untuk anak kita. Entah kenapa aku merasa suatu hari nanti, lagu ini akan sangat berharga untukmu dan dia. Aku mohon sayang,” pinta wanita itu dengan menunjukkan mata puppy eyes-nya yang sudah pasti tidak akan ditolak oleh suaminya.

Hmpffh. Baiklah, baiklah aku akan coba. Untuk kalian berdua,” ucap pria itu.

Setelah kembali sadar, dia kaget karena tangannya terasa ada yang menggenggam. Tangan kecil, mungil dan hangat. Dia merasa anak kecil itu memanglah anaknya. Tapi dia bingung untuk mencari apa buktinya.

Di tengah perjalanan, dia teringat bahwa istrinya pernah bilang anaknya punya tanda lahir dipunggungnya seperti tanda bintang.

“Boleh aku melihat punggungmu sebentar?” tanya pria itu.

“Jangan tolong jangan!” teriak anak lelaki itu.

“Aku mohon hanya sebentar aku tidak akan menyentuhnya. Aku janji,” ucap pria itu.

Anak lelaki itu pun mulai luluh dan percaya pada pria itu. Saat dia membuka bajunya, pria itu terkejut melihat punggung anak itu yang penuh dengan tanda merah bekas pukulan, cambukkan, dan tali. Tapi dari semua itu dia melihat tanda bintang, tanda lahir anaknya. Pria itu memeluk kencang anak itu.

“Anakku, astaga. Kau anakku. Maafkan ayahmu nak, ayah lalai menjagamu. Ayah janji tidak akan melepaskanmu lagi,” ucap pria itu.

Ternyata anaknya, permata hatinya, masih hidup. Dari peristiwa kebakaran beberapa tahun lalu. Saat itu anaknya masih balita. Dia baru saja pulang dari berburu, namun setelah sampai dia  melihat rumahnya telah di lahap api. Dia mencoba untuk menerjang api itu dan melihat istrinya sedang memeluk sesuatu seperti seorang anak sudah terbakar. Dia mengira bahwa anaknya ada dipelukan wanita itu saat itu.

Ternyata orang tua jahat anak lelaki itu, mereka lah yang membakar rumah itu dan membawa anaknya. Setelah kejadian itu pria itu mendatangi rumah orang tua jahat dan membunuh mereka. Di sana tidak ada kantor polisi untuk menyusut kasus ini dan di sana masih berlaku hukum rimba. Akhirnya anak itu kembali ke pelukan ayahnya, yang telah lama kesepian. Dan ayahnya tidak akan membiarkan anaknya disakiti oleh siapa pun itu.

Leave a comment